Advertorial

Industri Hijau dan Tantangan Risiko Iklim dalam Transisi Berkelanjutan Indonesia

Kompas.com - 29/01/2026, 13:58 WIB

KOMPAS.com — Pengembangan industri hijau tengah menjadi perbincangan hangat dalam diskusi investasi di Indonesia.

Dalam Second Nationally Determined Contribution (SNDC), transformasi industri menjadi salah satu aksi kunci yang mendorong pencapaian net-zero emission (NZE) pada 2060.

Sebagai komitmen iklim yang telah diserahkan oleh Pemerintah Indonesia kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada Oktober 2025, pencapaian SNDC akan menjadi perhatian global. 

Dalam SNDC, transformasi yang akan dilakukan di antaranya adalah pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT), penggantian teknologi yang lebih efisien pada sektor intensif karbon, serta pengelolaan sampah sebagai sumber energi.

Oleh karena itu, industri hijau dipandang sebagai salah satu katalis perubahan menuju masa depan rendah emisi melalui potensi transformasi teknologi.

Seiring peningkatan peran industri hijau, pelaksanaan upaya keberlanjutan dalam operasionalnya pun kian mendapat sorotan dari para pemangku kepentingan.

Mengulik dampak dan risiko iklim

Perusahaan-perusahaan di industri hijau memiliki potensi besar dalam mendukung mitigasi perubahan iklim melalui dampak positif dari kegiatan dan produk yang dihasilkan.

Salah satunya, dengan menyediakan solusi alternatif bagi bisnis konvensional yang menghasilkan emisi tinggi. Contohnya, perusahaan penyedia EBT menawarkan sumber energi yang lebih bersih jika dibandingkan energi fosil.

Dengan demikian, perusahaan pengguna EBT berkontribusi langsung terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, peningkatan kualitas udara, serta penciptaan peluang kerja baru.

Dampak tersebut umumnya dikenal sebagai pengaruh kegiatan perusahaan terhadap perubahan iklim dari perspektif internal ke eksternal (inside-out).

Di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa perusahaan di industri hijau juga tidak terlepas dari risiko perubahan iklim. Bagi penyedia EBT, misalnya, cuaca ekstrem dan peningkatan frekuensi bencana alam dapat mengganggu operasional ataupun pemanfaatan teknologi.

Gangguan-gangguan tersebut dapat berupa kerusakan infrastruktur, terputusnya rantai pasokan, hingga penurunan produktivitas tenaga kerja.

Risiko semacam tersebut dikenal sebagai dampak dari perspektif eksternal ke internal (outside-in), yakni pengaruh lingkungan terhadap kinerja dan ketahanan perusahaan.

Urgensi perspektif outside-in semakin menguat seiring perkembangan standar pelaporan keberlanjutan yang menuntut transparansi lebih tinggi, salah satunya melalui penerbitan IFRS Sustainability Disclosure Standards (IFRS S1 dan IFRS S2). Indonesia sendiri telah mengadopsi standar tersebut ke dalam Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK) 1 dan 2.

Standar tersebut akan mewajibkan semua perusahaan publik di Indonesia untuk melaporkan risiko dan peluang terkait iklim memengaruhi aspek finansial, strategi jangka panjang serta ketahanan model bisnis mereka efektif di tahun 2027.

Kewajiban pelaporan itu menjadi tantangan tersendiri, mengingat perspektif inside-out selama ini lebih umum digunakan oleh para pelapor di Indonesia.

Dalam diskusi mengenai lanskap keberlanjutan yang diselenggarakan oleh EY Indonesia, para pelaku usaha membagikan berbagai tantangan dan peluang dalam mengungkapkan risiko iklim melalui perspektif outside-in.

Melampaui iklim, merangkul alam

Iklim juga memiliki hubungan resiprokal dengan komponen alam. Hal ini mendorong beberapa perusahaan untuk mengadopsi rekomendasi Taskforce for Nature-related Financial Disclosures (TNFD), terutama bagi perusahaan yang terletak di wilayah rawan bencana.

Pengungkapan TNFD mencakup aspek land (tanah), ocean (lautan), fresh water (air tawar), society (masyarakat), dan atmosphere (atmosfer).

Salah satu contoh relevan di industri hijau adalah tingginya ketergantungan perusahaan produsen baterai kendaraan listrik terhadap pasokan air tawar. Ketergantungan ini menimbulkan risiko besar terhadap kegiatan dan kapasitas produksi apabila pasokan air tawar mengalami kontaminasi atau pembatasan akibat regulasi pemerintah.

Meski pengungkapan terkait komponen alam belum bersifat wajib, pelaku industri hijau yang bergantung pada kondisi alam dapat mengambil peran sebagai inisiator.

Dengan melaporkan interaksi perusahaan dengan alam serta berbagai aktivitas positif yang mendukung ketangguhan iklim, perusahaan dapat memperkuat daya tahannya.

Di tengah dinamika perubahan iklim dan alam, pengungkapan risiko berbasis perspektif outside-in berpotensi meningkatkan ketahanan finansial, menumbuhkan kepercayaan investor, serta memperkuat keyakinan pemangku kepentingan.

Langkah awal bagi industri hijau untuk upaya keberlanjutan

Untuk memastikan kelangsungan bisnis di industri hijau, pengkajian dampak dari perspektif outside-in yang sering luput dari perhatian menjadi semakin penting.

Dari berbagai skema yang tersedia, dua opsi yang kerap digunakan adalah asesmen risiko dan peluang iklim dan keberlanjutan (climate and sustainability risk and opportunity assessment) dan analisis skenario iklim (climate scenario analysis).

Asesmen risiko dan peluang membantu perusahaan mengidentifikasi isu-isu material yang relevan. Sementara itu, analisis skenario menguji ketahanan perusahaan dalam berbagai kondisi masa depan.

Hasil dari dua kajian ini dapat menjadi landasan dalam memperkuat strategi bisnis, manajemen risiko, serta pemenuhan kebutuhan pengungkapan PSPK 1 dan 2, dan TNFD.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman Climate Change & Sustainability Services | EY Indonesia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau