KOMPAS.com – Holding badan usaha milik negara (BUMN) sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, telah empat tahun beroperasi sejak dibentuk pada Januari 2022.
Dalam kurun waktu tersebut, InJourney menjalankan transformasi bisnis yang berfokus pada penguatan fundamental anak usaha melalui integrasi aset, perbaikan tata kelola operasional dan manajerial, serta peningkatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan.
Transformasi itu berhasil meningkatkan profitabilitas grup secara menyeluruh. Pencapaian ini diraih melalui pendekatan kolaboratif berbasis gotong royong dengan dukungan sinergi bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Selama empat tahun, InJourney berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Melalui berbagai pilar bisnis, InJourney mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat peran aviasi serta pariwisata sebagai pengungkit pembangunan.
Hingga 2029, InJourney ditargetkan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 4,1 hingga 6 persen.
Konsisten jalankan inisiatif strategis
Berbagai inisiatif strategis lintas portofolio dijalankan secara konsisten, mulai dari transformasi bandara dan peningkatan konektivitas udara, pengembangan destinasi budaya dan edukasi, seperti Candi Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah, hingga pengembangan kawasan pariwisata Mandalika dan Golo Mori.
InJourney juga mengembangkan International Medical Tourism di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali.
Melalui PT Sarinah (Persero), InJourney secara konsisten membawa karya terbaik Indonesia ke pasar global. Rangkaian inisiatif ini mendorong peningkatan kinerja korporasi yang tecermin dari posisi InJourney sebagai perusahaan ke-43 terbesar di Indonesia.
Capaian tersebut menjadi fondasi bagi InJourney dalam menjalankan peran ganda, yakni pencipta nilai (value creation) serta agen pembangunan (agent of development) sekaligus.
Direktur Utama InJourney Maya Watono menegaskan bahwa transformasi yang dilakukan tidak hanya memperkuat kinerja internal perusahaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi sektor aviasi dan pariwisata nasional serta kesejahteraan masyarakat.
“Transformasi bisnis yang dilakukan selama empat tahun terakhir menjadi fondasi yang kukuh untuk membangun InJourney sebagai BUMN yang transparan dan akuntabel, sekaligus mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” ujar Maya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (20/1/2026).
Maya menambahkan, ke depan InJourney akan melanjutkan transformasi dengan tetap adaptif terhadap perubahan yang berlangsung cepat.
“Kami berharap, dengan dukungan para pemangku kepentingan, seluruh inisiatif InJourney dapat menciptakan nilai yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” katanya.
Memasuki tahun keempat, InJourney menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan sebagai arah utama transformasi.
Dengan mengusung tema “InJourney 4 Tahun: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang.
Adapun pariwisata dipandang sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial.
Komisaris Utama InJourney Iwan Setyawan menilai tema tersebut merefleksikan arah strategi holding dalam menghadirkan pengalaman pariwisata yang bernilai bagi wisatawan domestik ataupun mancanegara.
Melalui integrasi ekosistem pariwisata nasional, InJourney menyatukan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas dalam satu orkestrasi yang saling menguatkan.
“Pariwisata tidak cukup hanya dikelola, tetapi harus dikaryakan. Berkarya berarti menciptakan pengalaman, memberi makna, dan meninggalkan dampak. Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mengangkat martabat serta kesejahteraan masyarakat setempat,” ucap Iwan.
Ia menegaskan, pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan pelestarian alam dan budaya. Keberlanjutan, menurutnya, bukan lagi pilihan, melainkan fondasi utama pariwisata Indonesia.
Melalui visi Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang berorientasi pada dampak.
Komitmen InJourney terhadap pariwisata berkelanjutan didasarkan pada keyakinan bahwa keberhasilan bisnis jangka panjang hanya dapat dicapai jika pertumbuhan ekonomi selaras dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui visi “Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities”, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang berorientasi pada dampak.
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Digital InJourney Herdy Harman menekankan bahwa keberlanjutan tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia.
“Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi kesiapan SDM agar transformasi berjalan berkelanjutan dan berdampak jangka panjang,” tutur Herdy.
Dia menjelaskan, kerangka pariwisata berkelanjutan InJourney bertumpu pada dua pilar utama, yakni lingkungan dan sosial-ekonomi.
Pada pilar lingkungan, InJourney berfokus pada pengelolaan air dan limbah, penguatan strategi iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, pilar sosial-ekonomi diarahkan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program kesehatan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, serta penguatan kemitraan dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan pelaku usaha lokal.
Green initiative
Sebagai bagian dari penerapan prinsip ESG, InJourney menargetkan penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO2e sebagai langkah awal menuju operasional yang lebih hijau Hal ini juga sejalan dengan target net zero emission (NZE) pemerintah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai green initiative di lingkungan InJourney Group, mulai dari pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah berbasis ekonomi sirkular, hingga rehabilitasi lingkungan.
Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah diterapkan di sembilan bandara utama dengan produksi energi terbarukan sebesar 10.760 MWh per tahun. Inisiatif ini berpotensi menurunkan emisi hingga 9.860 ton CO2e per tahun atau setara dengan penyerapan karbon oleh sekitar 272.000 pohon.
InJourney juga mempercepat adopsi kendaraan dan peralatan listrik. Hingga kini, sebanyak 716 unit kendaraan dan peralatan listrik telah dioperasikan, seperti ground support equipment, buggy car, dan moda transportasi di berbagai destinasi wisata.
Dalam pengelolaan limbah dan air, InJourney menerapkan pendekatan terpadu berbasis ekonomi sirkular. Pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 meter kubik, sedangkan pemanfaatan air daur ulang tercatat sebesar 1,72 juta meter kubik.
Sebagai upaya mitigasi perubahan iklim, InJourney menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di wilayah operasional. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.
Di kawasan Nusa Dua, Bali, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih. Teknologi ini mengurangi ketergantungan pada air tanah serta meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko perubahan iklim.
Penerapan SWRO juga mengantarkan salah satu entitas ITDC menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP) untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi.
“Melalui berbagai inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis sehingga transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan meninggalkan warisan hijau bagi generasi mendatang,” imbuh Maya.