Advertorial

Habis Liburan, Jaga Kesehatan dengan “Medical Check Up” agar Tetap Produktif

Kompas.com - 04/01/2026, 13:16 WIB

KOMPAS.com - Tahun yang baru menjadi waktu tepat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan tubuh. Agar tetap produktif, kesehatan perlu dipastikan dalam kondisi optimal dan bebas dari risiko penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan seperti Medical Check Up (MCU) menjadi langkah penting untuk memantau kesehatan lebih awal agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Langkah preventif ini juga direkomendasikan oleh American Medical Association (AMA) yang menganjurkan pemeriksaan kesehatan rutin minimal setahun sekali, dan dapat dimulai sejak usia remaja hingga lanjut usia.

Bila dilakukan secara rutin, pemeriksaan kesehatan bermanfaat untuk mengevaluasi kondisi kesehatan dan mendiagnosis potensi masalah kesehatan yang mungkin muncul

Dokter Roy Panusunan Sibarani, Sp.PD-KEMD, FES dari Mayapada Hospital Kuningan menjelaskan, “Pemeriksaan kesehatan umumnya terdiri dari pemeriksaan tekanan darah, berat badan, EKG untuk jantung, radiologi, pemeriksaan laboratorium yang mencakup asam urat, kolesterol, gula darah.”

Salah satu penyakit kronis yang berisiko meningkat setelah liburan Nataru adalah diabetes, yakni penyakit metabolik yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia. Terlebih, dengan berbagai hidangan manis selama liburan, mampu meningkatkan kadar gula yang tinggi.

“Apabila kadar gula darah puasa sudah mencapai 100-125 mg/dL berarti masuk status prediabetes. Sementara itu, seseorang mengalami diabates jika kadar gula darah puasanya mencapai 126 mg/dL ke atas dan sudah tergolong hiperglikemia,” jelas dr. Roy.

Diabetes biasanya ditandai dengan gejala seperti sering buang air kecil, peningkatan rasa haus, mudah lelah atau rasa kelelahan terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab, keluhan gangguan penglihatan, seperti pandangan yang kabur, terjadinya infeksi pada tubuh terus-menerus, yang umum terjadi pada bagian gusi, kulit, maupun area vagina (pada wanita).

Menyusul diabetes, penyakit kronis lainnya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang cukup banyak terjadi di kalangan masyarakat ditandai dengan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg.

Lebih lanjut, dr. Vireza Pratama SpJP, Subsp.IKKv(K), FIHA, FAsCC, FSCAI,FESC dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan, “Ketika hipertensi berlangsung dalam waktu lama, jantung dapat mengalami perubahan struktural seperti penebalan otot jantung, pembengkakan, hingga menurunnya kemampuan jantung untuk memompa darah atau gagal jantung.”

Tak hanya hipertensi dan diabetes, masih banyak penyakit lainnya yang berisiko menimbulkan komplikasi ke berbagai organ lain seperti mata, jantung, ginjal, saraf, hingga seluruh tubuh.

Selaras dengan penjelasan tersebut, pemantauan kondisi kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit dan memungkinkan penanganan lebih awal.

Mayapada Hospital juga mendukung wellness dengan menyediakan layanan Medical Check Up komprehensif yang tersedia di unit Mayapada Hospital Jakarta (Kuningan dan Lebak Bulus), Tangerang, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Nusantara.

Layanan MCU beserta jadwal praktik dokter di Mayapada Hospital dapat dilakukan melalui aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital. Berbagai promo MCU dan layanan lainnya di Mayapada Hospital dapat dilihat melalui fitur Health Article & Tips. Fitur Personal Health juga dapat membantu untuk memantau detak jantung, langkah kaki, jumlah kalori terbakar, dan body mass index (BMI).

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau