KOMPAS.com - Setelah keberhasilan pilot program, program Keluarga SIGAP kini resmi diperluas hingga ke Brebes (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat) dan Banjar (Kalimantan Selatan).
Program Keluarga SIGAP merupakan inisiatif kolaboratif yang mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga guna melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah.
Program tersebut fokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gizi sesuai usia untuk anak di bawah dua tahun (Baduta).
Ketiga aspek ini menjadi pilar penting dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang optimal anak sejak dini.
Untuk memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan, fase scale-up ini dibangun melalui kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance, Unilever Lifebuoy, dan The Power of Nutrition.
Semua organisasi itu bekerja bersama dengan pemerintah serta sistem kesehatan di tingkat pusat dan daerah.
Alih-alih membangun struktur baru, Keluarga SIGAP memperkuat platform yang sudah digunakan keluarga, seperti layanan Posyandu, kunjungan rumah, satuan pendidikan anak usia dini, serta kanal digital.
Pendekatan itu membantu mendekatkan pesan kesehatan ke rumah tangga dan membuatnya lebih mudah dipahami, dipercaya, dan diterapkan.
Dalam acara diseminasi pembelajaran program SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas dr Niken Wastu Palupi menegaskan keselarasan Keluarga SIGAP dengan prioritas nasional.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Utamanya, pada kelompok usia dini yang merupakan masa krusial dalam tumbuh kembang anak.
“Di Kementerian Kesehatan, prioritas kami ada di Pilar Pertama, yakni Layanan Primer dengan melakukan upaya promotif dan preventif. Lewat Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kami sedang menyiapkan fondasi bagi Indonesia Emas 2045,” ujar Niken dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (16/1/2026).
Seiring dengan perluasan program, Keluarga SIGAP menghadirkan pembelajaran penting tentang bagaimana perubahan perilaku terintegrasi dapat dijalankan melalui sistem layanan kesehatan primer.
Program itu menyoroti area kemajuan yang paling kuat, faktor pendukung keberhasilan, serta respons keluarga ketika dukungan diberikan secara konsisten pada berbagai perilaku kunci.
Dari implementasi di tiga kabupaten tersebut, program ini mencatat sejumlah capaian signifikan.
Cakupan dosis akhir imunisasi meningkat signifikan di wilayah scale-up, termasuk perlindungan pneumonia yang naik dari sekitar 32 persen menjadi hampir 58 persen.
Praktik pemberian makan anak juga membaik, dengan peningkatan pada inisiasi menyusu dini dan keragaman pangan.
Sebanyak 96 persen orang tua menyatakan alat bantu gizi SIGAP membantu mengarahkan pola makan harian anak.
Sementara itu, praktik cuci tangan pakai sabun semakin menguat di berbagai momen penting, dengan kepatuhan meningkat 6,4 persen dan keterlibatan ayah naik 13 persen.
Imunisasi: mengurangi dosis terlewat, melindungi lebih banyak anak
Program Keluarga SIGAP mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat imunisasi rutin di Indonesia dengan dampak nyata pada peningkatan cakupan di tiga kabupaten scale-up.
Rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15 persen, dengan Banjar mencatat lonjakan paling signifikan dari 37 persen menjadi 59 persen.
Ini berarti hampir 6 dari 10 anak di Banjar kini terlindungi dibandingkan kurang dari 4 dari 10 seperti sebelumnya.
Meningkatnya kepercayaan terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak orangtua menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap.
Hal tersebut tecermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80 persen.
Peningkatan kepercayaan ini berkaitan erat dengan cara pesan imunisasi disampaikan bersamaan dengan praktik pengasuhan sehari-hari lainnya.
Managing Director of Innovative Partnerships di Gavi, the Vaccine Alliance, Augustin Flory mengatakan, Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor.
"Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin. Dengan begitu, anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia," ujarnya.
Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya meningkatkan cakupan, tetapi juga memperkuat kepercayaan orangtua.
Pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang efek samping ringan vaksin serta lebih konsisten menyelesaikan jadwal imunisasi anak.
Mereka juga melaporkan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang lebih sedikit untuk reaksi ringan. Permintaan terhadap dukungan praktis juga tinggi, dengan lebih dari 80 persen orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
CTPS menciptakan lingkungan yang mendukung praktik sehari-hari
Pembelajaran di bidang CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku semakin cepat ketika keluarga memiliki motivasi sekaligus sarana yang memadai.
Hampir 7 persen lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, menciptakan kondisi praktis yang memudahkan penerapan kebiasaan cuci tangan dalam rutinitas harian.
Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak. Tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4 persen seiring dengan tersedianya fasilitas cuci tangan yang memadai.
Selain itu, motivasi juga mengalami pergeseran positif. Semakin banyak orangtua atau pendamping anak yang menyebut kesehatan dan kebersihan sebagai alasan utama mencuci tangan, bukan sekadar penampilan atau norma sosial.
Keterlibatan ayah turut meningkat sebesar 13 persen. Hal ini menandai semakin kuatnya keterlibatan bersama orangtua dalam menjaga kebersihan di rumah.
Diskusi panel dalam acara Diseminasi Nasional Program Keluarga SIGAP di Hotel Mangkuluhur, Jakarta, Kamis (15/1/2026). Program ini merupakan kolaborasi Kementerian Kesehatan, Gavi the Vaccine Alliance, Unilever Lifebuoy, dan The Power of Nutrition untuk memperkuat praktik kesehatan keluarga.Menanggapi temuan tersebut, Global Brand Director Lifebuoy Parnil Sarin menyampaikan bahwa SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari.
"Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak," kata Parnil.
Nutrisi mendukung praktik pemberian makan anak yang lebih baik di rumah
Pembelajaran terkait nutrisi menunjukkan peningkatan nyata dalam praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Praktik inisiasi menyusu dini meningkat sebesar 4,4 persen. Sementara, proporsi anak yang mencapai keanekaragaman pangan minimum naik 6,8 persen.
Hal tersebut mencerminkan kualitas pola makan yang lebih baik serta keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia di tingkat rumah tangga. Peningkatan ini didukung oleh alat bantu praktis yang selaras dengan dinamika keluarga.
Rata-rata, 96 persen pengguna menyatakan bahwa alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan harian anak, termasuk konsumsi camilan tidak sehat.
Alat tersebut juga mendorong peran bersama ibu dan ayah dalam pemenuhan gizi anak.
CEO The Power of Nutrition Chris Skeet menyampaikan bahwa SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari.
"Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orangtua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang," tutur Chris.
Memperluas jangkauan melalui media dan digital
Fase scale-up Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas pembelajaran di luar titik interaksi langsung.
Pada periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP telah menjangkau lebih dari 4,7 juta orang secara nasional melalui tayangan televisi dan penempatan built-in.
Upaya ini berhasil memperkuat kesadaran masyarakat terhadap program. Di media sosial, lebih dari 1,14 miliar impresi konten SIGAP disalurkan melalui Meta, YouTube, dan TikTok di Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Kalimantan Selatan untuk mendorong perubahan perilaku.
Di YouTube, sebanyak 8,1 juta tayangan selesai menunjukkan retensi yang kuat terhadap ketiga perilaku SIGAP secara berurutan.
Sementara itu, iklan bumper enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan selesai.
Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dan menjangkau lebih dari 40 juta orang.
Kampanye tersebut mengantarkan audiens dari tahap kesadaran hingga pembelajaran aktif.
Konten influenser yang menggabungkan tren, cerita keseharian, humor, dan suara ahli yang tepercaya juga memberikan dampak signifikan. Konten ini menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta orang di TikTok.
Dengan keterlibatan komunitas yang kuat, pelatihan interaktif, serta dukungan media dan digital, Keluarga SIGAP dirancang agar dapat berkelanjutan dan diperluas.
Pembelajaran dari fase scale-up ini akan menjadi dasar bagi pengembangan program ke depan, membantu lebih banyak keluarga menerapkan perilaku pencegahan dan berkontribusi pada masa depan anak Indonesia yang lebih sehat.