Advertorial

Eco Heroes Day Jadi Kolaborasi untuk Bumi Lestari, Wali Kota Bogor Dukung Keberlanjutan Lingkungan

Kompas.com - 15/11/2025, 20:29 WIB

KOMPAS.com — Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, menyampaikan pentingnya beralih menuju energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Hal itu disampaikan saat menghadiri Eco Heroes Day: Kolaborasi untuk Bumi Lestari dalam rangka memperingati satu dekade Tribunnews Bogor yang dilaksanakan di Ballroom Gedung Tribunnews Bogor, Jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jumat (14/11/2025).

Dedie Rachim menuturkan, keberadaan EBT penting karena menyangkut keberlanjutan lingkungan bumi yang lestari untuk generasi mendatang.

Berdasarkan data yang diperoleh saat bertemu Deputi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dedie Rachim menyampaikan bahwa setiap hujan yang turun sering dianggap sebagai cuaca ekstrem. Kondisi itu berkaitan dengan intensitas hujan yang berada di atas 130 milimeter.

“Sekarang hujannya tidak lama. Hanya satu kali tapi semua berantakan, pohon tumbang, banjir lintasan, tanah longsor dan sebagainya. Ini sudah terkonfirmasi bahwa yang sedang kita hadapi adalah perubahan iklim yang nantinya akan berakibat pada generasi muda kedepan,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (15/11/2025).

Kondisi itu diperparah dengan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan dan penggunaan energi yang tidak terbarukan.

Seperti halnya fasilitas listrik yang dinikmati selama 24 jam, AC yang dingin, lampu yang terang benderang, serta berbagai alat elektronik yang sumber listriknya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang prosesnya melalui pembakaran batu bara dengan jumlah 32.000 ton untuk menghasilkan 320 megawatt atau setara dengan tujuh kapal batu bara.

“Dan setiap satu ton batu bara yang dibakar itu juga menghasilkan emisi gas karbon. Jadi, kalau tidak ada EBT yang bisa dimanfaatkan, tentu situasi dan kondisi tidak akan berubah. Ini tantangan bagaimana ke depan kita harus mulai memikirkan EBT,” ucapnya.

Untuk menuju EBT, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui berbagai pertemuan dengan Kementerian Lingkungan Hidup akan membangun pengolahan sampah tenaga listrik untuk mendukung Indonesia bersih dari sampah pada 2029.

Pemkot Bogor juga sudah bertemu dengan Pertamina NRE Indonesia yang akan membangun plant bersama Danantara di TPA Galuga. Nantinya, PT PLN akan berperan sebagai off taker.

“Insyaallah sekarang sudah ada cahaya dari ufuk. Mudah-mudahan ini menjadi kolaborasi sinergis kita untuk bisa menyelesaikan persoalan 15 sampai 50 tahun ke depan. Jadi harapan itu sudah ada, dan bagaimana kota dan kabupaten berkolaborasi karena lahannya sama. Kita harus bisa menyukseskan Indonesia bersih dari sampah pada 2029,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dedie Rachim, juga menerima penghargaan atas kepedulian terhadap lingkungan.

Pimpinan Redaksi Tribunnews Bogor Yulis Sulistyawan menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Bogor dan pihak swasta yang telah berkolaborasi selama 10 tahun.

Memasuki usia satu dekade, Tribunnews Bogor juga memberikan penghargaan kepada para penggiat lingkungan sebagai pahlawan yang bekerja dalam senyap, menjaga, dan melestarikan lingkungan, mulai dari memilah sampah, mengolah sampah, membersihkan sungai, situ, saluran air, dan sebagainya.

“Ini adalah para pahlawan yang bekerja dalam senyap, yang konsisten menjaga dan membersihkan lingkungannya,” ujarnya.

Apresiasi tersebut merupakan bentuk kepedulian Tribunnews Bogor bahwa apapun yang dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan akan berdampak besar bagi masyarakat luas.

Acara tersebut turut dihadiri Guru Besar Teknik Lingkungan IPB University Prof Arief Sabdo Yuwono yang menyampaikan materi tentang pengelolaan lingkungan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau