Advertorial

Survei IKUB 2025: Toleransi Antarumat Beragama di Kota Bogor Sangat Tinggi

Kompas.com - 24/12/2025, 15:15 WIB

KOMPAS.com – Hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Tahun 2025 yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan, mengungkapkan bahwa toleransi antarumat beragama di Kota Bogor mencatat capaian sangat tinggi.

Meski telah berada pada kategori sangat tinggi, capaian tersebut masih berpeluang untuk terus ditingkatkan.

Peneliti FISIB Universitas Pakuan Toto Sugiarto mengatakan bahwa penelitian itu dilakukan mengukur tingkat IKUB di Kota Bogor pada 2025 secara komprehensif yang mencakup tiga dimensi utama, yakni toleransi, kesetaraan, dan kerja sama.

Hasil survei tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan jika dibandingkan hasil survei pada 2023. Meski demikian, tantangan yang masih perlu diperkuat di Kota Bogor berada pada dimensi kerja sama antarumat beragama.

“(Capaian) ini perlu diapresiasi. Toleransi di Kota Bogor sangat tinggi,” ujar Toto dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (24/12/2025).

 Dalam pelaksanaan penelitian, kata Toto, FISIB Universitas Pakuan menggunakan tiga tolok ukur yang menjadi dimensi utama kerukunan umat beragama, yaitu toleransi antarumat beragama, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama.

“Dimensi toleransi memperoleh nilai 84,4 dengan kategori sangat tinggi, kesetaraan 81,4 juga dengan kategori sangat tinggi, sedangkan kerja sama memperoleh nilai 77,4 dengan kategori tinggi,” jelasnya pada acara pemaparan hasil survei di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (22/12/2025).

Hasil signifikan lain dari penelitian tersebut adalah keterlibatan generasi muda yang menunjukkan skor lebih tinggi jika dibandingkan kelompok usia lain.

Toto menjelaskan bahwa temuan tersebut menjadi hal penting dalam menjaga kerukunan umat beragama. Hal ini mengingat generasi muda memiliki potensi besar dalam memastikan keberlanjutan kerukunan di masa depan.

Anggota tim peneliti dan survei FISIB Universitas Pakuan Roni Jayawinangun menjelaskan, toleransi dimaknai sebagai sikap menerima dan menghargai perbedaan keyakinan, nilai, budaya, atau pandangan.

Sikap itu mencakup kesediaan untuk hidup berdampingan serta menghormati hak setiap individu dalam memiliki perspektifnya masing-masing.

Kemudian, kesetaraan dimaknai sebagai kondisi di mana setiap individu memiliki nilai dan hak yang sama tanpa memandang perbedaan latar belakang, dengan memastikan akses yang adil, peluang yang setara, serta menentang segala bentuk diskriminasi.

Sementara itu, kerja sama diartikan sebagai tindakan saling bahu-membahu dan berbagi manfaat dari eksistensi bersama. Kerja sama melibatkan empati dan simpati sebagai wujud interaksi sosial nyata antar-kelompok agama.

“Contoh kerja sama dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan atau acara di tingkat kota yang melibatkan seluruh unsur dan latar belakang yang berbeda. Skor kerja sama saat ini, sudah berada pada kategori tinggi, yakni 77,4. Pada 2026, diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 81,4,” ujarnya.

Roni berharap, dimensi kerja sama ke depan dapat terus ditingkatkan melalui berbagai kegiatan dan kegiatan lintas umat beragama.

Untuk diketahui, selain melakukan pemaparan temuan utama dan implikasinya, tim peneliti juga memberikan sejumlah rekomendasi kebijakan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau