Advertorial

ASRI Kompas Gramedia dan Unilever Indonesia Dorong Pendidikan Keberlanjutan lewat Kolaborasi Pentaheliks

Kompas.com - 30/01/2026, 16:16 WIB

KOMPAS.com — Di tengah meningkatnya urgensi isu keberlanjutan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun kesadaran dan perilaku ramah lingkungan sejak usia sekolah.

Berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, degradasi ekosistem, hingga keselamatan dan tanggung jawab sosial di ruang publik, kian dekat dengan keseharian generasi muda.

Namun, kedekatan tersebut belum selalu diiringi dengan pemahaman dan kebiasaan yang berkelanjutan.

Di banyak sekolah, pendidikan keberlanjutan masih kerap diposisikan sebagai materi tambahan atau kampanye sesaat.

Pendekatan yang terlalu konseptual dan minim praktik membuat pembelajaran sulit diterjemahkan menjadi aksi nyata.

Padahal, perubahan perilaku membutuhkan proses jangka panjang, ruang dialog yang terbuka, serta dukungan ekosistem yang memungkinkan pelajar dan guru untuk belajar, mencoba, dan bertumbuh bersama.

Tantangan tersebut semakin kompleks karena isu keberlanjutan bersifat lintas sektor. Lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pendidikan, peran komunitas, kontribusi dunia usaha, serta dukungan akademisi.

Tanpa kolaborasi yang terstruktur, berbagai inisiatif berisiko berjalan sendiri-sendiri dan kehilangan potensi dampak jangka panjang.

Melihat kompleksitas tersebut, Unilever Indonesia menunjukkan komitmen untuk terlibat aktif dalam upaya mengatasi tantangan keberlanjutan, khususnya melalui pendekatan edukatif yang berdampak jangka panjang.

Bagi Unilever, keberlanjutan tidak sekadar menjadi agenda korporasi, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan yang relevan dan kontekstual.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Kompas Gramedia dalam Program Akademi Sekolah Lestari (ASRI).

Program tersebut dirancang sebagai upaya membangun pendidikan keberlanjutan berbasis kolaborasi pentaheliks yang mempertemukan lima unsur utama—pemerintah, akademisi, komunitas, sektor swasta, dan media—dalam satu ekosistem pembelajaran yang saling melengkapi.

“Keberlanjutan adalah gerakan kolektif yang melibatkan semua pihak. Mari kita ajak, latih, dan biasakan untuk masa depan yang lebih lestari,” ujar Head of Sustainable Environment Unilever Indonesia Foundation Maya Tamimi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Peran Unilever dalam program ASRI

Sebagai mitra utama, Unilever Indonesia berperan strategis memastikan Program ASRI tidak berhenti pada kampanye semata, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang berdampak nyata.

Unilever terlibat aktif dalam pengembangan materi e-course keberlanjutan, mulai dari perumusan topik hingga pendekatan pembelajaran yang relevan dengan realitas keseharian generasi muda.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan ASRI Awards 2025, dengan dukungan penunjang kebutuhan sekolah bagi 19 sekolah pemenang.

Dukungan itu menjadi bentuk apresiasi sekaligus investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.

Selain itu, dalam rangkaian roadshow ke berbagai sekolah, Unilever turut mendukung kegiatan melalui penyediaan produk yang menunjang kesehatan dan kebersihan diri peserta.

Peran tersebut menegaskan posisi Unilever sebagai mitra yang tidak hanya mendorong kesadaran, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang dapat dirasakan langsung oleh komunitas pendidikan.

Dukungan pemerintah

Dukungan Kemendikdasmen memperkuat kolaborasi pendidikan keberlanjutan Dok. ASRI Dukungan Kemendikdasmen memperkuat kolaborasi pendidikan keberlanjutan

Pelaksanaan Program ASRI mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Dukungan tersebut berperan penting dalam memperluas jangkauan program sekaligus memastikan materi edukasi selaras dengan arah kebijakan nasional dan kebutuhan di tingkat lokal.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga membuka ruang adaptasi sesuai konteks masing-masing wilayah.

Sekolah didorong untuk memahami isu keberlanjutan yang paling relevan di lingkungannya, sehingga solusi yang dihadirkan bersifat kontekstual dan aplikatif.

Keterlibatan komunitas

Komunitas menjadi pilar penting dalam ekosistem Program ASRI. Program ini melibatkan berbagai komunitas yang bergerak di bidang lingkungan dan edukasi, seperti Kebun Kumara, Indonesian ESG Professional Association (IEPA), Sebentala, Sporadies, PT AMS, Warriors Nusantara Indonesia, dan Veritas Edukasi Lingkungan.

Keterlibatan komunitas memperkaya proses pembelajaran melalui pengalaman lapangan, praktik baik, dan pendekatan yang lebih membumi.

Pelajar dan guru tidak hanya memperoleh pengetahuan dari materi pembelajaran, tetapi juga belajar dari contoh nyata di masyarakat.

Kolaborasi dengan sektor bisnis

Kolaborasi lintas sektor dalam Program ASRI diperkuat melalui kemitraan dengan sektor bisnis. Melalui keterlibatan ini, pelajar diperkenalkan pada penerapan prinsip keberlanjutan sebagai praktik nyata di berbagai industri.

Kerja sama dengan swasta juga diwujudkan dalam pengembangan materi pembelajaran. Program ASRI bekerja sama dengan Noovoleum melalui booth aktivasi penukaran minyak jelantah menjadi poin, serta dengan tiket.com dalam pengembangan e-course Sustainable Tourism.

Melalui e-course tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep keberlanjutan di sektor pariwisata yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan dan sosial.

Selain isu lingkungan, Program ASRI juga memperluas perspektif keberlanjutan melalui kolaborasi dengan Jasa Raharja, yang mengangkat aspek keselamatan dan perilaku berkendara sebagai bagian dari tanggung jawab sosial di ruang publik.

Peran institusi pendidikan dan akademisi

Kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi kunci dalam memperluas dampak Program ASRI. IPB University dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berperan sebagai mitra utama dalam pengembangan kurikulum, penyusunan materi e-course, serta penguatan kerangka akademik agar materi berbasis ilmiah dan relevan.

Kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui pemberian beasiswa bagi pemenang Program ASRI sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda yang menunjukkan komitmen di bidang keberlanjutan.

Di tingkat sekolah menengah, Program ASRI menjangkau pelajar melalui program roadshow dan ASRI Goes to School dengan melibatkan sekolah, seperti SMKN 2 Bandung, SMAN 3 Yogyakarta, SMAN 75 Jakarta, SMAN 54 Jakarta, SMAN 34 Jakarta, dan SMK Perguruan Cikini.

Selain institusi, akademisi turut dilibatkan sebagai penyusun dan pengulas materi, pembicara diskusi, serta juri penilaian proyek peserta.

Keterlibatan itu memastikan ide dan solusi yang dihasilkan tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki dasar keilmuan yang kuat dan aplikatif.

Kolaborasi dengan media

Penyebaran nilai dan semangat keberlanjutan dalam Program ASRI diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai media nasional, seperti Kompas.com, Kompas TV, Kontan, Tribun Network, National Geographic Indonesia, dan Kompas.id.

Media berperan dalam mengamplifikasi pesan program, memperluas jangkauan informasi, serta menghadirkan narasi keberlanjutan yang relevan bagi masyarakat luas.

Melalui pemberitaan dan liputan lintas kanal, media menjadi jembatan antara inisiatif Program ASRI dan publik, sekaligus mendorong keterlibatan lebih banyak pihak dalam membangun aksi keberlanjutan secara kolektif.

Para juri Kompetisi 2025 yang terdiri dari perwakilan kolaborais pentaheliks Dok. ASRI Para juri Kompetisi 2025 yang terdiri dari perwakilan kolaborais pentaheliks

Melalui pendekatan pentaheliks, ASRI bersama Unilever Indonesia berupaya membangun model pendidikan keberlanjutan yang inklusif dan dapat direplikasi, baik di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Model tersebut menempatkan sekolah sebagai titik awal perubahan, sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai bagian dari solusi atas tantangan keberlanjutan di Indonesia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau