Advertorial

Hadapi Potensi Bencana, Wali Kota Bogor Ajak Semua Pihak Bersinergi Perkuat Mitigasi dan Respons Cepat

Kompas.com - 06/11/2025, 16:20 WIB

KOMPAS.com – Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, menyoroti jumlah bencana di Kota Bogor, Jawa Barat, yang mencapai 1.000 kejadian setiap tahun.

Oleh karena itu, langkah mitigasi, penanganan, dan penanggulangan bencana perlu melibatkan sinergi seluruh elemen bangsa, mulai dari TNI-Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga berbagai pemangku kepentingan lain.

Sinergi tersebut menjadi langkah penting agar tercipta respons cepat (quick response) terhadap setiap peristiwa bencana.

Hal itu disampaikan Dedie saat memimpin Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Mako Polresta Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Rabu (5/11/2025).

Apel tersebut digelar dalam rangka mengecek kesiapan personel serta sarana dan prasarana (sarpras) dalam menghadapi potensi bencana.

Delapan langkah strategis

Dedie menjelaskan, ada delapan pendekatan utama yang perlu diterapkan untuk memperkuat penanggulangan bencana. Berikut adalah rinciannya.

  1. Melakukan deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan bencana secara berkelanjutan.
  2. Menyampaikan informasi dan imbauan terkait kamtibmas serta potensi bencana.
  3. Memastikan kesiapan personel, sarpras, dan logistik.
  4. Melaksanakan simulasi tanggap darurat secara rutin sebagai sarana edukasi.
  5. Mengutamakan kecepatan dan ketepatan dalam respons darurat.
  6. Melaksanakan tugas kemanusiaan dengan penuh empati secara humanis dan profesional.
  7. Menjamin seluruh kegiatan penanggulangan bencana sesuai prosedur.
  8. Meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Dedie menjelaskan, BMKG telah mengingatkan bahwa puncak curah hujan akan terjadi pada November 2025 hingga Januari 2026. Kota Bogor sendiri sudah mengalami curah hujan di atas 135 mm.

“Hal ini menandakan adanya hujan ekstrem akibat pemanasan global. Perubahan cuaca ini berpotensi menimbulkan banjir lintasan, longsor, dan pohon tumbang,” ujar Dedie dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (6/11/2025).

Ia menekankan bahwa apel siaga itu menjadi momentum untuk memperkuat sinergitas dan kolaborasi lintas pihak dan sekaligus menjaga semangat gotong royong dalam mitigasi bencana.

Pemetaan wilayah rawan dan deteksi dini pohon tumbang

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa terdapat dua kecamatan yang tergolong paling rawan bencana di Kota Bogor, yaitu Bogor Selatan dan Bogor Barat. Oleh karena itu, kedua wilayah ini perlu memperkuat langkah mitigasi secara tepat dan berkelanjutan.

Dedie pun mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan turut menjaga kelestarian alam.

Terkait risiko pohon tumbang, ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan deteksi dini terhadap 2.100 pohon. Sebanyak 250 di antaranya teridentifikasi rawan tumbang dan 50 pohon memerlukan perhatian khusus.

“Masyarakat juga diimbau untuk tidak berteduh di bawah pohon saat terjadi hujan ekstrem,” tegas Dedie.

Peringatan BMKG

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, saat ini, Indonesia tengah memasuki periode peningkatan curah hujan menuju puncak musim hujan.

Fenomena La Niña lemah sedang berlangsung dan diprediksi bertahan hingga Maret 2026, meskipun dampaknya terhadap peningkatan curah hujan diperkirakan tidak terlalu signifikan.

“La Niña lemah akan bertahan hingga awal 2026. Dampaknya memang tidak besar, tetapi curah hujan tinggi pada periode tersebut tetap harus diwaspadai,” ujarnya.

Sebagai informasi, selama November hingga Desember 2025, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami curah hujan di atas normal, terutama di Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara.

Kombinasi faktor global dan regional, seperti La Niña lemah dan Dipole Mode negatif (-1,61), membuat atmosfer tetap labil dan mendorong pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah.

Akibatnya, potensi hujan lebat disertai angin kencang meningkat, terutama di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, NTB, dan Sulawesi Selatan.

BMKG memprediksi bahwa pada Februari hingga April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai mengalami curah hujan kategori menengah dan secara bertahap berangsur normal.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau