KOMPAS.com – Rasa pegal di punggung atau tampilan bahu yang tampak tidak sejajar kerap dianggap sepele. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda skoliosis, yakni kelengkungan tulang belakang berbentuk huruf “C” atau “S”.
Skoliosis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jenis kelamin, usia, hingga faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga.
Karena faktor keturunan berperan, orangtua perlu lebih waspada terhadap kemungkinan skoliosis pada anak di tengah kesibukan bekerja ataupun beraktivitas sehari-hari.
Maka dari itu, memahami gejala dan pilihan penanganan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi berkembang semakin berat.
Skoliosis umumnya dapat dikenali sejak usia anak-anak. Namun, kondisi ini juga bisa muncul atau terdeteksi pada usia dewasa.
Pada orang dewasa, skoliosis dapat terjadi akibat proses penuaan (degeneratif). Bisa juga karena skoliosis yang tidak terdiagnosis dan tidak ditangani dengan tepat sejak kecil sehingga baru menimbulkan keluhan seiring bertambahnya usia.
Secara klinis, skoliosis ditandai dengan bahu dan pinggul yang tidak sejajar, tulang belikat atau tulang rusuk yang lebih menonjol di salah satu sisi, serta garis pinggang yang tampak miring.
Pada beberapa kasus, skoliosis juga dapat disertai nyeri punggung, penurunan tinggi badan, hingga keluhan yang lebih serius, seperti napas pendek dan rasa cepat kenyang, akibat perubahan ruang pada rongga dada dan perut.
Skoliosis pada orang dewasa
Jenis skoliosis pada orang dewasa juga beragam, tergantung pada penyebabnya. dr. Abdul Kadir Hadar, SpOT (K) di Mayapada Hospital Bandung menjabarkan bahwa skoliosis idiopatik merupakan jenis yang paling umum.
Namun, imbuhnya, penyebab skoliosis jenis itu belum diketahui secara pasti, meskipun faktor keturunan diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi.
Selain itu, terdapat skoliosis kongenital yang terjadi akibat kelainan sejak dalam kandungan. Kemudian, skoliosis neuromuskular yang disebabkan oleh gangguan saraf dan otot penyangga tulang belakang, seperti pada cerebral palsy atau spina bifida.
“Ada pula skoliosis sindromik yang berkaitan dengan kelainan genetik, misalnya Sindrom Marfan dan Sindrom Ehlers-Danlos,” kata dr Abdul Kadir.
Penanganan skoliosis
Penanganan skoliosis bergantung pada derajat kelengkungan tulang belakang yang diketahui melalui pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis ortopedi.
dr. Starifulkani Arif, SpOT (K), FICS di Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan bahwa pendekatan medis akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi.
Dokter Starifulkani mengatakan, pada kasus skoliosis ringan dengan tingkat kelengkungan di bawah 25 derajat, penanganan utama adalah observasi.
“Pemeriksaan rutin dilakukan setiap enam bulan. Sedangkan, pemeriksaan rontgen lanjutan biasanya dilakukan setahun sekali untuk memastikan kelengkungan tidak bertambah,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).
Pada skoliosis derajat sedang dengan kelengkungan antara 25 hingga 45 derajat, dokter umumnya merekomendasikan penggunaan alat penyangga atau brace. Tujuannya, untuk mencegah kelengkungan semakin bertambah dan membantu mengurangi keluhan nyeri.
Selain itu, terapi fisik juga disarankan untuk memperkuat otot tulang belakang, meningkatkan fleksibilitas, memperbaiki postur tubuh, serta meredakan nyeri. Bentuk terapi meliputi latihan peregangan, penguatan otot inti, hingga aktivitas fisik dengan beban rendah, seperti berenang.
Sementara itu, pada skoliosis berat dengan kelengkungan lebih dari 45 derajat, tindakan operasi menjadi salah satu pilihan.
“Operasi spinal fusion dilakukan untuk mengatur kembali dan menggabungkan tulang belakang agar menjadi satu struktur yang solid serta menghilangkan penekanan pada saraf,” tuturnya.
Pendekatan pengobatan pada pasien anak memiliki karakteristik tersendiri. Menurut dr Starifulkani, skoliosis ringan pada anak umumnya tidak memerlukan penggunaan brace atau tindakan pembedahan.
Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan pemantauan rutin untuk mendeteksi perubahan kelengkungan seiring pertumbuhan anak.
“Pada anak dengan skoliosis derajat sedang, penggunaan brace dapat membantu mencegah kondisi semakin berat dan mengurangi derajat kelengkungan tulang belakang yang masih dalam masa pertumbuhan,” jelasnya.
Penanganan skoliosis sebaiknya selalu dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter spesialis ortopedi, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Masyarakat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi yang berpraktik di Orthopedic Center Mayapada Hospital, termasuk dr Abdul Kadir dan dr Starifulkani.
Orthopedic Center Mayapada Hospital menyediakan layanan ortopedi yang komprehensif dan berstandar internasional. Layanannya mencakup deteksi dini, diagnosis, tindakan medis dan terapi, hingga perawatan pascatindakan untuk berbagai kasus tulang, sendi, dan otot.
Untuk memudahkan akses layanan, pasien dapat menjadwalkan konsultasi melalui aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital.
Aplikasi tersebut juga menyediakan berbagai informasi kesehatan melalui fitur Health Articles & Tips, termasuk kisah keberhasilan Orthopedic Center dalam menangani kasus ortopedi secara advanced.
Selain itu, MyCare juga dilengkapi fitur Personal Health yang dapat membantu memantau kondisi kebugaran, seperti detak jantung, jumlah langkah kaki, kalori yang terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).
Aplikasi MyCare dapat diunduh melalui App Store dan Google Play Store. Pengguna baru aplikasi akan mendapatkan bonus reward point dapat digunakan sebagai potongan harga layanan di seluruh unit Mayapada Hospital.