Advertorial

Ini Bahaya DKA bagi Pasien Diabetes dan Rujukan Rumah Sakit bila Terjadi Kondisi Gawat Darurat

Kompas.com - 28/01/2026, 21:50 WIB

KOMPAS.com - Komplikasi akut pada diabetes dapat berkembang cepat menjadi kondisi gawat darurat, seperti Ketoasidosis Diabetikum (DKA).

Dalam hitungan jam, penderita bisa mengalami rasa lemah, pingsan, hingga koma yang mengancam nyawa.

Untuk mengatasi hal tersebut, Emergency 24 jam Mayapada Hospital Jakarta Selatan siap menangani kondisi ini dengan cepat dan tepat, berstandar internasional bersama tim dokter spesialis penyakit dalam yang siaga, dan berada di rumah sakit selama 24 jam.

Salah satu anggota tim dokter tersebut, dr Herry Nursetiyanto, SpPD-KEMD, FINASIM, menjelaskan, DKA adalah komplikasi akut diabetes yang sering tidak disadari, tetapi dapat berakibat serius.

DKA terjadi karena tubuh kekurangan insulin sehingga gula tidak dapat digunakan sebagai energi. Kondisi ini membuat tubuh memecah simpanan lemak (trigliserida) menjadi asam lemak bebas.

Selanjutnya, asam lemak bebas di dalam organ hati diolah sehingga menghasilkan senyawa keton yang bersifat asam dan dilepaskan dalam aliran darah.

“Penumpukan keton inilah yang membuat darah menjadi asam dan berbahaya,” kata dr Herry dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Dokter Herry melanjutkan, beberapa gejala yang sering dianggap sepele, tetapi bisa berujung serius antara lain adalah haus berlebihan, sering buang air kecil, mual, muntah, sakit perut, napas cepat dan dalam, mulut berbau aseton, lemas ekstrem, sulit berkonsentrasi, kulit kering, dan dehidrasi berat.

“Koma ketoasidosis atau DKA bisa berakibat fatal bila terlambat ditangani. Jika penderita diabetes tiba-tiba pingsan, itu sudah pertanda darurat,” ungkapnya.

Saat kondisi ini terjadi, pasien perlu segera mendapatkan penanganan medis di IGD rumah sakit terdekat. Pasien tidak bisa hanya menunggu hingga sadar sendiri.

Untuk mengatasi dehidrasi, pasien akan diberikan cairan infus. Suntikan insulin juga diberikan untuk menurunkan gula darah.

“Dokter juga akan mengoreksi keseimbangan garam mineral tubuh (elektrolit), mencari penyebab DKA, serta pemantauan ketat oleh dokter,” tambah dr Herry.

Oleh karena itu, dr Herry mengimbau pasien diabetes dan keluarga untuk memahami tanda darurat DKA dan segera membawanya ke rumah sakit. Salah satunya adalah layanan Emergency 24 jam Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Fiktorius Kuludong, MM menjelaskan, pasien diabetes dan keluarganya harus memahami tanda darurat DKA dan segera membawanya ke rumah sakit.

Di Emergency 24 Jam Mayapada Hospital Jakarta Selatan, penanganan DKA didukung dokter spesialis penyakit dalam yang berada di rumah sakit selama 24 jam.

“Perawatan lanjutan dapat melibatkan dokter spesialis anestesi jika diperlukan tindakan bedah atau perawatan lanjutan secara intensif,” kata dr Fiktorius.

Tim dokter spesialis dan subspesialis Mayapada Hospital, kata dr Fiktorius, siaga di rumah sakit selama 24 jam, baik di layanan poliklinik pada pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB ataupun malam hari dari pukul 20.00 WIB hingga 08.00 WIB.

Dengan demikian, tim dokter dapat selalu memastikan keselamatan (patient safety), kenyamanan pasien (patient experience), serta fokus pada pasien (patient-centered care) melalui tim medis berpengalaman dan fasilitas lengkap.

“Pasien dapat mengakses layanan ini melalui call center 150990 atau emergency call di aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital,” kata dr Fiktorius.

Tak hanya penanganan yang tepat, tindakan pencegahan juga tak kalah penting. Mayapada Hospital Jakarta Selatan juga memiliki layanan Sugar Clinic untuk membantu mengendalikan kadar gula darah lewat pemeriksaan gula darah gratis.

Selain itu, layanan ini juga memiliki skrining risiko prediabetes/diabetes dengan teknologi AI, konsultasi langsung dengan dokter, serta program manajemen diabetes yang menyeluruh untuk mendukung kesehatan metabolisme.

Informasi lain seputar kesehatan dapat ditemukan dalam fitur Health Articles & Tips di aplikasi MyCare. Selain itu, pasien juga bisa mengakses personal health yang terintegrasi dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau jumlah langkah, kalori terbakar, detak jantung, hingga BMI.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau