Advertorial

Suara Revolusi dari Timur, Ajoeba Wartabone dan Semangat Persatuan Indonesia

Kompas.com - 04/11/2025, 16:28 WIB

KOMPAS.com — Saat Republik Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, masa depan bangsa berada di situasi genting. Serangan militer Belanda, manuver diplomasi, dan strategi federalisme kolonial mengancam keutuhan negara.

Di tengah tekanan itu, suara dari daerah ikut menopang Republik. Dari Gorontalo, muncul Ajoeba Wartabone (1894–1957), pemimpin progresif yang menegaskan sikap anti pecah-belah di Indonesia Timur.

Kisah intelektual dan politik tersebut menjadi bahasan dalam diskusi buku “Suara dari Timur: Mengenang Ajoeba Wartabone dan Perjuangan Menuju Indonesia Bersatu” di rangkaian Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025.

Kegiatan tersebut mengajak publik menengok kontribusi daerah dalam pembentukan Indonesia modern, narasi yang jarang mendapat panggung nasional.

Biografi setebal 450 halaman terbitan Diomedia berjudul lengkap Ajoeba Wartabone (1894–1957). Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja. Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu menyajikan riset arsip dalam dan luar negeri.

Buku tersebut menelusuri jejak nasionalisme, pembangunan pendidikan, infrastruktur, kesehatan, hingga diplomasi lokal pada masa awal republik, sekaligus menempatkan Indonesia Timur dalam konteks sejarah yang kerap luput dari narasi pusat.

Ajoeba tercatat sebagai peserta Konferensi Denpasar, Desember 1946, forum yang digelar Belanda untuk menyusun sistem federal.

Buku Ajoeba Wartabone (1894?1957). Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja. Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia BersatuDok. Suara Revolusi dari Indonesia Timur Buku Ajoeba Wartabone (1894?1957). Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja. Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu

Kehadirannya menggambarkan sikap kritis terhadap upaya pecah-belah dan pentingnya menjaga kesatuan dari dalam struktur negara bagian.

Dalam Sidang Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) 1947 di Makassar, Ajoeba menyampaikan pernyataan ikonik, “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja.”

Ucapan itu menjadi simbol dukungan pada pemerintah Republik di Yogyakarta sekaligus penolakan terhadap federalisme bentukan kolonial.

Diskusi buku menghadirkan sejarawan Bali, Prof Dr Anak Agung Bagus Wirawan, SU; penulis buku, dosen, dan peneliti, Basri Amin, SSos, MA; serta peneliti partisipasi publik dari Inggris, Isabella Roberts, ACA, MSc. Sesi ini dipandu Maruschka Niode dengan moderator Amanda Katili.

Antropolog sekaligus Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia Prof Dr Meutia Farida Hatta Swasono menilai karya tersebut memperluas wawasan publik tentang kontribusi daerah dan pembangunan yang berkeadilan.

Biografi Ajoeba Wartabone bukan hanya merekam peristiwa sejara, melainkan juga memotret nilai, keberanian, dan keteguhan sikap yang menyalakan api persatuan pada masa awal republik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau