KOMPAS.com - Siang itu, aula Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 01 Jakarta dipenuhi energi positif pada Rabu (19/11/2025). Puluhan siswa berseragam pramuka duduk dengan rapi, sedangkan beberapa masih memanggul tas sekolah. Ini menandakan hari belajar belum usai.
Namun, bukan pelajaran tambahan yang menahan siswa-siswi di sekolah. Hari itu, mereka kedatangan dua sosok alumnus yang kini telah sukses berkarier.
Di tengah kerumunan siswa, Meri Amelia (39) dan Boyle Fernando (37) tampak menonjol dalam balutan seragam merah bercorak batik kuning. Keduanya membaur dan tersenyum hangat kepada adik-adik kelas mereka.
Baik Meri maupun Boyle merupakan penyandang tunarungu wicara yang kini bekerja di Alfamart. Mereka kembali ke sekolah untuk berbagi perjalanan hidup yang tidak selalu mudah, namun penuh harapan kepada adik-adik mereka.
Dalam Kick Off Alfability Menyapa, Meri membuka sesi dengan tutur yang perlahan tetapi tegas dalam bahasa isyarat. Dulu, ia sempat mempertanyakan peluangnya bekerja karena khawatir tidak mampu bersaing secara setara. Hingga suatu hari, sebuah unggahan lowongan kerja untuk penyandang disabilitas muncul di layar ponselnya.
“Saat itu, saya sungguh ragu. Apakah orang seperti saya bisa benar-benar diterima bekerja di Alfamart?” ujar Meri dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (26/11/2025).
Mendengar penjalasan Meri, sejumlah siswa tampak mengangguk pelan seolah tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan kegelisahan serupa. Namun, keraguan itu seketika sirna ketika Meri mengungkapkan bahwa ia telah lima tahun bekerja sebagai karyawan gerai Alfamart.
Pengakuan tersebut membuat beberapa siswa sontak menegakkan badan seolah mendapatkan inspirasi dan bekal berharga untuk menghadapi masa depan.
“Di Alfamart, saya melayani konsumen dan menjalankan tugas, seperti karyawan lainnya. Benefit yang saya dapatkan juga sama. Tidak ada perbedaan,” tuturnya.
Suasana di dalam aula perlahan berubah, dari yang semula hening menjadi penuh rasa ingin tahu. Tangan-tangan kecil mulai terangkat tinggi untuk mengajukan pertanyaan.
Setelah Meri, kini giliran Boyle yang melanjutkan cerita. Gerak tangan dan ekspresinya yang penuh semangat menceritakan pengalamannya. Boyle berbicara dengan bantuan juru bahasa isyarat yang mengikuti ritmenya.
Boyle mengaku sudah tiga tahun bekerja di Alfamart. Ia menyebut pengalamannya itu sebagai perjalanan yang membuatnya merasa diterima sepenuhnya.
“Saya sangat nyaman bekerja di Alfamart. Teman-teman selalu memberikan dukungan penuh. Kalau saya menemukan kesulitan, mereka membantu dengan cara yang mudah saya pahami,” ujar Boyle.
Di hadapan Meri dan Boyle, para siswa SLB melihat sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lihat begitu dekat sebelumnya. Mereka seolah melihat masa depan yang mungkin bisa mereka genggam. Siang itu, aula SLB 01 Jakarta menjadi ruang kecil di mana harapan tumbuh secara pelan-pelan, namun nyata.
Komitmen inklusivitas Alfamart
Meri dan Boyle hanyalah dua dari ribuan teman disabilitas yang kini berkarya tanpa adanya diskriminasi di Alfamart.
Menyambut momentum Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember, Alfamart terus memperkuat komitmennya untuk membuka kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas. Ini sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan unik masing-masing.
Melalui kegiatan Alfability Menyapa, Alfamart membawa kisah-kisah inspiratif langsung ke berbagai SLB. Program ini menjadi jembatan bagi lulusan SLB yang kini berkarier di Alfamart untuk kembali ke sekolah asal dan berbagi pengalaman kepada adik-adik kelasnya.
Human Capital Director Alfamart Tri Wasono Sunu memaparkan, kegiatan tersebut dirancang untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi, meski memiliki keterbatasan fisik.
Menurutnya, Alfability Menyapa hadir di 10 SLB di 10 kota dengan membawa cerita autentik para lulusan yang kini bekerja di Alfamart.
“Kami berharap, kisah mereka dapat memotivasi siswa bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk bersaing dan berkontribusi dalam dunia kerja,” kata Sunu.
Sebagai informasi, Alfability Menyapa digelar secara serentak di Cilacap, Jakarta, Jambi, Jember, Luwu, Palembang, Parung, Semarang, Banjarmasin, dan Rembang mulai Kamis (19/11/2025) hingga Selasa (25/11/2025).
Sunu menambahkan, rangkaian kunjungan tersebut sekaligus menjadi perjalanan menuju puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember. Hal ini mempertegas bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan korporat, melainkan praktik nyata yang telah mendarah daging di Alfamart.
Boyle saat menceritakan pengalamannya. Program Alfability sendiri mulai dijalankan sejak 2016. Mengambil kata ability yang bermakna kemampuan, program ini merupakan sebuah inisiatif inklusi yang memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kapabilitas dan potensi mereka. Melalui program tersebut, Alfamart menjadi jembatan untuk mewujudkan impian berkarya tersebut.
Selama hampir satu dekade berjalan, program tersebut telah membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas dari berbagai latar belakang. Hingga Oktober 2025, 1.129 penyandang disabilitas bekerja di Alfamart. Rinciannya, 822 karyawan bekerja di gerai, 289 di pusat distribusi, serta 18 di kantor pusat.
Mereka hadir dalam lingkungan kerja Alfamart yang inklusif, mulai dari tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, tunaruwi, hingga tunarungu wicara.
Dengan komitmen tersebut, Alfamart berharap Alfability dapat terus menjadi ruang bagi teman disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, membangun karier, dan berkontribusi secara lebih luas dalam dunia kerja Indonesia.
Selain menghadirkan kisah inspiratif, program ini juga dikemas dengan aksi sosial dari Alfamart. Salah satunya pemberian puluhan paket goodie bag berisi biskuit, susu, dan berbagai produk lainnya untuk peserta.