KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Surabaya Arif Fathoni menyatakan ketertarikannya terhadap kegiatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahan perikanan di kawasan Morokrembangan.
Fathoni menjelaskan bahwa penelitian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan bahan pangan hingga penerapan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengukur kadar air pada lahan tambak.
Hasil penelitian itu rencananya diikutsertakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang akan diselenggarakan pada November 2025.
“Kami merasa bangga dan mendukung penuh upaya mahasiswa Unesa. Inovasi semacam ini dapat menjadi pemicu bagi peningkatan produktivitas lahan perikanan di seluruh wilayah Kota Surabaya,” ujar Fathoni dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/10/2025)
Fathoni juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, khususnya akses jalan menuju kawasan tambak milik warga.
Menurutnya, hal tersebut penting agar para petambak tidak mengalami kesulitan dalam mendistribusikan benih ataupun hasil panen.
“Pemkot memiliki banyak lahan tambak di kawasan timur Surabaya. Potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung program ketahanan pangan dengan melibatkan masyarakat sekitar,” kata Fathoni.
Lebih lanjut, Fathoni menilai bahwa keberadaan Koperasi Merah Putih (KMP) dapat dijadikan sebagai sarana strategis untuk menyalurkan hasil pertanian dan perikanan lokal.
Dalam kondisi kritis sekalipun, koperasi tersebut diharapkan mampu menjadi jalur distribusi pangan yang efektif bagi masyarakat Surabaya.
“Apabila Pemkot serius mengelola hal ini, saya yakin Surabaya dapat menjadi role model bagi pemerintah pusat dalam mendukung program prioritas nasional, khususnya di bidang ketahanan pangan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar Pemkot Surabaya berperan aktif dalam mengoptimalkan potensi lahan pertanian dan perikanan, terutama di wilayah Surabaya Timur.
Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi di Surabaya juga dianggap penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Ketahanan pangan tidak hanya sebatas menanam padi, tetapi juga mencakup diversifikasi sumber pangan lain, seperti urban farming dan penanaman tanaman lokal. Misalnya, semanggi yang tidak membutuhkan lahan luas,” jelas Fathoni.
Ia menambahkan, kawasan timur Surabaya yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perlu dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas hasil perikanan, baik udang maupun bandeng.