Advertorial

Dedi Mulyadi: Adab Budaya Sunda Ciptakan Harmoni Sosial

Kompas.com - 21/10/2025, 19:28 WIB

KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menegaskan bahwa nilai-nilai adab dalam budaya Sunda merupakan dasar penting bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Hal itu disampaikan Dedi dalam Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian di Makara Art Center, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Selasa (21/10/2025).

Dedi mengatakan, dalam budaya Sunda terdapat empat adab, yakni adab kepada Tuhan, alam, orangtua, dan sesama manusia.

“Keempat nilai adab tersebut telah menjadi panduan hidup masyarakat Sunda dalam membangun harmoni sosial,” ujar Dedi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa.

Ia pun mencontohkan cara masyarakat Sunda yang telah terbiasa menghormati keberagaman budaya.

Ketika dirinya kanak-kanak, setiap Januari selalu turun hujan ngebul. Kala itu, warga Sunda menyebutnya 'ieu keur tahun baru China, ceunah'.

“Artinya, simbol-simbol kebudayaan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan bersama, bukan sumber perpecahan,” terang Dedi.

Ia menilai, berbagai bentuk konflik sosial yang terjadi selama ini tidak disebabkan oleh perbedaan agama atau budaya, tetapi kepentingan politik yang menunggangi simbol-simbol keagamaan dan identitas kelompok.

“Dalam sejarah bangsa Indonesia, seluruh daerah telah memahami pluralisme sejak lahir. Hal yang merusak justru ekspansi kekuasaan dan hegemoni ekonomi,” jelasnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk kembali meneguhkan nilai-nilai adab sebagai pedoman hidup.

"Saya berharap, orang tidak lagi menggunakan sisi-sisi sensitif untuk kepentingan politik jangka pendek karena itu merusak peradaban jangka panjang,” tegasnya.

Sebagai informasi, dialog tersebut digelar dalam rangka peringatan 15 tahun penerbitan buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian antara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Daisaku Ikeda (Presiden Soka Gakkai International).

Mengusung tema bertajuk “Aksi Nyata: Dari Dialog ke Kolaborasi”, dialog ini dihadiri kalangan akademisi, tokoh lintas agama, dan perwakilan masyarakat.

Seluruh peserta sepakat bahwa penguatan nilai adab dan etika lokal menjadi kunci dalam membangun bangsa yang toleran, berbudaya, dan berkeadaban.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau