KOMPAS.com – Upaya percepatan penurunan angka prevalensi stunting di Indonesia terus menjadi agenda prioritas nasional yang memerlukan sinergi berbagai pihak.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI 2024, prevalensi stunting nasional berada di angka 21,5 persen yang menunjukkan tren positif daripada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan tantangan kesehatan tersebut, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom mengoptimalkan peran teknologi digital melalui inisiatif Stunting Action Hub. Program inovasi ini dirancang untuk menghadirkan solusi konkret yang terukur dalam menangani masalah gizi buruk di berbagai wilayah Indonesia.
Komitmen tersebut membuahkan apresiasi pada ajang Indonesia Corporate Sustainability Championship atau ICCS 2025 yang digelar di Jakarta. Telkom berhasil meraih penghargaan Community Involvement Development kategori Kesehatan berkat efektivitas program tersebut dalam memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Selain penghargaan kategori program, Senior General Manager Social Responsibility Telkom Hery Susanto juga dinobatkan sebagai Agent TJSL of the Year. Apresiasi ini diberikan atas keberhasilannya mentransformasi pengelolaan tanggung jawab sosial perusahaan yang selaras dengan standar global.
Stunting Action Hub bukan sekadar program bantuan sosial biasa karena mengintegrasikan platform digital untuk memantau perkembangan gizi anak. Melalui sistem ini, tenaga kesehatan dapat melakukan pengukuran antropometri secara akurat serta memantau distribusi bantuan dengan lebih transparan.
Hingga awal 2026, inisiatif tersebut tercatat telah memberikan manfaat nyata kepada 591 anak dan orangtua di berbagai daerah. Program tersebut juga berhasil menyalurkan sedikitnya 7.586 paket makanan bergizi guna mendukung tumbuh kembang anak yang berisiko stunting.
Efikasi program itu tecermin dari angka Social Return on Investment atau SROI yang mencapai rasio 1 berbanding 1,75. Pencapaian ini mengindikasikan bahwa setiap investasi sosial yang dikeluarkan Telkom mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi penerima manfaat.
Hery Susanto menjelaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi bukti nyata dedikasi perusahaan dalam menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan bagi lingkungan. Ia menilai bahwa inovasi digital dan penguatan ekosistem kemitraan menjadi kunci utama agar setiap program dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat sasaran.
Telkom berupaya memastikan bahwa seluruh program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL dapat memberikan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat kontribusi sosial melalui berbagai inisiatif yang berorientasi pada prinsip keberlanjutan atau ESG.
Transformasi pengelolaan TJSL di lingkungan Telkom Group juga kini telah disesuaikan dengan standar internasional ISO 26000. Hal ini bertujuan agar pendekatan pemberdayaan yang dilakukan perusahaan tetap kredibel dan sejalan dengan sasaran pembangunan berkelanjutan atau SDGs.