KOMPAS.com – Peringatan Hari Pahlawan 2025 setiap 10 November menjadi momentum untuk menengok sosok-sosok yang berjuang di luar medan perang, termasuk mereka yang mengharumkan nama bangsa lewat kerja keras di negeri orang.
Bagi Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla, Pekerja Migran Indonesia (PMI) layak disebut “pahlawan devisa”. Pasalnya, peran mereka tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga memperkuat citra dan martabat Indonesia di dunia kerja global.
“Julukan pahlawan devisa bukan simbolik. Ia lahir dari tetes keringat, ketangguhan, dan semangat juang PMI di negeri orang,” ujar Dzulfikar dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, mobilitas PMI mencerminkan daya juang sosial masyarakat. Banyak masyarakat yang berangkat dari desa kecil dengan tekad memperbaiki nasib.
“Kerja keras dan kedisiplinan mereka mengubah hidup keluarga dan bermanfaat bagi bangsa,” ujarnya.
Kontribusi ekonomi meningkat
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pengiriman uang dan nilai ekonomi lain dari PMI ke keluarga mereka mencapai 15,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 253,77 triliun pada 2024. Angka ini naik dari 10,99 miliar dollar AS pada 2023.
“Aliran ini langsung menyentuh lebih dari tiga juta rumah tangga untuk kebutuhan hidup, pendidikan, rumah, hingga usaha kecil. Secara makro mampu memperkuat cadangan devisa dan membantu stabilitas rupiah,” katanya.
Ia menambahkan, aktivitas remitansi yang dilakukan PMI juga ikut menggerakkan ekonomi lokal. Desa yang dulu tertinggal, kini perlahan tumbuh. Ini terlihat dari bermunculannya toko-toko, perbaikan rumah, hingga akses pendidikan membaik.
Dzulfikar mencontohkan mantan PMI asal Karawang, Jawa Barat, Santi, yang pulang dan membangun usaha setelah 10 tahun bekerja di luar negeri.
“Dengan perencanaan matang, hasil kerja keras dapat berubah menjadi modal produktif berkelanjutan,” katanya.
Kementerian P2MI mencatat, saat ini terdapat 3,6 juta PMI aktif di berbagai negara. Negara yang menjadi tujuan utama mereka meliputi Malaysia (42 persen), Taiwan (14 persen), Hong Kong (12 persen), Arab Saudi (10 persen), dan Singapura (8 persen).
“Pengirim (PMI) terbanyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” ujar Dzulfikar.
Di balik capaian ekonomi tersebut, Dzulfikar mengakui masih ada sisi rentan. Menurutnya, PMI yang pergi meninggalkan keluarga kerap menghadapi perbedaan bahasa dan budaya serta risiko kerja tinggi.
“Ada pula yang mengalami pelanggaran hak,” ucapnya.
Dzulfikar menyinggung kasus PMI asal Semarang yang tertipu calo, jatuh sakit, dan sempat hilang kontak. Oleh karena itu, ia ingin agar upaya perlindungan terhadap PMI semakin ditingkatkan.
“Penghormatan sejati berarti pelindungan kuat, bukan sekadar kata-kata. PMI harus aman, diperlakukan adil, dan pulang bermartabat,” kata Dzulfikar.
Transformasi kebijakan
Dzulfikar menjelaskan, pemerintah melalui Kemen-P2MI berupaya memperkuat pelindungan bagi PMI secara menyeluruh, mulai dari pelatihan pra-penempatan, peningkatan kompetensi, pendampingan hukum, hingga reintegrasi sosial-ekonomi.
“Kami mendorong agar PMI sejahtera di luar negeri dan mandiri saat kembali,” ujarnya.
Ia mencontohkan mantan PMI asal Sleman, Yogyakarta, Bambang Sutrisno, yang mendirikan usaha kulit lumpia dan dimsum bernama Jempol Food. Pengalaman globalnya menjadi modal sosial membangun untuk usaha dan membuka lapangan kerja.
“Kisah Bambang menunjukkan bahwa jika dikelola benar, migrasi kerja bisa melahirkan wirausahawan baru dan membuka lapangan kerja,” kata Dzulfikar.
Ia mengatakan, kebijakan digitalisasi One Channel System dan program Desa Migran Produktif mampu menurunkan penempatan ilegal hingga 32 persen dalam tiga tahun terakhir dan lebih dari 50.000 purna-PMI telah mengikuti program reintegrasi ekonomi.
“Keberhasilan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, masyarakat juga harus menghargai profesi PMI sebagai pekerjaan bermartabat,” ucapnya.
Dzulfikar menegaskan bahwa dalam visi besar Presiden Prabowo Subianto, arah pembangunan nasional kini menempatkan Indonesia sebagai poros baru ekonomi dunia berbasis tenaga kerja terampil.
“Presiden Prabowo memberi perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kami ingin pekerja Indonesia bukan hanya pencari kerja, melainkan pencipta nilai tambah di sektor global,” katanya.
Sejalan dengan visi tersebut, imbuhnya, Kemen-P2MI terus bertransformasi memperkuat kompetensi, jejaring internasional, dan pelindungan bagi pekerja migran.
Lima program strategis
Untuk menyiapkan SDM unggul, terampil, dan berdaya saing global, Kemen-P2MI meluncurkan lima program strategis.
Pertama, program Desa Migran Emas yang menjadikan desa sebagai pusat edukasi, pelindungan, dan pemberdayaan bagi calon serta pekerja migran melalui kolaborasi lintas sektor.
Kedua, Migrant Centre Berbasis Perguruan Tinggi. Lembaga ini hadir di kampus-kampus sebagai pusat pelatihan, sertifikasi, serta informasi kerja luar negeri yang menghubungkan dunia pendidikan dan industri global.
Ketiga, Sekolah Vokasi Migran disiapkan untuk melatih calon pekerja migran profesional dengan keterampilan teknis, bahasa asing, dan etos kerja internasional.
Keempat, mendirikan Sekolah Rakyat dengan Kurikulum Plus untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah sebagai bekal kesadaran migrasi aman, keterampilan hidup, dan bahasa asing sejak dini.
Kelima, SMK Go Global. Program ini menjadi wadah peningkatan kapasitas siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) agar siap bersaing di pasar kerja dunia melalui pelatihan berstandar industri internasional.
“Kelima program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan strategi sistemis yang mengubah paradigma migrasi dari berbasis kebutuhan menjadi berbasis kompetensi dan kebanggaan nasional,” tegasnya.
Menjadi Superhero Indonesia di panggung dunia
Dzulfikar mengajak publik melihat PMI tidak hanya sebagai penyumbang devisa, tetapi juga figur keteladanan yang membawa semangat kerja keras, disiplin, dan keteladanan di mana pun mereka berada.
“Pengalaman luar negeri membawa pulang penghasilan, keterampilan, pengetahuan, dan jejaring global. Jika dikelola baik, PMI menjadi jembatan ekonomi-budaya yang memperkuat posisi Indonesia di dunia,” katanya.
Pemerintah, lanjutnya, mendorong migrasi berbasis kompetensi dan karakter unggul. Melalui pelatihan berstandar internasional, sertifikasi keterampilan, dan kerja sama antarnegara, PMI kini diharapkan tampil sebagai superhero modern.
“Pahlawan yang tak hanya mengirim devisa, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi lebih tinggi,” ungkapnya.
Dzulfikar melanjutkan, PMI adalah cerminan ketekunan, keberanian, dan harapan yang tidak pernah padam. Mereka bukan sekadar pencari nafkah, melainkan penjaga denyut ekonomi dan martabat bangsa.
“Menyebut mereka sebagai pahlawan devisa bukanlah basa-basi, melainkan penghormatan atas jasa dan cinta mereka kepada Tanah Air,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menempatkan PMI pada posisi terhormat. Dengan pelindungan kuat, kesempatan berkembang, dan penghargaan nyata, mereka menjadi bagian penting strategi Indonesia menuju poros ekonomi dunia.
Sebab, imbuhnya, di balik setiap pengiriman devisa, ada kisah keberanian luar biasa. Kisah para superhero Indonesia yang bekerja di tanah seberang demi masa depan yang lebih baik.