JAKARTA, KOMPAS.com – Pameran dan forum ekonomi internasional Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 yang berlangsung di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/10/2025) sampai Minggu (12/10/2025), menyimpan banyak kisah inspiratif seputar ekonomi syariah.
Salah satunya adalah kisah dari lembaga pendidikan keagamaan, seperti pesantren, yang kini berfungsi sebagai pusat inkubasi bisnis yang efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal, selayaknya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pada umumnya.
PDM Coffee dari Pesantren Darul Mursyid dan unit usaha internal serta mitra dari Pondok Pesantren Nurul Hakim merupakan dua contoh keberhasilan tersebut.
Berlokasi di lereng Bukit Barisan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Pesantren Darul Mursyid berdiri sejak 1993. Selain terkenal unggul di bidang sains, pesantren ini juga menjadi pelopor pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren di wilayahnya.
Pesantren dengan sekitar 800 santri tersebut mengembangkan unit usaha kopi arabika di bawah label PDM Coffee sejak 2014 dengan membina rantai produksi dari hulu ke hilir.
PDM Coffee kini mampu memproduksi green bean specialty coffee sekitar 5 ton per bulan. Bahan baku diambil dari lahan pesantren seluas 50 hektare (ha) dan petani binaan seluas 300 ha.
Hingga kini, PDM Coffee telah menghasilkan berbagai varian specialty, seperti Natural Hydro Honey, Peaberry Coffee, Fruity Coffee, Natural Coffee, Honey Coffee, dan Wild Luwak Coffee, dengan target ekspor.
Pesantren juga berkolaborasi dengan 45 kelompok tani yang melibatkan sekitar 450 anggota di tiga kecamatan sekitar.
Wakil Direktur Bidang Pengembangan Usaha dan Bisnis Pesantren Darul Mursyid Riki Ardiansyah Putra Hasibuan menjelaskan bahwa produk PDM Coffee memiliki potensi ekspor yang tinggi, tapi bahan baku belum mencukupi.
Oleh karena itu, pesantren berkolaborasi dengan berbagai kelompok tani binaan dalam skema pembiayaan berbasis syariah. Mereka memberikan bibit dan pupuk kepada petani. Kemudian, pembayaran dicicil setelah panen dalam bentuk kopi hasil panen, bukan uang tunai.
Capaian PDM Coffee Pesantren Darul Mursyid tak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, terutama dengan Bank Indonesia (BI) sejak 2018.
Melalui Kantor Perwakilan BI Sibolga, pesantren mendapat dukungan mesin produksi, pembangunan rumah penjemuran, pelatihan, hingga fasilitasi pameran dan sertifikasi halal serta Standar Nasional Indonesia (SNI).
“BI mendorong kami tidak berhenti di bahan mentah, tapi naik ke produk jadi agar nilai tambahnya meningkat,” ucap Riki kepada Kompas.com, Rabu.
Riki menambahkan, PDM Coffee telah berpartisipasi dalam berbagai acara BI secara konsisten.
“Untuk ISEF, hampir setiap tahun. Acara Industri Kreatif Syariah (IKRA) juga kami dilibatkan," katanya.
Keikutsertaan di berbagai forum BI memberikan dampak nyata bagi ekspansi pasar produk kopi pesantren. Partisipasi di ISEF 2025 juga secara khusus menunjukkan hasil yang menggembirakan.
“Alhamdulillah, meningkat. Hari ini saja kami sudah dapat banyak pelanggan baru," ujar Riki.
Beragam produk olahan seperti Sambal Bawang Kering dan Tempe Krikil Pedas Manis dari Pesantren Nurul Hakim, Lombok, turut meramaikan ISEF 2025. Sementara itu, di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), berdiri Pondok Pesantren Nurul Hakim yang sudah berusia lebih dari tujuh dekade.
Pesantren yang menampung sekitar 5.000 santri tersebut memadukan pendidikan agama dan kemandirian ekonomi melalui berbagai unit usaha, dari pertanian hingga kuliner.
Dari pertanian, pesantren punya rumah produksi tempe dan greenhouse berbasis internet of things (IoT) untuk menanam cabai serta sayur-sayuran. Dari lumbung ini, lahir produk turunan, seperti Tempe Krikil Pedas Manis dan Sambal Bawang Kering.
“Produksi tempe harian kami sekitar 50–60 kg. Sebagian besar untuk kebutuhan pondok, sisanya diolah dan dijual,” kata perwakilan Pesantren Nurul Hakim Firdausi.
Selain itu, pesantren juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat sekitar yang memiliki produk usaha untuk ikut tumbuh bersama. Salah satunya adalah Lubayna’s Food yang menghadirkan produk seperti Sambal Canggih (Cabai Nagih), Sambal Teri Kacang Rasa Limau, Sambal Cumi, dan Kerupuk Kulit Sapi.
“Kami bantu memasarkan produk mitra melalui jaringan yang kami miliki,” ujarnya.
Keberhasilan Pondok Pesantren Nurul Hakim juga tak terlepas dari kerja sama dengan BI melalui Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) dan kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
BI membantu mendirikan rumah produksi tempe, mendampingi pengembangan usaha, hingga memperluas akses pemasaran.
“Pembinaannya bukan hanya modal, melainkan juga persiapan, produksi, sampai pengawasan,” tutur Firdausi.
Berkat inovasi dan konsistensinya, Nurul Hakim dinobatkan sebagai Juara 1 Kompetisi Kemandirian Ekonomi Pesantren Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2025 dan diundang tampil di ISEF 2025 sebagai contoh nyata ekonomi syariah berbasis pesantren.
Pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Catat transaksi Rp 3,1 triliun
Kisah sukses PDM Coffee dan Pondok Pesantren Nurul Hakim merupakan bagian kecil dari keberhasilan penguatan ekonomi syariah nasional yang dipamerkan di ISEF 2025.
Digelar secara tahunan sejak 2014, ISEF menjadi platform penting yang mempertemukan pelaku usaha, investor, dan pemangku kepentingan global.
Pada penutupan acara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengumumkan capaian selama lima hari penyelenggaraan ISEF 2025. Total nilai transaksi business matching pembiayaan, perdagangan, dan omzet penjualan mencapai Rp 3,1 triliun.
Angka ini melonjak lebih dari 50 persen dari nilai transaksi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2 triliun.
Capaian tersebut mencakup komitmen serta realisasi pembiayaan sebesar Rp 2,5 triliun, komitmen dan realisasi perdagangan Rp 143 miliar, serta omzet penjualan sebesar Rp 8,7 miliar.
Destry Damayanti menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan antusiasme dan kepercayaan yang tinggi dari berbagai sektor dan lembaga terhadap pengembangan ekosistem syariah di Indonesia.
ISEF 2025 sendiri melibatkan lebih dari 700 pelaku usaha syariah, termasuk UMKM, lembaga keuangan syariah, dan investor domestik maupun internasional. Kegiatan utamanya berfokus pada empat pilar, yakni “Sharia Business and Trade Forum”, “Sharia Finance and Investment Forum”, “Sharia Social and Education Movement”, dan “Art, Culture, and Halal Lifestyle Exhibition”.
Melihat capaian itu, Destry pun optimistis dengan perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air.
“Melalui sinergi lintas sektor dan inovasi berkelanjutan, mari jadikan Indonesia bukan hanya pasar, melainkan juga pusat gravitasi ekonomi syariah dunia,” ujarnya.
Destry juga mengajak semua pihak untuk menjaga semangat kolaborasi yang telah terbangun.
“Keberhasilan ISEF bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju ekonomi syariah Indonesia yang tangguh, berdaya saing, dan berkeadilan,” imbuhnya.
Peringkat ketiga ekonomi syariah dunia
Kesuksesan ISEF 2025 tidak terlepas dari komitmen yang dibangun sejak pembukaan acara. Sinergi dan kolaborasi menjadi kata kunci utama yang digaungkan oleh para pejabat negara dan lembaga.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report, Indonesia menempati peringkat ketiga, bersaing dengan Arab Saudi dan Malaysia sebagai tiga ekonomi syariah terbesar di dunia.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pembukaan ISEF 2025 menekankan capaian ini sebagai hasil kerja sama lintas sektor selama 12 tahun ISEF berjalan.
“Indonesia naik peringkat dalam ekosistem ekonomi syariah global, dari 10 besar menjadi peringkat ke-3,” tutur Perry.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menempatkan ekonomi syariah sebagai salah satu mesin dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Pemerintah, lanjutnya, melihat potensi besar di tiga sektor utama, yaitu modest fashion, pariwisata ramah muslim, serta farmasi dan kosmetika halal.
Airlangga pun menjabarkan skala pasar ekonomi syariah yang masif. Permintaan pakaian muslim mencapai sekitar 20 miliar dollar AS atau setara Rp 289 triliun.
Di industri makanan-minuman halal, Indonesia menjalankan kewajiban halal secara luas dengan nilai ekonomi, termasuk produksi dan value chain, sekitar 109 miliar dollar AS atau Rp 1.000 triliun.
“Jika kepatuhan syariah ini terus kita dorong, bukan mustahil kita naik ke peringkat pertama. Mudah-mudahan tahun depan Gubernur BI mendeklarasikan Indonesia nomor satu,” ujar Airlangga.
Apalagi, lanjutnya, strategi konkret telah dirumuskan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang menempatkan ekonomi syariah sebagai prioritas.
Strategi itu mencakup perluasan pasar keuangan syariah, pengoptimalan bullion bank, penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah, dan digitalisasi sistem halal.
Pemerintah juga telah memfasilitasi empat kawasan industri halal (KIH) di Cikarang, Jawa Barat; Serang, Banten; Bintan, Kepulauan Riau; dan Sidoarjo, Jawa Timur; serta telah berdiri Indonesia Islamic Financial Center (IIFC) sebagai sentral keuangan syariah nasional.