KOMPAS.com – Di balik kenyamanan gaya hidup serba digital, terselip risiko besar bernama sedentary lifestyle yang sering kali mengintai para kaum “rebahan”. Kebiasaan kurang gerak ini tanpa disadari dapat mengancam kesehatan jantung dan menurunkan kualitas hidup secara perlahan.
Sedentary lifestyle merupakan istilah yang mengacu pada kebiasaan hidup yang ditandai oleh kurangnya aktivitas fisik, seperti duduk atau berbaring selama berjam-jam setiap hari.
Oleh karena itu, inilah saat yang tepat bagi kaum ‘mager’ dan kaum ‘rebahan’ untuk mengubah pola hidup sedentary lifestyle menjadi lebih sehat.
Menyadari fenomena tersebut, dr Aron Husink, SpJP (K), FIHA dari Mayapada Hospital Tangerang menyebut, sedentary lifestyle semakin tak terhindarkan karena kecanggihan teknologi serta pola makan serba tinggi lemak dan gula.
Kebiasaan tersebut pun dapat memicu gangguan kesehatan lainnya, seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes yang berpotensi mengakibatkan peradangan dalam tubuh dan kerusakan pembuluh darah.
“Pola makan tak sehat serta kurangnya aktivitas fisik ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat yang kemudian menumpuk pada dinding pembuluh darah yang rusak. Akumulasi ini membentuk plak (aterosklerosis) yang menyempitkan pembuluh darah, dan pada akhirnya menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Penyakit Jantung Koroner (PJK),” jelas Dokter Aron dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).
Hal senada juga disampaikan oleh dr Vireza Pratama, SpJp, SubspIKKv(K), FIHA, FAsCC, FSCA dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa PJK dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau sindrom koroner akut.
“Apabila tidak dikontrol dengan baik, permukaan plak yang tidak stabil dapat menimbulkan bekuan darah di dalam pembuluh darah hingga menutup total pembuluh darah dengan cepat,” tutur dr Vireza.
Serangan jantung sendiri terjadi ketika aliran pembuluh darah arteri koroner mengalami penyumbatan sehingga aliran darah yang membawa oksigen serta zat-zat makanan ke otot jantung terganggu.
Akibatnya, otot jantung pun tidak berfungsi dan menyebabkan kerusakan otot jantung.
Serangan jantung ditandai dengan gejala yang bervariasi, namun yang paling umum adalah nyeri dada dengan sensasi seperti ditekan.
Rasa nyeri dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung dan berlangsung selama lebih dari 20 menit.
Sementara itu, gejala lainnya dapat berupa sesak napas, keringat dingin, mual, muntah, dan pusing.
“Ketika gejala nyeri dada dan sesak napas terjadi, segera duduk tegak, longgarkan pakaian, dan hubungi ambulans atau segera pergi ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat dan cepat,” imbau dr Vireza.
Penanganan pertama serangan jantung dari Mayapada
Apabila serangan jantung terjadi, pastikan Anda pergi ke rumah sakit dengan layanan kegawatdaruratan jantung yang siaga 24 jam seperti layanan Cardiac Emergency Mayapada Hospital.
Layanan ini dapat diakses dengan menghubungi kontak darurat 150990 atau melalui fitur Emergency Call Button pada aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital.
Cardiac Emergency Mayapada Hospital dilengkapi dengan fasilitas laboratorium kateterisasi atau Cath Lab untuk melakukan tindakan penanganan serangan jantung, yakni Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Tindakan tersebut dilakukan saat periode kritis (golden period) pada 90 menit pertama setelah terjadi serangan, untuk membuka sumbatan pembuluh darah koroner, mencegah kematian otot jantung, dan meningkatkan peluang pemulihan.
Hal itu diungkapkan oleh dr. Samuel Sudanawidjaja, SpJP, FIHA, FSCAI dari Mayapada Hospital Surabaya.
“Pada prinsipnya, penanganan secepat mungkin memberikan manfaat paling besar dan meningkatkan survival rate yang lebih baik, karena time is muscle. Semakin lama ditunda, semakin banyak jaringan jantung yang rusak,” tutur dr Samuel.
Mengacu pada penjelasan dr. Samuel, Primary PCI adalah prosedur minimal invasif (minim sayatan) dengan memasukkan kateter melalui lengan ke pembuluh darah koroner.
Setelah kateter masuk, pengembangan dilakukan menggunakan balon pada daerah yang menyempit, diikuti oleh pemasangan stent untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka.
Jaga kesehatan jantung dengan aplikasi MyCare
Cardiac Emergency Mayapada Hospital merupakan bagian dari layanan unggulan Cardiovascular Center Mayapada Hospital yang diketahui telah berhasil mengatasi berbagai masalah jantung kompleks.
Tindakan advanced yang diterapkan seperti, penggantian katup jantung (mitral dan aorta), serta penanganan pembesaran pembuluh darah utama (aneurisma aorta) dengan teknik minimal invasif bernama TEVAR.
Terdapat juga penanganan kelainan akar aorta dan kondisi keluarnya aorta dan katup aorta dari jantung dengan Bentall Procedure, serta bedah jantung untuk menangani penyakit jantung bawaan pada anak-anak seperti Tetralogi of Fallot, ASD dan VSD.
Untuk mendapat penanganan jantung yang tepat, Anda dapat berkonsultasi dengan tim dokter Cardiovascular Center Mayapada Hospital melalui aplikasi MyCare.
Melalui aplikasi ini, Anda dapat mengetahui jadwal praktik tim dokter, membuat jadwal konsultasi, serta booking layanan skrining jantung secara rutin untuk memastikan kondisi jantung Anda.
Aplikasi MyCare juga memungkinkan pasien untuk mendapatkan nomor antrean lebih awal dan kemudahan transaksi layanan melalui berbagai metode pembayaran.
Bagi Anda yang ingin beralih dari sedentary lifestyle, Anda dapat melakukan aktivitas kebugaran yang dapat dipantau melalui MyCare dengan menggunakan fitur Personal Health yang terkoneksi dengan Google Fit atau Health Access.
Fitur tersebut memungkinkan Anda untuk menghitung detak jantung, jumlah kalori terbakar, jumlah langkah kaki, serta Body Mass Index (BMI).
Berbagai informasi kesehatan dan promo layanan dari Mayapada Hospital juga dapat Anda temui dalam fitur Health Articles & Tips.