Advertorial

KDM: Gerakan Poe Ibu Bukan Baru, Hanya Menghidupkan Kembali Tradisi Gotong Royong

Kompas.com - 10/10/2025, 16:34 WIB

KOMPAS.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, Gerakan Poe Ibu yang dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur bukanlah gerakan baru. Gerakan itu merupakan upaya untuk menguatkan kembali tradisi kepedulian sosial yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa Barat.

"Namun, beberapa masyarakat memahami kalau saya akan mengumpulkan uang satu orang seribu, tidak ada. Surat edaran itu dibuat sebagai imbauan untuk mengaktifkan kembali kepedulian sosial yang mulai menurun," ujar KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, Rabu (8/10/2025).

Menurut KDM, semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Jabar sudah lama tumbuh dalam berbagai bentuk, seperti jimpitan atau beras perelek serta Gasibu (Gerakan Sehari Seribu).

"Saya memosting ini dan banyak komentar positif. Ada yang bilang dari Tasikmalaya sudah lama melakukan gerakan ini, lalu di Garut dan lainnya. Artinya, tradisi ini terjaga dan terus berkembang. Saya hadir untuk mengapitalisasi itu agar terdigitalisasi, ada regulasi, ada transparansi, uang masuk berapa keluar berapa," tegasnya.

KDM menambahkan, dana hasil gerakan ini dapat digunakan langsung di tingkat RT/RW hingga kabupaten/kota untuk membantu kebutuhan sosial masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.

Selain itu, KDM mengatakan, anggaran untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan secara garis besar sudah dianggarkan dalam APBD Jabar. Namun, masih ada hal-hal lain yang belum terakomodasi di luar aspek formal. Hal itu dapat diatasi melalui gerakan sosial Poe Ibu.

Ia mencontohkan tempat pengaduan Bale Pananggeuhan di Gedung Sate yang menampung laporan masyarakat secara langsung. Dana operasionalnya bersumber dari gerakan sosial Poe Ibu yang diikuti para ASN.

"Penggunaan berdasarkan pengaduan masyarakat yang masuk melalui RT/RW hingga bupati/wali kota. Saya sendiri membuka pengaduan di Gedung Sate. Namanya Bale Pananggeuhan dengan anggaran berasal dari gerakan Sehari Seribu khusus dari para ASN. Pengaduan diterima juga oleh petugas yang juga berasal dari ASN," jelasnya.

Selain untuk menjangkau masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi digital, kanal aduan ini juga memperkuat sinergi dengan kanal resmi seperti SP4N Lapor dan Sapawarga. Dengan begitu, setiap laporan warga, baik dari desa maupun kota, dapat ditindaklanjuti secara cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.

"Jangan sampai warga mengadu di media sosial. Kalau itu terjadi, berarti pemerintahan tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, saya minta RT, RW, hingga bupati dan wali kota membuka ruang pengaduan agar pemerintah benar-benar hadir di tengah masyarakat," tegasnya.

Disambut positif

Gerakan sosial ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satunya datang dari Yayasan Amal Qoryatul Mobarokah di Kampung Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, yang telah menjalankan gerakan seribu sehari sejak 2023.

"Setiap Jumat, dua orang anggota yayasan berkeliling ke dua RW setempat untuk mengumpulkan kenclengan. Alhamdulillah, setiap minggu terkumpul sekitar Rp 2 juta," ujar pengurus yayasan, Ida.

Dana tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, mulai dari membeli lahan pemakaman umum, membantu panti jompo, membiayai anak sekolah, hingga menolong warga yang sakit.

"Kami juga membantu panti jompo, anak sekolah, sampai mengantar orang sakit ke rumah sakit. Semua dibayarin," tuturnya.

Ia mengatakan, gerakan yayasannya itu mampu menjadi perhatian RW lain yang juga ingin mencontoh. Bahkan, menurutnya perwakilan Kementerian Sosial sudah menemui yayasan untuk membantu kepastian legal formal yayasan yang kini menjadi andalan warga setempat.

"Adanya Gerakan Poe Ibu semakin menyemangati kami untuk terus bekerja tanpa pamrih membantu warga," tuturnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau