KOMPAS.com - SDG Academy Indonesia telah tememasuki babak baru melalui kepemilikan nasional di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Didirikan pada 2019 melalui kolaborasi Bappenas, United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, dan Tanoto Foundation, inisiatif ini terbukti berkontribusi dalam penguatan kapasitas pemangku kepentingan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Memasuki akhir 2025, SDG Academy Indonesia bertransformasi untuk memperluas dampak tersebut melalui pengelolaan nasional yang lebih terintegrasi. Transformasi ini berlangsung di tengah tantangan besar pencapaian SDGs secara nasional.
Untuk diketahui, hingga 2023, dari 233 indikator SDGs, lebih dari 60 persen telah tercapai. Namun, 26 persen indikator masih memerlukan perhatian khusus dan percepatan.
Capaian tersebut mencerminkan kemajuan signifikan, sekaligus menjadi pengingat bahwa percepatan SDGs tidak dapat berjalan secara sporadis. Diperlukan kapasitas yang kuat serta kolaborasi yang terstruktur di seluruh tingkat, mulai dari individu, institusi, hingga ekosistem pembangunan nasional.
Dengan tenggat SDGs yang tinggal lima tahun menuju 2030, fase ini menjadi periode krusial bagi Indonesia untuk mempercepat langkah dan memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal.
Dalam konteks inilah, partisipasi publik dan kontribusi gagasan dari berbagai kalangan menjadi semakin relevan dan dibutuhkan.
Sebagai upaya membuka ruang kolaborasi tersebut, SDG Academy Indonesia menghadirkan kompetisi esai dan jurnalistik sebagai wahana partisipasi publik dalam merumuskan arah penguatan kapasitas pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Momentum transformasi tersebut ditandai dengan penyelenggaraan kompetisi esai dengan periode mulai 19 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026 dan kompetisi jurnalistik mulai periode 19 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026 sebagai ruang partisipasi publik untuk ikut merumuskan arah penguatan kapasitas pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga sarana mengumpulkan gagasan, refleksi, dan narasi kritis terkait implementasi SDGs.
Melalui kompetisi esai, para akademisi, publik, dan alumni didorong untuk mengajukan usulan pengembangan modul, kurikulum, ataupun strategi pembelajaran SDG Academy Indonesia agar tetap relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kompetisi tersebut terbuka bagi seluruh kalangan yang memiliki gagasan terkait penguatan SDG Academy Indonesia pasca-transformasi menjadi kepemilikan nasional di bawah Bappenas.Telah disediakan pula total hadiah Rp 43 juta. Informasi lebih lengkap dapat dicek melalui laman berikut.
Keterlibatan akademisi dan jurnalis melalui kompetisi dinilai penting untuk memastikan bahwa gagasan kebijakan dan praktik pembangunan berkelanjutan tetap berpijak pada konteks nyata di lapangan.
Lewat kompetisi esai, peserta dapat mengajukan usulan dalam bentuk pengembangan kurikulum, model pembelajaran, atau strategi outreach SDG Academy Indonesia.
Kriteria penilaian menekankan pada ide, opini, inovasi, dan praktik baik yang ditawarkan peserta dalam mewujudkan SDGs.
Tulisan harus bersifat kritis, solutif, dan relevan dengan kondisi terkini di Indonesia. Seluruh karya akan dinilai oleh panel juri yang terdiri dari perwakilan Bappenas, Tanoto Foundation, dan KG Media Lestari.
Sementara itu, kompetisi jurnalistik dihadirkan untuk mendorong lahirnya liputan yang kredibel dan berdampak sekaligus merawat narasi publik mengenai transformasi SDG Academy Indonesia sebagai langkah maju dalam agenda SDGs. Kompetisi ini terbuka bagi jurnalis dari berbagai media massa di Indonesia.
Karya jurnalistik yang dilombakan harus berfokus pada dampak nyata, kisah inspiratif, atau proses perubahan yang dihasilkan oleh peserta program, alumni, atau inisiatif SDG Academy Indonesia.
Jenis karya yang dapat diikutsertakan meliputi artikel berita mendalam, feature, atau opini/analisis.
Total 10 jurnalis tepilih akan memperoleh beasiswa liputan senilai total Rp 20 juta untuk menghasilkan karya jurnalistik lanjutan dan peliputan lebih mendalam terkait narasi transformasi SDG Academy Indonesia, dengan masing-masing jurnalis diharapkan menghasilkan tiga artikel sepanjang periode Januari 2026.
Tiga pemenang akan mendapatkan hadiah lagi senilai Rp 6 juta untuk juara pertama, Rp 3,5 juta untuk juara kedua, dan Rp 2 juta untuk juara ketiga.
Bappenas dan Tanoto Foundation tegaskan komitmen
Bappenas memandang SDG Academy Indonesia sebagai instrumen strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia pembangunan berkelanjutan.
Hal tersebut dilakukan melalui perluasan akses pembelajaran yang inklusif dan merata bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk di tingkat daerah.
Melalui Sekretariat Nasional SDGs, Bappenas memimpin upaya percepatan SDGs dengan menggandeng SDG Academy Indonesia sebagai motor pengembangan kapasitas dan kolaborasi.
Di bawah koordinasi nasional, SDG Academy Indonesia diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga mampu menghasilkan dampak yang terukur terhadap perencanaan, implementasi, dan akuntabilitas pencapaian SDGs.
-Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo AA Teguh Sambodo mengatakan, pihaknya mengapresiasi perjalanan SDG Academy Indonesia sejak diluncurkan.
"Kami melihat inisiatif ini sebagai elemen strategis dalam percepatan SDGs di Indonesia. Maka itu, kami menyambut baik transformasi SDG Academy Indonesia menjadi bagian dari sistem nasional yang memperkuat kapasitas individu, institusi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, hingga SDGs Center di seluruh Indonesia," ujar Leonardo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, Country Head Tanoto Foundation Inge Kusuma menjelaskan bahwa pihaknya telah menyaksikan dampak nyata dari perjalanan SDG Academy Indonesia.
"Semakin banyak individu, institusi, dan komunitas yang terinspirasi untuk bergerak bersama mencapai SDGs," kata Inge.
Inge menambahkan, melalui ruang pembelajaran dan kolaborasi yang diciptakan SDG Academy Indonesia, lahir multiplier effect yang memperluas semangat perubahan di berbagai penjuru negeri.
Perkuat kapasitas ribuan pelaku pembangunan
Selama lima tahun perjalanan, SDG Academy Indonesia telah memperkuat kapasitas ribuan pelaku pembangunan yang terdiri dari pemerintah, masyarakat sipil hingga sektor swasta melalui pembelajaran inovatif dan membangun kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pencapaian SDGs.
Program itu telah menjangkau ratusan ribu penerima manfaat dengan lebih dari 100 institusi lintas sektor berkolaborasi.
SDG Academy Indonesia juga telah melahirkan 250 SDG-Certified Leaders dari seluruh Indonesia serta 81 Karya SDGs yang telah diimplementasikan untuk membawa solusi nyata bagi masyarakat.
Anak-anak dan pendamping berfoto bersama dalam kegiatan edukatif SDG Academy Indonesia, menandai upaya menanamkan nilai pembangunan berkelanjutan sejak dini. Alumnus angkatan V SDG Academy Indonesia tahun 2023 Slamet Rahmat Hariyanto mengaku bahwa menjadi bagian dari program ini adalah pengalaman yang sangat bermakna.
"Program SDG Academy Indonesia membuka cara pandang baru tentang bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan di Indonesia," kata Slamet.
Menurutnya, peserta tidak hanya belajar konsep dan teori, tetapi juga membangun jejaring, saling berbagi praktik baik, dan menemukan langkah konkret untuk memberi dampak.
"Dengan peran strategis Bappenas sebagai pengarah pembangunan nasional, SDG Academy Indonesia akan semakin kuat dalam memperluas jaringan di tingkat nasional dan daerah," ujarnya.
Slamet berharap, kehadiran Bappenas dapat memastikan inisiatif tersebut semakin berjalan terarah, inklusif, dan selaras dengan prioritas pembangunan.
Dengan demikian, kapasitas para pemimpin lintas sektor dapat tumbuh dan menghasilkan kontribusi nyata bagi percepatan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.