KOMPAS.com – Pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Tanah Air masih dihadapkan dengan persoalan klasik. Meski akses permodalan tersedia, kemampuan pengusaha untuk mengelola bisnis dan memperluas pasar masih terbatas.
Pola tersebut mulai berubah ketika PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjalankan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas. Melalui strategi klasterisasi, PNM membangun ekosistem usaha di tingkat akar rumput dan berhasil membentuk 1.024 klaster di seluruh Indonesia.
Klasterisasi menaungi berbagai sektor, mulai dari olahan makanan, kriya, pertanian, hingga jasa dan perdagangan.
Adapun inisiatif tersebut merupakan bagian dari program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU), yaitu pendampingan berkelanjutan melalui pelatihan literasi keuangan, manajemen usaha, pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, dan fasilitasi perizinan.
Lewat program PKU, pembiayaan dari PNM tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi diwujudkan dalam peningkatan keterampilan usaha para nasabah.
Sekretaris Perusahaan PNM Dodot Patria Ary mengatakan, tujuan utama klasterisasi usaha tidak terbatas soal bisnis. Dengan klasterisasi usaha, PNM memastikan bahwa pihaknya benar-benar hadir dan membantu nasabah berkembang secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Hal paling membahagiakan bagi kami adalah melihat para nasabah tumbuh dengan percaya diri, mulai dari berani memasarkan produk, menerima pesanan lebih besar, sampai mampu membantu ekonomi keluarga,” ujar Dodot dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (25/11/2025).
Dodot melanjutkan, ketika mereka merasa didampingi dan tidak berjalan sendiri, usaha mereka tak hanya maju, tetapi hidup.
“Di situlah dampak pemberdayaan yang ingin kami hadirkan,” kata Dodot.
Dampak klasterisasi pun dirasakan langsung oleh para pengusaha. Salah satunya adalah Devita Wijayanti, nasabah PNM di Magelang, Jawa Tengah.
“Setelah pembinaan PNM, usaha lumpia saya berkembang pesat. Sekarang, saya bisa kirim ke luar daerah dan jualan lewat media sosial,” tutur Devita.
Ia kini mampu mencatat omzet Rp 4-5 juta per bulan. Angka ini meningkat dari sebelumnya Rp 1 juta–2 juta setelah mengaplikasikan ilmu untuk menunjang produksi yang didapat selama pembinaan.
Kisah Devita menunjukkan bahwa klasterisasi tidak hanya memperkuat usaha, tetapi membantu perempuan menjadi berdaya secara ekonomi.
Di banyak daerah, klasterisasi juga berkembang menjadi sentra ekonomi lokal dan mitra industri serta menciptakan multiplier effect bagi komunitas.