Kabar pariwisata

Dari Lantai Tanah hingga Kamar Mandi Bersih, InJourney Wujudkan Impian Rumah Layak Huni di Kaki Candi Prambanan dan Borobudur

Kompas.com - 22/01/2026, 20:25 WIB

KOMPAS.com – Hermiyati tidak pernah membayangkan hari itu akan tiba. Perempuan yang mengelola usaha penatu kecil-kecilan ini terbiasa hidup di rumah berukuran 4x8 meter dengan dinding non-permanen dan lantai tanah yang becek saat hujan.

Setiap tetes air dari langit selalu membawa kekhawatiran bagi ibu tiga anak asal Dusun Kwaron, Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, itu.

Namun, pada Kamis (15/1/2026), kekhawatiran itu sirna ketika InJourney Destination Management (IDM) meresmikan rumah layak huni baru untuk Hermiyati dan keluarga. Rumah berukuran 7x6 meter ini dilengkapi dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi bersih.

"Saya dan suami yang bekerja sebagai buruh harian tidak pernah menyangka akan memiliki rumah sebagus ini. Dulu rumah kami sempit, pengap, dan lantainya masih tanah," kenang Hermiyati dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Kini, ia bisa menjalankan usaha penatu dengan lebih nyaman. Anak-anaknya pun bisa tidur di kamar yang layak, bukan lagi di lantai tanah yang dingin dan lembap.

Kisah serupa dialami Siswanto, pedagang kaki lima berusia 74 tahun dari Dusun Gopalan, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Rumahnya yang tersusun dari tiang kayu, dinding bambu, lantai tanah, dan atap bambu dengan genteng tipis yang rawan bocor kini berganti menjadi bangunan kokoh berukuran 6x6 meter.

"Di usia saya yang sudah 74 tahun ini, memiliki rumah yang kokoh dan sehat adalah impian pribadi. Dulu, rumah saya jauh dari kata layak, tapi berkat bantuan dari PT Taman Wisata Candi (TWC), saya bisa beristirahat dengan tenang tanpa takut atap bocor atau dinding rapuh," tutur ayah dua anak itu.

Peresmian dua rumah layak huni (RLH) tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti serta penyerahan kunci rumah secara simbolis oleh Komisaris Utama IDM Muhammad Tri Andhika dan Direktur Utama IDM Febrina Intan. Agenda peresmian RLH di Borobudur turut dihadiri Bupati Magelang Grengseng Pamuji.

Komisaris Utama InJourney Destination Management (IDM) Muhammad Tri Andhika (kanan) menyerahkan potongan tumpeng kepada Siswanto saat peresmian rumah layak huni di kawasan Borobudur, Magelang, Kamis (15/1/2026). Inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar destinasi wisata. Dok. InJourney Komisaris Utama InJourney Destination Management (IDM) Muhammad Tri Andhika (kanan) menyerahkan potongan tumpeng kepada Siswanto saat peresmian rumah layak huni di kawasan Borobudur, Magelang, Kamis (15/1/2026). Inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar destinasi wisata.

Lebih dari sekadar bangunan fisik

Total bantuan senilai Rp 110 juta untuk pembangunan dua rumah ini dikerjakan dalam jangka waktu 45 hari. Namun, bagi IDM, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik program tanggung jawab sosial perusahaan.

"Lebih daripada membangun bangunan fisik, rumah ini merupakan simbol harapan baru, martabat, dan keamanan hidup bagi penerima manfaat. Kami berkomitmen melanjutkan program ini untuk bisa lebih banyak menjangkau, merenovasi rumah tidak layak huni khususnya di kawasan destinasi kami berada," jelas Febrina.

Program pembangunan rumah tidak layak huni ini menjadi wujud nyata kepedulian kepada masyarakat yang berada di lingkar terdekat perusahaan maupun destinasi. Inisiatif ini selaras dengan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam poin pengentasan kemiskinan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berada di sekitar TWC.

"Kami percaya bahwa hunian yang layak adalah fondasi utama bagi kesejahteraan warga. Komitmen kami untuk menghadirkan destinasi wisata yang tidak hanya kelas dunia, tetapi keberadaannya harus bermanfaat dan berdampak pada komunitas lokal," ucap Andhika.

Ekosistem pariwisata yang berkelanjutan

Sejak program pemberian RLH digulirkan, IDM telah menghadirkan 52 rumah layak huni di DIY dan Jawa Tengah. Kabupaten Magelang mencatat angka tertinggi dengan 18 rumah, disusul Kabupaten Klaten dengan 15 rumah, Kabupaten Sleman 10 rumah, dan Kabupaten Gunungkidul 9 rumah.

Capaian tersebut bukan semata-mata tentang jumlah, melainkan tentang memastikan tidak ada masyarakat di sekitar destinasi yang tertinggal dalam aspek standar kelayakan hidup sehat, nyaman, dan sejahtera.

Bagi IDM, keberhasilan sebuah destinasi wisata diukur dari seberapa besar dampak positif yang dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitarnya.

"Komitmen keberlanjutan tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik candi, tetapi juga pada penguatan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan. Di tahun ini, kami ingin bisa lebih menjangkau masyarakat, menghadirkan program-program berdaya yang lebih berdampak," ujar Febrina.

Saat matahari terbenam di balik Candi Prambanan dan Borobudur, Hermiyati dan Siswanto kini bisa beristirahat dengan tenang di rumah mereka yang baru. Tidak sekadar dinding kokoh yang mereka dapatkan, tetapi juga martabat dan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau