KOMPAS.com – Pernah mendengar bunyi “klik” atau “pop” dari area rahang saat mengunyah makanan atau menguap? Pada sebagian orang, suara tersebut muncul tanpa keluhan apa pun.
Namun, pada kondisi tertentu, bunyi rahang bisa disertai nyeri yang menjalar hingga ke kepala, leher, atau bahu, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dalam beraktivitas sehari-hari.
Banyak orang menganggap keluhan tersebut sebagai hal sepele dan berharap akan hilang dengan sendirinya. Padahal, bunyi pada rahang tidak selalu dapat dianggap normal.
Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut justru menjadi sinyal gangguan pada sendi rahang yang memerlukan perhatian medis.
Secara anatomi, rahang manusia memiliki sendi yang kompleks bernama temporomandibular joint (TMJ).
Sendi tersebut menghubungkan tulang rahang bawah dengan tulang tengkorak di bagian depan telinga dan berperan penting dalam fungsi berbicara, mengunyah, serta menguap. Ketika fungsi sendi TMJ mengalami gangguan, kondisi ini dikenal sebagai temporomandibular disorder (TMD).
Bunyi rahang yang muncul sesekali tanpa disertai rasa sakit umumnya masih tergolong ringan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh pergeseran kecil bantalan sendi dan biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan jika bunyi rahang muncul berulang dan disertai keluhan lain.
Beberapa gejala yang menandakan bunyi rahang tidak normal, antara lain nyeri berkelanjutan berupa rasa sakit tumpul di depan telinga, wajah, hingga menjalar ke leher dan bahu.
Ilustrasi gangguan sendi TMJ. Selain itu, bunyi “klik” atau “pop” yang konsisten setiap kali membuka atau menutup mulut, bahkan sensasi seperti pasir bergesekan, juga patut diwaspadai.
Kondisi rahang terkunci atau lockjaw—sulit membuka atau menutup mulut secara penuh—menjadi tanda lain yang tidak boleh diabaikan.
Gangguan sendi rahang juga kerap disertai sakit kepala kronis. Keluhan ini sering disalahartikan sebagai migrain, padahal sumbernya berasal dari ketegangan otot rahang.
Perubahan gigitan, seperti rasa tidak pas saat gigi atas dan bawah bertemu, turut menjadi indikasi adanya masalah pada sendi TMJ.
Penyebab hingga penanganan
Pemicu gangguan sendi rahang cukup beragam. Kebiasaan menggertakkan gigi atau bruxism, baik saat tidur maupun ketika stres, menjadi salah satu penyebab utama.
Susunan gigi yang tidak rapi atau maloklusi dapat membuat beban kunyah tidak seimbang. Kebiasaan mengunyah di satu sisi mulut atau sering menopang dagu, riwayat trauma pada wajah dan rahang, serta stres yang menyebabkan otot rahang menegang secara konstan juga berperan dalam memicu TMD.
Untuk menangani gangguan sendi rahang, Rumah Sakit (RS) EMC Grha Kedoya menyediakan layanan dengan pendekatan komprehensif.
Penanganan diawali dengan diagnosis akurat melalui pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti rontgen panoramik, ultrasonografi (USG) TMJ, hingga magnetic resonance imaging (MRI) atau computed tomography (CT) scan.
Terapi non-bedah meliputi pemberian obat pereda radang, fisioterapi, serta pembuatan night guard khusus bagi penderita bruxism.
Pada kasus yang lebih kompleks dengan kerusakan struktur sendi berat, tindakan bedah mulut di RS EMC Grha Kedoya dapat menjadi pilihan.
Bunyi pada rahang yang disertai nyeri bukanlah hal yang normal untuk dibiarkan berlarut-larut. Semakin cepat kondisi ini diperiksakan, semakin mudah pula penanganannya.
Jika Anda atau kerabat mengalami gejala tersebut, segera buat janji temu dengan drg Dicky Firmansyah, SpBMM, Subsp TMF-TMJ (K) di RS EMC Grha Kedoya pada Rabu pukul 16.00–19.00, Kamis pukul 16.00–19.00, Jumat pukul 15.00–17.00, atau Minggu pukul 10.00–14.00.
Tim medis RS EMC Grha Kedoya siap membantu Anda tersenyum dan mengunyah kembali dengan nyaman.