KOMPAS.com - Di tengah percepatan digital dan tuntutan modernisasi, perempuan penenun Endek di Bali berada pada persimpangan penting, yakni antara menjaga warisan budaya dan memperkuat keberlanjutan usaha.
Berangkat dari situasi itu, Politeknik Pariwisata Bali dan Griffith University Australia berkolaborasi menjalankan program Digital Empowerment Training for Women-led Weaving Businesses untuk perempuan penekun usaha Endek dan Songket.
Program pemberdayaan digital tersebut didukung Pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Institute Grant di bawah Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.
Sebanyak 100 perempuan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tenun Endek dan Songket di Kabupaten Klungkung dan wilayah sekitarnya mengikuti kegiatan itu.
Para peserta diharapkan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha di era digital seusai ikut pelatihan.
Pelaksanaan kegiatan dijadwalkan dalam empat cohort sepanjang Januari dan Februari 2026. Skema ini dipilih untuk memastikan pembelajaran berlangsung bertahap, inklusif, serta memberi dampak yang berkelanjutan.
Materi pelatihan dirancang secara khusus yang mencakup pengembangan kehadiran digital, social media storytelling, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan visibilitas, memperluas jangkauan pasar, dan memperkuat daya saing produk tenun.
Direktur Politeknik Pariwisata Bali Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, ST, MKes, mengatakan, program ini sejalan dengan arah kebijakan institusi dalam memperkuat pendidikan vokasi berbasis komunitas.
“Politeknik Pariwisata Bali mendorong pendidikan vokasi yang benar-benar hadir di tengah masyarakat. Melalui program ini, perempuan penenun tidak hanya diperkuat keterampilan digitalnya, tetapi juga perannya sebagai pelaku utama ekonomi kreatif dan penjaga budaya,” ujar Puja, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Puja menambahkan, program pelatihan juga mencerminkan fokus utama DFAT–AII, yaitu memperkuat people-to-people connections, mendorong capacity building, memprioritaskan pemberdayaan perempuan, serta memperkuat kolaborasi jangka panjang antara Australia dan Indonesia melalui transfer pengetahuan yang berkelanjutan.
Perwakilan Politeknik Pariwisata Bali, Griffith University Australia, dan mitra program berfoto bersama di sela kegiatan Digital Empowerment Training for Women-led Weaving Businesses. Program Director of Research Studies, Griffith Business School, Griffith University Associate Professor, Dr. Elaine Yang mengatakan bahwa kolaborasi berbasis komunitas ini memiliki dampak global.
“Bekerja langsung dengan perempuan penenun memungkinkan pertukaran pengetahuan dua arah. Proyek ini menunjukkan bahwa inovasi digital dapat memperkuat budaya lokal serta membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih jauh, proyek tersebut juga menyusun peta jalan (roadmap) untuk mereplikasi model pemberdayaan digital ini ke sektor budaya lain serta desa-desa wisata terpencil di Indonesia. Kemitraan ini juga dapat menjadi contoh kolaborasi internasional yang berkelanjutan dan berdampak nyata.