JAKARTA, KOMPAS.com – Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) yang merupakan bagian dari Danareksa menegaskan komitmen untuk memperkuat transparansi dan kredibilitas pasar komoditas berjangka nasional, khususnya mineral seperti timah.
Komitmen kedua belah pihak tersebut diumumkan pada sesi talks show di Booth JFX, Minerba Convex 2025, Jakarta International Convention Center, Jakarta, Rabu (15/10/2025), yang dihadiri 700 pengunjung.
Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya mengatakan, Minerba Convex 2025 merupakan ajang strategis karena mempertemukan pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan yang berfokus pada transparansi serta kredibilitas pasar komoditas berjangka nasional.
Melalui partisipasi di ajang tersebut, JFX memperluas sinergi dengan berbagai pelaku industri, termasuk perusahaan pertambangan.
JFX telah terlibat dalam perdagangan timah fisik di Indonesia sejak 2011 dan kini berkomitmen memodernisasi tata kelola perdagangan. Pada Minerba Convex 2025, JFX pun memaparkan rencana pengembangan kontrak berjangka untuk timah agar nilai dan harganya dapat menjadi acuan pasar yang kredibel.
“Produksi nasional yang besar memberi peluang bagi Indonesia untuk menjadi rujukan harga dunia. Inovasi kontrak berjangka diharapkan memberi nilai tambah bagi industri dan mempertegas peran JFX dalam pembentukan harga yang wajar,” jelas Kanca.
Perluas instrumen
Selain timah, JFX juga tengah menyiapkan perluasan perdagangan komoditas strategis lain. Salah satunya adalah nikel.
Prospek nikel, jelas Kanca, semakin terbuka seiring perkembangan industri kendaraan listrik dan peningkatan kebutuhan bahan baku baterai.
Kemudian, JFX juga akan merambah komoditas mineral, batu bara, energi, pertanian, serta logam mulia. Upaya ini menjadi bagian dari strategi memperkuat rantai nilai industri minerba Indonesia agar lebih kompetitif serta menjaga relevansi bursa terhadap dinamika pasar global.
Langkah tersebut juga sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong hilirisasi dan transparansi, sebagaimana tertuang dalam program Minerba One yang digagas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dalam program itu, Kementerian ESDM meluncurkan sistem Minerba One Data Indonesia (MODI) dan Minerba One Map Indonesia (MOMI) untuk memastikan setiap aktivitas pertambangan dapat ditelusuri, diawasi, dan dikelola secara transparan.
Seluruh anggota Bursa Timah JFX dan KBI pun telah melaporkan transaksi ke MODI sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan.
Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya (tengah) saat menandatangani perjanjian kerja sama. Keselarasan kebijakan pemerintah dan upaya pelaku pasar menjadi fondasi penting dalam memperkuat kepercayaan publik serta meningkatkan kualitas data pertambangan, baik di tingkat hulu maupun hilir.
Sejak 2019, JFX dan KBI mencatat volume perdagangan timah lebih dari 300.000 ton dengan nilai 8 miliar dollar AS.
Lebih dari 60 pelaku usaha aktif terlibat dalam ekosistem tersebut. Pada 2024, lebih dari 95 persen transaksi timah nasional, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, tercatat melalui JFX dan KBI.
Terapkan mekanisme kliring ketat
Direktur Utama KBI Budi Susanto menjelaskan, KBI dan JFX memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan serta kredibilitas transaksi di pasar komoditas berjangka. Kedua belah pihak merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.
“Jika JFX berperan di lini depan sebagai bursa tempat transaksi dilakukan, KBI bertanggung jawab di lini belakang melalui proses kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi agar berjalan sesuai standar dan ketentuan yang berlaku,” jelas Budi.
Ia menambahkan KBI juga memastikan setiap transaksi berlangsung aman, tertib, dan tepat waktu. Melalui mekanisme kliring yang ketat, penyelesaian seluruh transaksi yang terjadi di bursa dijamin sehingga kepercayaan pelaku pasar tetap terjaga.
KBI juga mengoperasikan Sistem Informasi Nasabah (SITNA) yang memberikan kepastian bahwa setiap transaksi benar-benar tercatat secara resmi di bursa.
“Kami menjaga ketenangan dan kredibilitas bursa agar nasabah yang bertransaksi di pasar berjangka ataupun pasar fisik merasa aman dan nyaman,” papar Budi.
Budi menjelaskan, KBI juga terus melakukan peningkatan sistem untuk memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik bagi nasabah serta memastikan seluruh proses berjalan lancar dan dapat diandalkan.
Selain penguatan sistem, KBI dan JFX juga giat menjalankan program literasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai perdagangan berjangka. Program literasi dilaksanakan secara berkelanjutan, baik melalui seminar di universitas maupun sosialisasi di berbagai daerah.
Budi menambahkan, kolaborasi KBI dan JFX diarahkan untuk menciptakan pasar yang efisien, transparan, dan stabil.
Ke depan, KBI berencana memperluas cakupan komoditas yang dapat diperdagangkan, baik di pasar berjangka maupun fisik, agar berkontribusi terhadap perekonomian nasional semakin besar.
“KBI berperan menjaga integritas keuangan melalui layanan kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi di seluruh ekosistem perdagangan berjangka. Bersama JFX, kami terus berinovasi menghadirkan sistem dan layanan digital yang andal, transparan, serta dapat dipercaya, khususnya di sektor minerba,” jelas Budi.
Perkuat tata kelola ekspor
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Ima Siti Fatimah menegaskan, perdagangan timah melalui JFX telah berkontribusi nyata dalam memperkuat tata kelola ekspor nasional.
Sistem perdagangan yang transparan dan terpantau mampu menekan praktik ilegal sekaligus meningkatkan penerimaan negara.
“Peran JFX dan KBI dalam memperkuat tata kelola perdagangan minerba merupakan bukti nyata kontribusi menuju transformasi pasar yang berdaya saing global. Bappebti mendukung penuh upaya tersebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem komoditas strategis Indonesia yang semakin terintegrasi,” kata Ima.
Pada kesempatan itu, Ima turut mendorong pelaku usaha melakukan aktivitas lindung nilai (hedging) di dalam negeri. Dengan demikian, stabilitas harga komoditas dapat terjaga serta pelaku terlindungi dari fluktuasi pasar.
“Upaya tersebut dapat diperkuat melalui keterlibatan liquidity provider, salah satunya lewat kerja sama JFX dengan Onyx Capital Group, yang diharapkan mampu meningkatkan likuiditas pasar dan daya saing perdagangan berjangka nasional,” tutur Ima.