Advertorial

Mengabdi di Pedalaman Papua, Marthen Sattu Sambo Buktikan Makna Creative Minority UKSW

Kompas.com - 01/11/2025, 10:00 WIB

KOMPAS.com - Kisah penuh inspirasi dan dedikasi selalu memberi warna tersendiri di setiap momen wisuda.

Jejak pengabdian dan semangat juang yang ditempuh akhirnya menemukan makna serta momentum yang tepat untuk dipersembahkan dalam rasa bangga.

Begitu pula pada Wisuda Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Periode IV Tahun 2025 yang digelar di Balairung UKSW, Kamis (23/10/2025).

Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam prosesi itu adalah Marthen Sattu Sambom, SSi, MSiD.

Ia melangkah dengan penuh rasa syukur setelah resmi dikukuhkan sebagai lulusan Program Studi Magister Sains Data Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW dengan predikat dan pujian.

Bekerja sebagai Program Manager dan Data Scientist, Marthen dikenal sebagai figur inspiratif yang telah mengabdikan diri selama 15 tahun sebagai pengajar dan pegiat pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia, terutama di pedalaman Provinsi Papua Pegunungan.

Ia tergabung dalam organisasi Wahana Visi Indonesia (WVI), sebuah NGO yang berafiliasi dengan World Vision International dan aktif mendukung program pengembangan anak usia dini, literasi, numerasi, serta peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah di berbagai daerah.

Kini, Marthen menjabat sebagai National Education Manager di WVI. Melalui perannya, ia terus berkomitmen mengembangkan program pendidikan bagi anak-anak di pelosok negeri, terutama di wilayah binaan WVI, agar mereka memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan berkualitas.

Capaian membanggakan itu sekaligus menandai komitmen Marthen untuk terus berdampak melalui program mengajar, pendampingan, dan menyediakan ruang bagi anak-anak pedalaman mengenyam pendidikan serta menggapai mimpi-mimpi mereka. 

Terpanggil untuk mengabdi

Mahasiswa asal Desa Batutumonga, Kabupaten Toraja Utara itu mulanya tidak menempuh prodi pendidikan, melainkan lulus sebagai Sarjana Fisika FSM UKSW pada 2010.

“Saya masuk S1 Fisika tapi sekarang mengajar, mungkin tidak sertifikasi tapi itu yang harus diperhatikan, yakni setiap pilihan itu ada harganya,” ujar Marthen dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (30/10/2025).

Berawal dari keprihatinan terhadap keterbatasan akses pendidikan di tanah kelahirannya, Marthen memilih jalan menjadi seorang guru. Hal ini juga yang menjadi panggilan hati nuraninya.

Kala itu, dirinya menemukan anak-anak di keluarga yang mungkin tidak pernah terekspos dengan pendidikan dan informasi yang cukup tentang cara meraih mimpinya atau melihat dunia di luar kampungnya.

“Nilai itu yang saya bawa dengan cara mengajar, berbagi apa pun yang saya punya kepada anak-anak itu. Itulah kenapa saya memilih menjadi guru karena nilai itu bisa ditransfer,” tuturnya.

Memulai langkahnya sebagai pengajar di pedalaman Papua Pegunungan sejak 2010, Marthen senantiasa berpijak pada prinsip dan nilai-nilai kesetaraan dan kemanusiaan.

Marthen Sattu Sambom saat prosesi wisuda di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).Dok. UKSW Marthen Sattu Sambom saat prosesi wisuda di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Nilai itu adalah setiap anak terlahir dengan kemampuan dan potensi yang sama, maka kesempatan memperoleh pendidikan juga merupakan hak semua anak bangsa.

Berkat dedikasinya, ia berhasil menggaet sederet prestasi gemilang, di antaranya menjadi narasumber pada program Kick Andy Metro TV pada 2014 dan meraih penghargaan Best Performer Specialist Wahana Visi Indonesia pada 2020.

Keberanian memilih dan berdampak

Jerih payah tanpa kenal lelah telah dijalani Marthen demi menggapai impian anak-anak di pelosok negeri.

Meski tidak menempuh jalur pendidikan formal sebagai guru, ia meyakini bahwa setiap individu harus berani mengambil keputusan sendiri dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

“Bukanlah masalah ketika kita memiliki pilihan sendiri. Terpenting, kerjakan pilihan itu dengan maksimal, yakini, dan pegang teguh dalam hatimu,” terang Marthen.

Bagi Marthen, komitmen dan konsistensi terhadap pilihan hidup akan selalu memberi manfaat bagi orang lain di sekitar.

Ia berpesan agar setiap orang berani mengambil langkah, menggali potensi diri, dan menjadikan mimpi sebagai kompas untuk melangkah.

“Mimpi tak akan pernah mati. Ia justru menjadi penyesalan terbesar jika dibiarkan terlewati. Karena itu, kerjakanlah mimpimu hari ini,” ucapnya.

Melalui momen wisuda, UKSW menunjukkan dukungan nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas.

Selain itu, penyelenggaraan wisuda juga sejalan dengan Asta Cita Presiden, poin ke-4 yang menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW yang berdiri sejak 1956 kini menaungi 15 fakultas dan 64 program studi dari jenjang D3 hingga S3 dengan 32 prodi berstatus Unggul dan A.

Terletak di Salatiga, Jawa Tengah, kampus itu dikenal sebagai “Kampus Indonesia Mini” karena keragaman mahasiswanya yang datang dari berbagai daerah.

UKSW juga dikenal dengan semangat Creative Minority yang terus mendorong lahirnya agen-agen perubahan dan sumber inspirasi bagi masyarakat luas.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau