Advertorial

Perlu Penyempurnaan Tata Kelola, DPRD Surabaya Sampaikan Masukan terhadap Pelaksanaan Program MBG

Kompas.com - 11/10/2025, 10:19 WIB

KOMPAS.com – Program unggulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), mendapat perhatian khusus dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya.

Program yang dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) tersebut dinilai perlu penyempurnaan dalam tata kelola pelaksanaannya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni menyampaikan, program MBG memiliki tujuan mulia dalam membangun masa depan generasi muda Indonesia, khususnya di Surabaya.

Ia menegaskan, pelaksanaan program tersebut perlu terus dilanjutkan dengan perbaikan pada aspek teknis dan manajerial.

“MBG ini tidak sekadar memberikan makanan, tetapi membangun masa depan generasi muda. Karena itu, program ini harus diteruskan dengan tata kelola yang lebih baik,” ujar Fathoni lewat siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (11/10/2025).

Politikus Partai Golkar tersebut memberikan sejumlah rekomendasi terkait pelaksanaan program MBG. Ia menyoroti signifikansi aspek higienitas makanan, pemerataan distribusi, dan ketepatan sasaran agar terhindar dari kasus keracunan yang pernah terjadi di beberapa daerah.

Menurutnya, pelaksanaan program prioritas nasional ini harus dilakukan secara lintas sektoral dengan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota.

Fathoni mencontohkan, dinas kesehatan (dinkes) dapat diberi tanggung jawab dalam pemeriksaan higienitas dan kecukupan gizi makanan, sedangkan dinas lingkungan hidup (DLH) berperan dalam pengawasan pengelolaan limbah dapur MBG.

Selain itu, dinas pendidikan (dispendik) juga diminta untuk tidak hanya memberikan data peserta didik, tetapi turut mendampingi pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah.

Fathoni menilai, tenaga pendidik perlu mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) agar pelaksanaan program di lapangan berjalan optimal.

“Guru memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir anak-anak agar terbiasa mengonsumsi makanan bergizi. Karena itu, dispendik juga perlu memberikan pembinaan kepada guru melalui seminar atau sosialisasi tentang pentingnya gizi seimbang,” ujarnya.

Fathoni juga menyoroti sejumlah kendala teknis pada tahap awal pelaksanaan MBG di beberapa sekolah. Ia menilai, penyediaan menu yang seadanya serta penyaluran makanan selama masa pembelajaran daring pada Agustus lalu menunjukkan bahwa program ini perlu evaluasi menyeluruh.

“Tujuan filosofis MBG ini sangat mulia, yakni memperbaiki gizi anak-anak dan meningkatkan kualitas pertumbuhan mereka. Karena itu, pelaksanaan di lapangan harus benar-benar diperhatikan, termasuk kelengkapan dan kualitas menu,” tegasnya.

Selain aspek teknis, Fathoni juga menyoroti beban tambahan bagi para guru dalam pelaksanaan MBG. Ia menjelaskan, banyak guru mengeluhkan penambahan tugas kebersihan setelah jam istirahat akibat sisa makanan di kelas.

“Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi kerja keras mereka juga perlu mendapat apresiasi. Kami berharap, Pemerintah Kota Surabaya dapat mengalokasikan insentif bagi guru piket sebagai bentuk penghargaan,” imbuhnya.

Dorong kolaborasi dan pengawasan bersama

Fathoni optimistis, apabila dijalankan dengan baik, program MBG dapat memberikan multiplier effect yang positif, tidak hanya pada sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.

“Jika dapur produksi MBG berada di Surabaya, tentu akan membuka lapangan pekerjaan baru, mulai dari tenaga memasak hingga petugas kebersihan. Dampaknya, perekonomian masyarakat sekitar juga ikut tumbuh,” ujarnya.

Fathoni melanjutkan, keterlibatan aparat penegak hukum seperti TNI dan Polri diperlukan dalam melakukan pengawasan serta evaluasi berkala terhadap pelaksanaan MBG di sekolah ataupun dapur umum. Hal ini bertujuan untuk memastikan penyediaan makanan berjalan sesuai standar.

Fathoni pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mengawasi pelaksanaan program MBG agar tujuan utamanya, yakni menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, dapat terwujud.

“Mari bersama-sama mengawal dan memaksimalkan program ini demi masa depan bangsa yang lebih baik,” tuturnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau