KOMPAS.com — Di era digital, perjalanan sering kali dimulai bukan di bandara, melainkan di layar ponsel. Cukup dengan menggulir laman media sosial, seseorang bisa terinspirasi untuk bepergian yang mengubah momen singkat di layar menjadi rencana perjalanan nyata.
Batas antara bermimpi dan beraksi pun kini semakin tipis. Perkara terkait liburan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk dicari dan dibandingkan, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Mulai dari menemukan akomodasi baru hingga menjelajahi destinasi wajib kunjung, bisa dilakukan hanya dengan beberapa kali ketukan jari.
Itulah realitas baru dalam pengambilan keputusan bepergian. Platform media sosial berevolusi dari sekadar sumber inspirasi menjadi alat yang mendorong tindakan nyata.
Bagi salah satu online travel agent (OTA) di Indonesia, tiket.com, evolusi tersebut bukan sekadar tren, melainkan peluang untuk mengantisipasi dan merespons perubahan perilaku konsumen.
Dengan memahami cara masyarakat menemukan, membagikan, dan menindaklanjuti konten perjalanan, tiket.com memastikan para traveler dapat berpindah dari inspirasi ke pemesanan secara mudah dan percaya diri.
Dalam beberapa tahun terakhir, konten yang digerakkan oleh kreator menjadikan media sosial sebagai pintu masuk utama ke dunia perjalanan.
Video singkat dan lokasi yang ditandai kini berfungsi layaknya buku panduan digital. Keduanya dapat memberikan ide instan tentang tempat yang ingin dikunjungi dan hal yang ingin dilakukan.
Dengan fitur yang memungkinkan kreator menandai points of interest (POI) dan menambahkan tautan pemesanan langsung, para traveler kini tidak hanya menyimpan inspirasi, tetapi juga dapat langsung bertindak, yakni berpindah dari penemuan ke reservasi dalam hitungan detik.
Melalui kolaborasi tersebut, para kreator dapat membagikan momen perjalanan autentik mereka, sementara penonton bisa langsung menjelajahi atau memesan apa yang mereka lihat.
Berdasarkan data internal tiket.com, berkat implementasi fitur POI di TikTok, pemesanan hotel melalui konten sosial meningkat hampir 2.000 persen dengan pertumbuhan rata-rata setiap bulan mencapai 55 persen pada periode Januari hingga September 2025,.
Tren kenaikan itu menunjukkan bahwa konten berbasis penemuan mampu memengaruhi keputusan perjalanan secara langsung dan mempercepat proses dari rasa ingin tahu menjadi transaksi nyata.
Integrasi mulus antara konten dan komersial tersebut menandakan pergeseran besar. Traveler kini tidak lagi sekadar bermimpi tentang destinasi, tetapi juga dapat langsung memesan saat menemukannya.
Sejalan dengan tren perilaku baru itu, tiket.com menempatkan diri sebagai jembatan antara eksplorasi digital dan pengalaman nyata.
Platform tersebut menghadirkan rekomendasi pilihan, penawaran yang dipersonalisasi, serta opsi pemesanan instan yang mengubah ide spontan menjadi rencana konkret.
Mulai dari liburan singkat ke Bandung, petualangan ke Tokyo, hingga wisata budaya di Yogyakarta, tiket.com membuat setiap perjalanan lebih mudah diwujudkan di satu tempat.
Pada saat yang sama, tiket.com turut mendukung destinasi serta bisnis lokal dengan membantu mereka lebih mudah ditemukan dan dipesan.
Vice President (VP) Global Partnerships tiket.com Kamal Kripalaney mengatakan, pihaknya percaya bahwa inspirasi tidak seharusnya berhenti di layar. Saat seseorang melihat destinasi yang memikat, mereka harus bisa langsung mewujudkannya.
“Peran kami adalah memastikan transisi dari penemuan ke pemesanan berlangsung semulus mungkin,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (5/11/2025).
Pendekatan yang berfokus pada pelanggan itu menjadi inti dari transformasi tiket.com. Lebih dari sekadar menghubungkan traveler dengan penerbangan, hotel, dan pengalaman, perusahaan berkomitmen menyederhanakan setiap titik perjalanan.
Kehadiran sejumlah fitur, seperti Flight Disruption Protection yang memberikan kompensasi instan untuk keterlambatan atau pembatalan penerbangan, serta Halo tiket berupa layanan pelanggan dengan bantuan real-time, dirancang untuk mengurangi hambatan dan membangun kepercayaan selama perjalanan.
Namun, hal yang benar-benar membedakan pendekatan tiket.com adalah pemahaman humanisnya. tiket.com menyadari bahwa perjalanan bukan hanya soal logistik, melainkan juga tentang hubungan emosional, seperti kegembiraan saat menemukan hal baru, rasa antusias sebelum berangkat, hingga kepuasan setelah menjelajah.
Semua momen itu ingin diperkuat tiket.com melalui kombinasi teknologi dan empati.
Kamal menjelaskan, seiring berkembangnya konten berbasis penemuan yang semakin mengaburkan batas antara inspirasi dan transaksi, lanskap perjalanan kini memasuki era baru. Setiap potongan konten bisa menjadi pemicu petualangan.
“Bagi tiket.com, ini bukan hanya perubahan cara orang merencanakan perjalanan, melainkan juga peluang untuk membawa traveler lebih dekat ke momen yang menggerakkan mereka,” tambahnya.
Dalam dunia yang semakin mengandalkan keputusan real-time, tiket.com berupaya tetap menjadi pendamping tepercaya.
Perusahaan juga berkomitmen untuk menjadi OTA dan platform gaya hidup yang paling dicintai pengguna, memahami ritme kehidupan digital, dan bergerak selaras dengan hal tersebut.
Dari scroll hingga lepas landas, tiket.com membantu traveler mengubah rasa ingin tahu menjadi tindakan, serta inspirasi menjadi perjalanan tidak terlupakan.
Pada akhirnya, tiket.com ingin mengubah setiap percikan rasa penasaran menjadi perjalanan penuh makna hanya dengan satu klik.