Advertorial

Desa Pemakuan Berdaya, Sinergi Kosabangsa Dorong Kemandirian Petani Sagu dan Pelaku Usaha Lokal

Kompas.com - 07/11/2025, 13:04 WIB

KOMPAS.com Program Kosabangsa kembali menghadirkan sinergi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan di Desa Pemakuan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Kegiatan tersebut digagas oleh tim pelaksana Universitas Sari Mulia (UNISM) yang diketuai oleh Nur Hidayah, MT, dengan anggota M Rizali, MT dan Yusri, SE, MM, serta didampingi oleh tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai oleh Ir Henik Sukorini, MP, PhD, IPM, bersama Prof Dr Ir Sutawi, MP dan Dr dr Sulistyo Mulyo Agustini, Sp, PK.

Program tersebut menyasar dua mitra utama, yakni Kelompok Tani dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Desa Pemakuan. Berbagai kegiatan dirancang untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan diversifikasi usaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal seperti pohon rumbia, tanaman rimpang, dan pengelolaan limbah menjadi produk bernilai tambah.

Percepatan panen rumbia untuk menjamin bahan baku sagu

Salah satu fokus utama program adalah peningkatan produktivitas pohon rumbia, yakni sumber utama bahan baku tepung sagu khas Pemakuan. Melalui kegiatan pendampingan, para petani dilatih untuk menerapkan teknik budidaya yang lebih efisien, yakni dengan menjaga setiap rumpun rumbia agar hanya memiliki tiga batang produktif.

“Dengan teknik ini, masa panen dapat dipangkas dari 10–15 tahun menjadi sekitar 8 tahun saja. Ini sangat berarti bagi keberlanjutan bahan baku sagu bagi industri kecil masyarakat,” jelas Ketua Tim Pelaksana UNISM Nur Hidayah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (6/11/2025).

Inovasi tersebut menjadi langkah penting agar industri tepung sagu di Pemakuan tidak lagi terkendala ketersediaan bahan baku, sekaligus menjaga keseimbangan ekologi hutan rawa di sekitar desa.

Diversifikasi melalui budidaya rimpang herbal

Selain rumbia, tim Kosabangsa juga memperkenalkan budidaya tanaman rimpang seperti jahe, kunyit, temulawak, serai, dan laos. Anggota kelompok tani dibimbing untuk memahami teknik penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dengan cara ramah lingkungan.

“Tujuan kami adalah agar petani tidak hanya bergantung pada sagu, tetapi juga memiliki sumber pendapatan alternatif yang dapat dipanen lebih cepat,” ujar salah satu anggota tim pelaksana M Rizali.

Program tersebut sekaligus membuka peluang hilirisasi produk pertanian berbasis rimpang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang stabil.

Pelaku usaha lokal ciptakan produk herbal siap minum

Dalam kegiatan ini, istri dan pasangan petani turut dilibatkan melalui pelatihan pembuatan minuman herbal siap seduh berbahan dasar jahe, temulawak, kunyit, serai, serta bunga rosella. Produk ini dikemas secara higienis dalam bentuk kantong seduh siap minum, menciptakan peluang usaha baru di rumah tangga petani.

“Kami sangat bangga melihat antusiasme ibu-ibu desa. Mereka tidak hanya belajar membuat minuman herbal, tapi juga memahami cara pengemasan yang menarik dan tahan lama,” tutur anggota tim pelaksana Yusri.

Salah satu peserta, Helda, mengungkapkan kebahagiaannya setelah mengikuti pelatihan.

“Dulu kami hanya menanam jahe untuk dipakai sendiri. Sekarang, kami bisa menjual minuman herbal kemasan di pasar desa dan secara daring,” ujarnya dengan senyum bangga.

Dari limbah jadi berkah

Pendampingan juga menyentuh aspek pengelolaan limbah pertanian. Petani diajarkan membuat pupuk organik dari limbah buah dan sayur yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Pupuk ini digunakan untuk tanaman rimpang, sekaligus bisa dijual kepada petani lain.
Selain itu, limbah padat sisa produksi tepung sagu yang oleh warga disebut “paya”, kini diolah menjadi pelet pakan unggas.

Berbagai kegiatan dalam program Kosabangsa dirancang untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan diversifikasi usaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal.Dok UNISM Berbagai kegiatan dalam program Kosabangsa dirancang untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan diversifikasi usaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal.

“Kami ingin limbah tidak lagi dibuang, tapi dimanfaatkan agar menghasilkan nilai ekonomi baru,” ujar Ketua Tim Pendamping UMM Henik Sukorini.

Menurut Henik, kegiatan ini mengajarkan konsep ekonomi sirkular desa. Adapun setiap hasil samping dari produksi bisa menjadi bahan baku untuk kegiatan lain.

Dukungan teknologi bagi kelompok usaha bersama

Untuk memperkuat kapasitas produksi, program Kosabangsa juga menyalurkan dua unit mesin produksi kepada tiga mitra pengolah tepung sagu basah di Desa Pemakuan.

Sementara itu, bagi kelompok usaha yang belum memiliki pabrik, difasilitasi mesin penimbang otomatis dan mesin sealer untuk mengemas tepung sagu kering dalam ukuran 1 kilogram dan 500 gram, lengkap dengan identitas produksi “Desa Pemakuan”.

“Selama ini, tepung sagu kami dijual dalam bentuk basah kepada tengkulak tanpa label asal. Sekarang kami punya merek sendiri dan bisa menjual langsung ke pasar,” ungkap salah satu anggota Kelompok Usaha Bersama Ahmad Syarkani.

Penguatan produk olahan tradisional

Selain pengolahan sagu, dua mitra kuliner lokal pembuat bubur gunting dan bubur randang mendapatkan pelatihan pengemasan modern agar produk mereka lebih tahan lama dan siap dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.

Langkah tersebut diharapkan menjadikan kuliner khas Desa Pemakuan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga menjadi oleh-oleh unggulan Kalimantan Selatan.

Kolaborasi ilmu dan kemandirian

Program Kosabangsa sendiri merupakan inisiatif nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menghubungkan keilmuan kampus dengan pemberdayaan masyarakat secara langsung.

“Program ini menjadi ruang kolaborasi lintas universitas untuk menghadirkan solusi nyata di lapangan,” ujar anggota tim pendamping Sutawi.

Adapun kekuatan program, lanjutnya, terletak pada keberlanjutan, bukan sekadar proyek, melainkan pembentukan ekosistem ekonomi baru di desa.

Sementara itu, Sulistyo Mulyo Agustini menambahkan bahwa pendekatan Kosabangsa di Desa Pemakuan merupakan contoh ideal sinergi antara bidang pertanian, teknologi, dan kesehatan masyarakat, karena hasilnya bukan hanya ekonomi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan dan gaya hidup sehat melalui produk herbal.

Menuju desa mandiri dan berdaya saing

Kini, hasil kegiatan Kosabangsa mulai tampak. Produk tepung sagu kering dengan label “Desa Pemakuan” sudah dipasarkan secara lokal, minuman herbal siap seduh mulai diperkenalkan di toko-toko sekitar, dan petani rumbia telah menerapkan pola tanam produktif baru.

“Desa Pemakuan punya potensi besar. Kami hanya membantu mereka menemukan cara agar potensi itu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi,” kata Nur Hidayah.

Dengan semangat Sinergi Kampus dan Bangsa, Desa Pemakuan kini menapaki jalan baru menuju kemandirian ekonomi berbasis sumber daya lokal, menjadikan sagu, rimpang, dan inovasi masyarakatnya sebagai simbol kebangkitan ekonomi desa di tepian Sungai Barito.

Testimoni pembeli produk herbal juga menunjukkan respons positif terhadap inovasi yang dikembangkan.

Salah satu pembeli asal Banjarbaru, Siti Rahmah, menyampaikan bahwa minuman herbal produksi Desa Pemakuan memiliki cita rasa khas dan kemasan yang menarik.

“Minuman herbalnya enak, praktis diseduh, dan tampilannya modern. Saya membeli untuk stok di rumah dan juga untuk hadiah kepada teman,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa produk herbal Desa Pemakuan mulai diterima oleh pasar luar desa dan memiliki potensi untuk menembus pasar yang lebih luas.

Selain itu, dua produk kuliner khas Desa Pemakuan juga mengalami peningkatan nilai jual berkat inovasi kemasan yang diperkenalkan melalui Program Kosabangsa. Produk bubur gunting kini memiliki merek dagang baru BUNTING (Bubur Gunting), sedangkan bubur randang dikembangkan dengan merek BURAYO (Bubur Randang Ayo).

Kemasan baru yang lebih modern dan menarik berhasil meningkatkan omzet kelompok usaha bersama Selera Bersama secara signifikan.

“Dulu kami menjual bubur gunting dan bubur randang dalam kemasan sederhana. Sekarang, dengan desain kemasan baru dan merek yang mudah diingat, penjualan kami meningkat hampir dua kali lipat,” ujar salah satu anggota kelompok Marni.

Sebagai bentuk apresiasi, tim pelaksana menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan hibah Kosabangsa 2025 yang diberikan kepada Universitas Sari Mulia dan Universitas Muhammadiyah Malang. Dukungan tersebut memungkinkan terlaksananya berbagai inovasi pemberdayaan yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Desa Pemakuan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau