KOMPAS.com – Merek ban asal China, Sailun, telah meresmikan pembangunan fasilitas manufakturnya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026). Investasi yang dibenamkan anak perusahaan Sailun International Holding dalam pembuatan manufaktur itu mencapai 251,44 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 3,9 triliun.
Pabrik tersebut menjadi fasilitas produksi ketujuh Sailun di dunia dari total sembilan pabrik yang dimiliki secara global. Selain manufaktur, Sailun juga sudah memiliki empat pusat pengembangan produk atau research and development (R&D) di seluruh dunia.
Vice President of Manufacturing Center Sailun Grouni Gao Liting mengatakan, pabrik manufaktur di Demak menjadi bukti komitmen jangka panjang Sailun dalam menggarap pasar Indonesia.
"Ini merupakan proyek strategis dengan total investasi sebesar 251 juta dollar AS,” ujar Gao Liting seperti diberitakan Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Pabrik Sailun Indonesia akan memproduksi berbagai macam produk, yakni ban radial truk (TBR), ban radial mobil penumpang (PCR), ban khusus off the road (OTR), ban dalam, serta flap.
Pabrik tersebut juga tidak hanya membuat ban dengan merek dagang Sailun. Merek lain di bawah payung Sailun Group, yaitu RoadX, Blackhawk, dan Maxam, juga diproduksi di sana.
Gao Liting menjelaskan, kapasitas produksi tahunan pabrik dirancang untuk menghasilkan 3 juta ban mobil penumpang, 600.000 ban truk, serta 37.000 ton ban OTR.
Kapasitas itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan berbagai segmen, mulai dari kendaraan penumpang, kendaraan niaga, hingga alat berat.
Gao Liting melanjutkan, pemilihan Indonesia sebagai lokasi manufaktur bukan tanpa pertimbangan. Pertama, Indonesia merupakan salah satu pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. Industri otomotifnya pun berkembang pesat.
“Kehadiran pabrik lokal memungkinkan respons pasar yang jauh lebih cepat," katanya.
Kedua, jelas Gao Liting, pemilihan Indonesia berkaitan dengan optimalisasi jaringan manufaktur global Sailun.
"Bersama pabrik kami di Vietnam dan Kamboja, fasilitas Indonesia membentuk klaster manufaktur Asia Tenggara yang kuat, meningkatkan kemampuan pengiriman regional, ketahanan rantai pasok, dan daya saing global," ucapnya.
Ketiga, ketersediaan karet alam yang melimpah di Indonesia menjadi fondasi penting bagi produksi lokal dan optimasi biaya.
Strategi untuk pasar lokal
Agar dapat bersaing di pasar lokal, Sailun menerapkan sejumlah strategi. PCR/TBR Director PT Sailun Tire Indonesia Eko Supriyatin mengatakan, perusahaan akan meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada produk ban yang diproduksi di Indonesia. Strategi ini merupakan langkah penting dalam memenuhi kebutuhan industri otomotif nasional.
“Apakah Sailun akan menggunakan konten lokal? Pasti kami akan menggunakannya dan akan terus melakukannya karena saat ini harus memenuhi kebutuhan industri yang menuntut peningkatan penggunaan bahan baku lokal,” terang Eko.
Menurut Eko, pemanfaatan bahan baku lokal tidak hanya terbatas pada karet. Sailun juga mulai menggunakan berbagai material lain yang tersedia di dalam negeri.
“Beberapa sudah diterapkan, seperti penggunaan benang dan kawat," ujar Eko.
Meski demikian, penggunaan karet lokal masih dalam tahap evaluasi. Sailun ingin memastikan kualitas bahan baku sesuai dengan standar produk yang akan dihasilkan.
"Untuk saat ini, penggunaan karet masih terus dievaluasi agar sesuai dengan tingkat kualitas yang akan kami produksi," kata Eko.
Sailun juga membuka peluang untuk membangun fasilitas pendukung secara mandiri, termasuk rencana pengembangan sumber bahan baku sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Kami sudah memiliki rencana (membuat perkebunan karet). Implementasinya bergantung pada situasi. Sebenarnya ini tidak mudah," ucap Eko.
Eko menjelaskan, rencana tersebut tetap harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah.
"Misalnya kami membuat kebun, tapi pemerintah bilang bahwa kebun punya pemerintah sudah banyak. Akhirnya, kami menggunakan pekerjaan dari pemerintah," katanya.
Terkait nilai pasti TKDN, Eko menyebut, saat ini Sailun masih dalam tahap awal operasional sehingga tingkat kandungan lokal masih terus dijajaki.
"Untuk tingkat TKDN, saat ini masih dalam tahap penjajakan dan disesuaikan dengan kapasitas produksi karena operasional baru dimulai," ujar Eko.
Bidik ban OEM
Ban Sailun tidak hanya membidik pasar penggantian ban ritel atau replacement, tetapi juga menyasar segmen original equipment manufacturer (OEM). Ban OEM merupakan ban yang dipasok langsung ke pabrikan kendaraan dan digunakan sebagai perlengkapan standar pada mobil baru.
Eko mengatakan, berbagai merek kendaraan China dan merek baru mulai masuk ke pasar Indonesia. Kondisi ini membuka peluang lebih besar bagi penggunaan ban OEM.
Peluang tersebut sejalan dengan tuntutan pemerintah kepada pabrikan otomotif untuk meningkatkan TKDN, yakni persentase kandungan lokal pada sebuah produk.
Ban Sailun. “Betul, itu kesempatan yang sangat bagus. Bahkan, pabrikan yang sudah jual mungkin bisa lihat nanti di jalanan itu sudah banyak yang pakai Sailun. Kami akan masuk pakai lokal selanjutnya," kata Eko.
Eko menambahkan, produk Sailun mulai digunakan pada salah satu model mobil listrik VinFast.
“Selama ini yang sudah mulai dengan ban produksi lokal mulai Februari itu adalah VinFast. Kendaraan yang akan mulai dengan produk lokal kami ada VF3 mungkin VF5," ucapnya.
Selain itu, Eko menyebut, pihak Chery Indonesia juga tertarik menggunakan ban Sailun di beberapa model. Namun, Eko belum bisa menyebut lebih jauh.
"Chery kemarin sempat datang, tapi kami belum tahu mau diaplikasikan di model apa. Apakah di Tiggo 7 atau Tiggo 8 CSH? Kalau tidak salah dari sana ada yang pakai Sailun. Pihak Chery sudah audit kami pada Desember 2025 dan hasilnya memuaskan. Kalau dengan pabrik mobil, OEM itu tidak mudah, ada prosedur-prosedur masalah teknikal aspeknya, produksi aspek, supply aspek mereka semua harus komplet dulu," ujar Eko.
Hanya produksi ban radial
Menariknya, Sailun tidak memproduksi ban bias (diagonal). Sailun hanya memproduksi ban radial. Meskipun saat ini konsumen Indonesia masih banyak pakai ban bias, terutama pada kendaraan niaga dan sektor tertentu.
GM PT Sailun Manufacturing Indonesia Wang Dian Ying menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan jangka panjang.
"Keputusan ini tidak dikarenakan kami mengabaikan kondisi pasar saat ini, tetapi didorong oleh komitmen jangka panjang terhadap kepentingan pengguna Indonesia serta keyakinan kami terhadap arah perkembangan pasar ke depan," tutur Wang.
Wang pun menjelaskan tiga pertimbangan utama Sailun hanya memilih memproduksi ban radial.
Pertama, arah kemajuan teknologi yang dinilai tidak terelakkan. Menurutnya, secara global ban radial telah terbukti unggul dalam aspek keselamatan, efisiensi bahan bakar, dan daya tahan ketimbang ban bias.
"Dengan langsung membangun lini produksi tercanggih di Indonesia, kami ingin memimpin dan mempercepat peningkatan teknologi ini," ujar Wang.
Kedua, Sailun ingin menawarkan nilai jangka panjang kepada konsumen, bukan sekadar harga awal yang lebih murah.
"Memang investasi awal ban radial sedikit lebih tinggi, tapi kami fokus pada penurunan total cost of ownership. Melalui data dan studi kasus nyata, kami membantu pengemudi dan pemilik armada melihat manfaat ekonomis jangka panjang dari penghematan bahan bakar dan usia pakai yang lebih panjang," jelasnya.
Ketiga, komitmen terhadap investasi dan lokalisasi. Sailun tidak membangun pabrik yang beradaptasi pada teknologi usang, tetapi fasilitas modern yang siap memenuhi kebutuhan 10 tahun ke depan atau lebih.
"Kami membawa teknologi terbaik langsung ke Indonesia karena kami percaya pada potensi pasar ini dan ingin tumbuh bersama," kata Wang.
Optimistis diterima di pasar Indonesia
President of Sailun Group Xie Xiao Hong optimistis, produknya dapat diterima dengan baik di pasar Indonesia.
Optimisme tersebut salah satunya didorong oleh citra merek Sailun yang dinilai positif di kancah global.
Xie Xiao Hong menyebutkan, Sailun Group kini telah menembus jajaran produsen ban terbesar ke-10 di dunia dan mampu bersaing dengan sejumlah merek ban global lain yang telah lebih dulu eksis.
Untuk bersaing di pasar Indonesia, Sailun berupaya menyeimbangkan posisinya sebagai merek global dengan penyediaan produk berkualitas yang tetap terjangkau.
"Di Indonesia, kami tidak memilih antara dua opsi tersebut, tetapi menggabungkannya, yakni menghadirkan teknologi kelas dunia untuk memberikan solusi dengan nilai terbaik bagi pasar Indonesia," tutur Xie Xiao Hong.
Xie Xiao Hong menambahkan, saat ini teknologi bersifat inklusif sehingga produk Sailun yang dijual di Indonesia pada dasarnya memiliki kualitas yang sama dengan produk yang dipasarkan di berbagai belahan dunia lainnya.
"Teknologi inti kami yang terdepan secara global seperti chemical mixing technology diterapkan ke seluruh lini produk melalui manufaktur cerdas berskala besar dan produksi lokal. Dengan demikian, konsumen Indonesia dapat menikmati manfaat utama berupa keselamatan yang lebih tinggi, efisiensi bahan bakar, dan daya tahan yang lebih baik dengan biaya yang lebih ekonomis," ucapnya.
Xie Xiao Hong melanjutkan, harga produk harus relevan dengan kebutuhan pasar. Menurutnya, esensi dari konsep “value for money” terletak pada kesesuaian antara harga dan manfaat yang diterima konsumen.
"Kami melakukan pengembangan khusus dan optimasi formulasi berdasarkan kondisi jalan, iklim, dan tipe kendaraan utama di Indonesia sehingga produk benar-benar menjawab kebutuhan lokal. Sebagai contoh, produk batch pertama kami telah dioptimalkan khusus untuk performa di kondisi panas dan curah hujan tinggi," jelas Xie Xiao Hong.
Xie Xiao Hong menegaskan, komitmen perusahaan sangat jelas, yakni memastikan ban yang dipasarkan memberikan manfaat nyata bagi konsumen.
"Setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen Indonesia harus memberikan imbal hasil yang andal dan jauh melampaui ekspektasi, berkat dukungan teknologi kelas dunia," katanya.