Advertorial

Setahun Hadir di Tengah Masyarakat, Program Ketahanan Pangan PNM Bantu Warga Penuhi Gizi dan Kebutuhan Pangan

Kompas.com - 26/01/2026, 14:35 WIB

 

KOMPAS.comKetahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga menjadi salah satu fokus utama pembangunan sosial di Indonesia.

Indonesia sendiri masih memiliki sejumlah permasalahan pangan, mulai dari dinamika harga bahan pokok hingga disparitas akses pangan di perkotaan dan perdesaan.

Berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional pada anak usia di bawah lima tahun turun menjadi 19,8 persen dari 21,6 persen pada 2022.

Meski demikian, angka tersebut masih di atas target nasional, yakni 18,8 persen, dan menunjukkan ketidakmerataan pemenuhan gizi seimbang di berbagai daerah.

Stunting dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan kapasitas produktif generasi mendatang. Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) pun hadir melalui program Rumah Pangan, Pekarangan Bergizi, dan Lorong Mekaar. Sepanjang 2025, program ketahanan pangan ini telah menjangkau 1.264 penerima manfaat di 27 titik sebaran Rumah Pangan.

Beragam komoditas dibudidayakan oleh nasabah dan komunitas setempat, seperti ayam petelur, budi daya ikan, sayuran, dan buah-buahan.

Program ini dirancang tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga meningkatkan kapasitas ekonomi rumah tangga melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara produktif.

Beri dampak nyata

Salah satu penerima manfaat program ini adalah nasabah PNM Mekaar Semarang di wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang mengikuti pendampingan melalui Rumah Pangan PNM. Mereka menyampaikan, program tersebut membuka peluang bagi keluarga untuk lebih berdaya dalam pemenuhan pangan.

Salah satu nasabah yang aktif dalam kelompok budi daya sayur dan ayam petelur, Laksmi, mengatakan bahwa program ini memberikan manfaat ganda bagi keluarganya.

Selain belajar teknik budi daya yang tepat, ia juga dapat memanfaatkan hasil panen untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga.

"Setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, sebagian hasil panen juga bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga," ujar Laksmi dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Sekretaris Perusahaan PNM Dodot Patria Ary menyampaikan, komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga terus diperkuat. Upaya ini, lanjutnya, juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kami terus meningkatkan program ketahanan pangan PNM untuk memberikan kebutuhan gizi masyarakat di desa-desa," kata Dodot.

Ia berharap, setiap penerima manfaat dapat berdaya secara ekonomi dan gizi. Program Rumah Pangan, Pekarangan Bergizi, dan Lorong Mekaar PNM telah menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis komunitas mampu menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Pendekatan yang memadukan ketersediaan pangan bergizi berbasis lokal, pelatihan teknis, serta peluang ekonomi dari hasil usaha tersebut telah mendorong perubahan positif.

Hal tersebut terlihat dari peningkatan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dengan jangkauan yang terus meluas, program ketahanan pangan PNM diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam mendukung pemenuhan gizi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang merata dan berkelanjutan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau