Teaser :
Tag : , , , , , , .
KOMPAS.com — Liburan akhir tahun yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bersama keluarga bisa saja terganggu oleh keluhan kesehatan. Salah satunya nyeri dada yang muncul secara tiba-tiba.
Keluhan itu kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan sepele, seperti kelelahan atau masuk angin. Padahal, gejala ini bisa menjadi tanda kondisi medis serius.
Selama liburan, perubahan pola aktivitas dan gaya hidup kerap terjadi. Mulai dari perjalanan mudik jarak jauh, aktivitas fisik berlebihan, stres, hingga pola makan yang tidak terkontrol, dapat memicu munculnya nyeri dada.
Risiko juga meningkat pada individu dengan riwayat penyakit tertentu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Vireza Pratama, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI, mengatakan bahwa keluhan nyeri dada cukup sering ditemui, termasuk saat periode liburan panjang.
Ia menjelaskan, tidak sedikit pasien yang menganggap nyeri dada sebagai keluhan ringan. Padahal, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi serius.
“Kami sering menemui pasien yang mengira nyeri dada hanya karena masalah ringan. Padahal setelah diperiksa, ternyata mereka mengalami kondisi serius, seperti penyakit jantung koroner atau bahkan serangan jantung,” katanya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (2/1/2026).
Beberapa kasus, lanjutnya, juga dapat disebabkan oleh sumbatan di pembuluh darah paru atau emboli paru. Kondisi ini harus ditangani dengan cepat sebelum berakibat fatal.
Kenali ciri nyeri dada yang perlu diwaspadai
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda nyeri dada yang tidak boleh diabaikan agar dapat segera mencari pertolongan medis.
Dokter Vireza menjelaskan, nyeri dada yang patut diwaspadai umumnya ditandai dengan rasa tidak nyaman di dada, sensasi tertekan, terbakar, atau seperti tertimpa beban berat.
Selain itu, nyeri juga dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, serta disertai gejala lain, seperti sesak napas, mual, keringat dingin, atau pusing.
Beberapa pola nyeri dada juga dapat mengarah pada kondisi jantung tertentu. Jika nyeri muncul saat beraktivitas dan mereda ketika beristirahat, kondisi tersebut bisa mengarah pada angina atau penyakit jantung koroner (PJK).
“Sementara itu, nyeri yang memburuk saat menarik napas dalam, batuk, atau bergerak, umumnya berasal dari otot atau tulang,” jelas dr Vireza.
Ia menambahkan, keluhan tersebut juga kerap dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, serta stres berkepanjangan.
Pentingnya pemeriksaan medis selama liburan
Di tengah perubahan aktivitas dan gaya hidup selama liburan akhir tahun, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri dada dan mencegah keterlambatan penanganan.
Mayapada Hospital menghadirkan Chest Pain Unit untuk membantu mengetahui penyebab nyeri dada yang muncul secara tiba-tiba melalui pemeriksaan menyeluruh.
Jika nyeri dada terbukti disebabkan oleh faktor non-jantung, pemeriksaan tersebut tidak dikenakan biaya.
Namun, bila nyeri dada disebabkan oleh penyakit jantung, pasien akan ditangani langsung oleh dokter spesialis jantung sesuai protokol medis.
Chest Pain Unit Mayapada Hospital terintegrasi dengan layanan Cardiac Emergency 24 jam yang siap menangani serangan jantung dengan tindakan Primary PCI sesuai standar internasional dengan waktu door-to-balloon kurang dari 90 menit.
Pada kondisi gawat darurat, masyarakat dapat menghubungi call center 150990 atau menggunakan fitur Emergency Call di aplikasi MyCare.
Layanan tersebut merupakan bagian dari Cardiovascular Center Mayapada Hospital yang menangani penyakit jantung secara lanjut, mulai dari tindakan intervensi jantung, ablasi jantung untuk aritmia, bypass, hingga bedah jantung minimal invasif.
Untuk menjadwalkan konsultasi dengan dokter, pasien dapat mengakses aplikasi MyCare dengan mudah. Berbagai informasi kesehatan jantung serta promo layanan Mayapada Hospital juga tersedia melalui fitur Health Articles & Tips.
Selain itu, aplikasi tersebut juga memiliki fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access. Dengan begitu, pengguna dapat memantau kebugaran tubuh, mulai dari detak jantung, jumlah langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).