KOMPAS.com - Terik matahari memancar di sepanjang Jalan Diponegoro, Pati, Jawa Tengah (Jateng). Di antara lalu lalang kendaraan yang tiada henti, pria paruh baya tampak sibuk di tepi jalan.
Tangannya cekatan menyalakan kompresor angin dan membantu seorang pengendara motor yang ingin menambah tekanan bannya.
Tak lama berselang, ia beralih melayani pembeli bensin eceran yang datang membawa botol bekas air mineral. Wajahnya tampak teduh dan berkeringat, tapi menampilkan senyum ramah setiap kali melayani pelanggan.
Pria itu adalah Heru Prasetyo (65), warga Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Sehari-hari, ia menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai tukang tambal ban dan penjual bensin eceran di kawasan padat lalu lintas tersebut.
Usaha kecil yang ia jalani bertahun-tahun menjadi sumber utama untuk menghidupi empat anggota keluarganya.
Dalam sehari, penghasilannya tak lebih dari Rp 30.000. Semua tergantung dari seberapa banyak kendaraan yang mampir ke tempatnya.
Meski begitu, Heru tetap menjalani hari-hari dengan sabar dan penuh syukur, meski hidup dalam keterbatasan.
“Rezeki memang enggak selalu banyak, tetapi yang penting saya masih bisa kerja, bisa menafkahi keluarga, bisa makan, dan enggak ngerepotin orang lain,” ujar Heru.
Heru tinggal bersama istri dan dua anak yang masih menjadi tanggungannya. Istrinya mengurus rumah tangga, sedangkan Heru satu-satunya tulang punggung keluarga.
Meski hidup sederhana, ia mengaku tak pernah berhenti bersyukur. Terlebih, ia telah terdaftar sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang iurannya dibayar oleh pemerintah.
Ia merasa program itu tidak hanya membantu, tetapi menjadi penyelamat hidupnya dan keluarga.
"Tanpa JKN, saya tidak tahu harus bagaimana waktu sakit dulu. Saya ini orang kecil, mana mampu bayar rumah sakit. Untung ada JKN, jadi saya bisa berobat tanpa mikir biaya,” kata Heru.
Dua tahun lalu, Heru mengalami musibah besar. Ia terjatuh dan mengalami patah tulang rusuk. Kondisinya cukup parah hingga membuatnya harus menjalani perawatan intensif dalam waktu lama.
Ia tak mampu membayangkan nasibnya jika harus menanggung seluruh biaya pengobatan sendiri.
“Waktu itu saya cuma bisa pasrah. Alhamdulillah, semua biaya rumah sakit ditanggung JKN. Saya bisa sembuh tanpa keluar uang. Dokternya juga sabar sekali merawat saya,” tuturnya.
Selama dirawat, Heru tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Seluruh kebutuhan medis, obat, dan tindakan sudah dijamin penuh oleh Program JKN. Ia merasa seperti diselamatkan di saat tidak berdaya.
“Rasanya seperti mimpi, saya ini cuma tukang tambal ban, tetapi bisa dirawat sampai sembuh tanpa mikir biaya,” ucapnya,
Belum lama ini, ujian datang lagi. Pandangan matanya mulai kabur hingga dokter menyarankan operasi katarak.
Heru sempat cemas membayangkan biaya yang besar. Namun, kekhawatiran itu sirna setelah petugas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menjelaskan bahwa semuanya dijamin JKN.
“Waktu mendengar begitu, saya menjadi lega. Saya operasi tanpa bayar apa pun dan sekarang mata saya sudah terang lagi. Rasanya seperti dapat hidup baru,” katanya.
Bagi Heru, program JKN bukan hanya soal jaminan kesehatan gratis, melainkan bukti nyata bahwa negara hadir melindungi masyarakat kecil.
Ia sadar betul bahwa tanpa program JKN mungkin banyak warga sepertinya yang tak sanggup berobat saat sakit datang tiba-tiba.
“Sekali sakit biayanya besar. Akan tetapi, dengan JKN, kami jadi tenang. Ada jaminan kalau sakit terjadi dan kita tidak tau sakit apa yang akan kita alami," ujarnya.
Ia berharap, program tersebut dapat terus berjalan dan semakin baik di masa mendatang. Heru bahkan sering mengingatkan rekan-rekan sesama pekerja informal yang belum terdaftar agar menjadi peserta JKN.
“Program ini luar biasa. Saya selalu bilang ke teman-teman, kalau kita punya JKN, berarti kita punya pegangan hidup. Sakit itu pasti datang kapan pun dan di mana pun. Karena itu, kita harus punya jaminan kesehatan. Program JKN sudah membuktikan itu ke saya," imbuh Heru.