Advertorial

Survei PNM Ungkap 90 Persen Nasabah Mekaar Rasakan Kemandirian Finansial

Kompas.com - 07/01/2026, 20:07 WIB

KOMPAS.com - Selly, seorang ibu rumah tangga di Pulau Saparua, Ambon, hampir menyerah mempertahankan TK Sintiche yang dikelolanya secara gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Namun, pertemuan Selly dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) pada 2022 mengubah segalanya.

Kini, sekolah yang sempat terancam tutup itu tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mampu menampung lebih banyak siswa, termasuk anak-anak nasabah Mekaar lainnya.

Kisah Selly menjadi cerminan dari ribuan perempuan Indonesia yang mengalami transformasi serupa melalui program pemberdayaan berkelanjutan PNM.

Dari warung kecil hingga kelola TK

Untuk membiayai operasional sekolahnya, Selly memulai warung kecil dengan modal seadanya. Kondisi geografis Pulau Saparua yang penuh tantangan akses dan jarak membuat perjalanannya semakin berat.

Setelah bergabung dengan Mekaar, ia tidak hanya mendapat akses modal, tetapi juga pendampingan usaha yang terstruktur. Pertemuan kelompok mingguan bersama Account Officer (AO) PNM Mekaar menjadi ruang belajar yang menguatkan kepercayaan diri dan kapasitas kepemimpinannya.

"Dulu beta cuma pikir bagaimana caranya bantu ekonomi keluarga. Namun, sejak ikut Mekaar, beta belajar pimpin kelompok, saling berbagi, dan percaya kalau usaha kecil juga bisa berkembang asal jalan sama-sama," ujar Selly dikutip dari rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Ia melanjutkan, pendampingan dan pertemuan rutin membuatnya lebih berani dan yakin menjalani semua tantangan yang ada.

90 persen nasabah rasakan kemandirian finansial

Kisah Selly bukan berdiri sendiri. Customer Survey Indeks Mekaar 2024 menunjukkan dampak nyata program pemberdayaan PNM terhadap nasabahnya di seluruh Indonesia.

Survei tersebut mengungkap bahwa 90 persen nasabah merasakan dampak kemandirian finansial setelah bergabung dengan Mekaar. Sebanyak 74 persen nasabah mengalami peningkatan pendapatan, sementara 72 persen nasabah merasakan peningkatan peran dalam pengambilan keputusan keluarga.

Tidak hanya itu, 78 persen nasabah kini telah memiliki dan memahami implementasi laporan keuangan bisnis mereka. Capaian ini menunjukkan bahwa program Mekaar tidak sekadar memberikan pinjaman, tetapi juga meningkatkan literasi keuangan dan kemampuan pengelolaan usaha.

Sekretaris Perusahaan PNM Dodot Patria Ary menegaskan bahwa hasil survei tersebut menjadi penguat arah pemberdayaan PNM ke depan. Menurutnya, capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat prasejahtera.

"Ini bukan sekadar survei. Di balik angka-angka ini, ada cerita tentang ibu-ibu yang kini lebih berani berpendapat di rumahnya, usaha yang perlahan tumbuh, dan keluarga yang mulai berdiri di atas kakinya sendiri," kata Dodot.

Pendampingan berkelanjutan jadi kunci

Dodot menjelaskan, PNM hadir tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga menemani setiap langkah kecil nasabah agar terus berani menatap masa depan. Melalui Mekaar, pembiayaan berubah menjadi proses belajar untuk menata usaha, menguatkan diri, dan bertumbuh bersama kelompok yang saling mendukung.

Pertemuan kelompok mingguan menjadi wadah bagi nasabah untuk berbagi pengalaman, belajar mengelola keuangan, dan mengembangkan kemampuan bisnis. Pendampingan berkelanjutan dari AO Mekaar juga memastikan kualitas kapasitas usaha mereka tumbuh secara bertahap.

"Kami terus hadir di tengah masyarakat dan mendorong agar semakin banyak kisah Bu Selly lainnya dari seluruh Indonesia," ujar Dodot.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau