Advertorial

Cara PNM Kuatkan Pelaku UMKM, dari Klasterisasi hingga PKU

Kompas.com - 25/11/2025, 17:15 WIB

KOMPAS.com – Pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Tanah Air masih dihadapkan dengan persoalan klasik. Meski akses permodalan tersedia, kemampuan pengusaha untuk mengelola bisnis dan memperluas pasar masih terbatas.

Pola tersebut mulai berubah ketika PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjalankan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas. Melalui strategi klasterisasi, PNM membangun ekosistem usaha di tingkat akar rumput dan berhasil membentuk 1.024 klaster di seluruh Indonesia.

Klasterisasi menaungi berbagai sektor, mulai dari olahan makanan, kriya, pertanian, hingga jasa dan perdagangan.

Adapun inisiatif tersebut merupakan bagian dari program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU), yaitu pendampingan berkelanjutan melalui pelatihan literasi keuangan, manajemen usaha, pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, dan fasilitasi perizinan.

Lewat program PKU, pembiayaan dari PNM tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi diwujudkan dalam peningkatan keterampilan usaha para nasabah.

Sekretaris Perusahaan PNM Dodot Patria Ary mengatakan, tujuan utama klasterisasi usaha tidak terbatas soal bisnis. Dengan klasterisasi usaha, PNM memastikan bahwa pihaknya benar-benar hadir dan membantu nasabah berkembang secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Hal paling membahagiakan bagi kami adalah melihat para nasabah tumbuh dengan percaya diri, mulai dari berani memasarkan produk, menerima pesanan lebih besar, sampai mampu membantu ekonomi keluarga,” ujar Dodot dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (25/11/2025).

Dodot melanjutkan, ketika mereka merasa didampingi dan tidak berjalan sendiri, usaha mereka tak hanya maju, tetapi hidup.

“Di situlah dampak pemberdayaan yang ingin kami hadirkan,” kata Dodot.

Dampak klasterisasi pun dirasakan langsung oleh para pengusaha. Salah satunya adalah Devita Wijayanti, nasabah PNM di Magelang, Jawa Tengah.

“Setelah pembinaan PNM, usaha lumpia saya berkembang pesat. Sekarang, saya bisa kirim ke luar daerah dan jualan lewat media sosial,” tutur Devita.

Ia kini mampu mencatat omzet Rp 4-5 juta per bulan. Angka ini meningkat dari sebelumnya Rp 1 juta–2 juta setelah mengaplikasikan ilmu untuk menunjang produksi yang didapat selama pembinaan.

Kisah Devita menunjukkan bahwa klasterisasi tidak hanya memperkuat usaha, tetapi membantu perempuan menjadi berdaya secara ekonomi.

Di banyak daerah, klasterisasi juga berkembang menjadi sentra ekonomi lokal dan mitra industri serta menciptakan multiplier effect bagi komunitas.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau