Advertorial

Laporkan Capaian Tahun 2025, PTKI Targetkan Akselerasi Menuju Kelas Dunia pada 2026

Kompas.com - 19/12/2025, 16:23 WIB

KOMPAS.com – Di tengah arus globalisasi pendidikan tinggi dan meningkatnya kualitas sumber daya manusia (SDM), Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, dan Kementerian Agama RI menegaskan posisinya sebagai lokomotif transformasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Tahun 2025 menjadi fase penting bagi kebijakan strategis untuk tidak hanya mencatatkan capaian angka, tetapi juga menegaskan arah distingsi PTKI sebagai pusat perkembangan ilmu agama Islam yang moderat, inklusif, dan berdaya saing global.

Pada tahun ini, Diktis menunjukkan kinerja pengelolaan program yang efektif dan terukur dengan realisasi anggaran mencapai 99,99 persen. Capaian itu menjadi fondasi kuat untuk melangkah menuju akselerasi di tahun berikutnya.

Adapun Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof Dr H Amien Suyitno, MAg menegaskan bahwa penguatan PTKI merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan Sumber Daya Manusia bagi bangsa dan negara.

‘’PTKI tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk karakter, meneguhkan moderasi beragama, serta menumbuhkan kepekaan sosial. Dari kampus-kampus PTKI, nilai Islam rahmatan lil’alamin hadir sebagai kontribusi nyata bagi peradaban dunia,’’ tutur Prof Suyitno saat ditemui media di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Meningkatnya mutu kelembagaan

Sepanjang 2025, peningkatan mutu kelembagaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menunjukkan hasil yang signifikan.

Hingga akhir tahun ini, tercatat ada 35 PTKIN yang meraih akreditasi unggul, dengan capaian penambahan 8 PTKIN unggul dalam satu tahun terakhir. Capaian tersebut menandai penguatan tata kelola, sistem penjaminan mutu internal, serta konsistensi PTKI dalam memenuhi standar nasional dan internasional.

Selain itu, pengakuan global terhadap PTKIN yang semakin nyata juga menempatkan PTKIN dalam peta pendidikan tinggi Asia. Hal itu diperkuat pada tataran akademik, di mana hingga 2025, tercatat ada 104 program studi PTKI telah mengantongi akreditasi internasional. 

Status tersebut semakin memperkuat reputasi dan kepercayaan dunia terhadap kualitas pendidikan PTKI. Terbukti dengan adanya 4 PTKIN yang berhasil masuk dalam daftar QS Asia University Ranking 2026.

Infografis peringkat PTKIN di QS Asia University Ranking 2026.Dok. Kemenag Infografis peringkat PTKIN di QS Asia University Ranking 2026.

Beberapa PTKIN yang masuk di antaranya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada peringkat 801-850, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada peringkat 1001-1100, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada peringkat 1301-1400, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada peringkat 1.401-1.500.

Menanggapi capaian tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi keagamaan Islam Prof Dr Phil Sahiron Syamsuddin MA menegaskan bahwa akreditasi unggul harus dimaknai sebagai proses berkelanjutan.

“Status Unggul bukan titik akhir. Ia adalah pintu masuk menuju penguatan mutu yang lebih substansial, terutama dalam riset, inovasi, dan layanan akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Prof Sahiron.

Transformasi institusi

Penguatan mutu Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam turut diiringi dengan transformasi kelembagaan.

Pada 2025, Diktis mencatat alih bentuk 10 PTKIN, serta menerbitkan 73 Keputusan Menteri Agama (KMA) terkait pendirian dan alih bentuk PTKIS. Transformasi tersebut mencakup pendirian perguruan tinggi baru hingga perubahan bentuk sekolah tinggi menjadi institut, dan institut menjadi universitas.

Infografis alih bentuk 10 PTKIN.Dok. Kemenag Infografis alih bentuk 10 PTKIN.

Langkah itu pun menjadi strategi untuk memperluas akses pendidikan tinggi agama Islam yang lebih adaptif, multidisipliner, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat serta dinamika keilmuan kontemporer.

Investasi infrastruktur sebagai penopang

Sejak 2015 hingga 2025, Diktis telah mengelola alokasi dana sebesar Rp 11,41 triliun yang berasal dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk mendukung 229 proyek pembangunan PTKIN di berbagai daerah.

Infografis profil Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) PTKIN.Dok. Kemenag Infografis profil Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) PTKIN.

Investasi itu berfokus pada pembangunan dan revitalisasi sarana pendidikan yang mencakup perbaikan fasilitas fisik kampus, serta penguatan ekosistem akademik menjadi lebih modern, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan melalui konsep standarisasi sarana prasarana dan green campus.

Pengembangan akses pendidikan tinggi dan skill mahasiswa

Komitmen terhadap keadilan akses pendidikan juga tercermin melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Sebagai informasi, total anggaran KIP-K mencapai Rp 1,291 triliun pada 2025, dengan penerima manfaat sebanyak 29.037 mahasiswa PTKIN dan 117.373 mahasiswa PTKIS.

Selain akses, kompetensi mahasiswa juga turut dikembangkan. Melalui program Prima Magang PTKI, sebanyak 619 mahasiswa dari 67 PTKI dapat memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja sebagai bekal menghadapi persaingan pasar tenaga kerja.

Infografis mengenai program Prima Magang PTKI.Dok. Kemenag Infografis mengenai program Prima Magang PTKI.

Minat studi ke pusat-pusat keilmuan Islam dunia pun tetap tinggi. Pada seleksi Studi Al-Azhar 2025, sebanyak 1.243 peserta dari 2.800 pendaftar dinyatakan lulus. Sementara itu, pada program Maroko, 75 peserta lulus dari 1.233 pendaftar.

SDM akademik dan produktivitas riset

Kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu faktor pendukung penguatan institusi PTKI.

Sampai dengan 2025, tercatat sebanyak 33.233 dari total 49.464 dosen Kementerian Agama telah mendapatkan sertifikasi. Jumlah Guru Besar PTKI pun terus meningkat dan kini mencapai 1.810 orang.

Produktivitas riset dan publikasi ilmiah PTKI juga menunjukkan tren positif. Saat ini, PTKI telah menerbitkan 1.726 jurnal terindeks, dengan 50 jurnal PTKIN dan tiga jurnal PTKIS telah terindeks Scopus. Inovasi dan hilirisasi riset PTKIN pun ikut meningkat dengan tercatatnya 28 paten hingga 2025.

Reformasi tata kelola

Transformasi tata kelola merupakan agenda utama Diktis. Melalui SILADIKTIS yang terintegrasi dengan PUSAKA Super App, seluruh layanan PTKI kini berbasis satu pintu dan satu data.

Adapun layanan itu mencakup pembukaan program studi, sertifikasi dosen, kenaikan jabatan fungsional, serta kerja sama internasional.

Terkait transformasi tersebut, Prof Sahiron menegaskan bahwa digitalisasi merupakan fondasi reformasi birokrasi pendidikan tinggi keagamaan.

“Kami ingin menghadirkan layanan yang sederhana, transparan, dan akuntabel. Teknologi harus mempermudah sivitas akademika, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik,” tuturnya.

Pada 2025, Diktis juga mengembangkan platform e-SMS PTKI sebagai sistem pengawasan mutu dan early warning system kesehatan institusi. Sementara itu, sejak Agustus 2024 hingga Juni 2025, layanan SIPIKO telah menerbitkan 4.205 SK penyetaraan ijazah dan konversi nilai bagi lulusan luar negeri.

Moderasi beragama sebagai pilar

Di tengah keberagaman Indonesia, PTKI diposisikan sebagai ruang strategis dalam penguatan moderasi beragama.

Oleh karena itu, Diktis menghadirkan forum kolaboratif lintas iman dan lintas kampus melalui program AKMINAS yang bertujuan untuk menumbuhkan toleransi, kepemimpinan, dan semangat kebangsaan.

“AKMINAS menunjukkan bahwa kampus keagamaan dapat menjadi ruang dialog, persatuan, dan pembelajaran bersama dalam keberagaman,” ungkap Prof Sahiron.

Akselerasi dan internasionalisasi menuju 2026

Menuju 2026, Diktis memantapkan delapan program prioritas atau Asta Protas Diktis, yang mencakup internasionalisasi PTKI, peningkatan akreditasi unggul, penguatan employability lulusan, digitalisasi layanan, penguatan riset dan inovasi, penguatan pendidikan vokasi, standarisasi sarana prasarana, serta penguatan PTKIS.

Dengan postur anggaran 2026 sebesar Rp 6,649 triliun, Diktis menargetkan penambahan 10 PTKIN Unggul, perluasan program joint degree, double degree, dan fast track dengan mitra internasional seperti Al-Azhar, Yordania, Jerman, School of Oriental and African Studies (SOAS), dan Edinburgh.

Selain itu, Diktis juga akan melakukan penguatan Career Development Center melalui kemitraan dengan sekitar 200 perusahaan nasional dan multinasional.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof Dr Phi. Sahiron, MA.Dok. Kemenag Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof Dr Phi. Sahiron, MA.

Menutup paparan capaian dan rencana strategis tersebut, Prof Sahiron menyampaikan optimismenya.

“Capaian 2025 adalah pijakan penting. Tahun 2026 kami arahkan sebagai momentum akselerasi agar PTKI semakin kompetitif secara global, tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaan,” ujarnya.

Dengan fondasi yang semakin kokoh, PTKI Indonesia terus bergerak maju. Dari penguatan mutu hingga internasionalisasi serta reformasi layanan hingga moderasi beragama, PTKI bersiap untuk melangkah lebih jauh dan mengukuhkan diri sebagai kampus unggulan dari Indonesia untuk dunia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau