KOMPAS.com — Biopsi merupakan standar utama dalam menegakkan diagnosis kanker payudara. Melalui prosedur ini, dokter dapat memastikan tingkat keganasan jaringan tumor dengan mengambil sampel jaringan payudara untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
Meski demikian, tidak sedikit perempuan yang merasa ragu atau khawatir saat disarankan menjalani biopsi.
Kekhawatiran tersebut kerap dipicu oleh ketakutan terhadap diagnosis kanker, anggapan bahwa prosedur biopsi menimbulkan nyeri, hingga kekhawatiran akan waktu pemulihan yang lama terutama bagi perempuan dengan aktivitas dan pekerjaan yang padat.
dr. Bayu Brahma, SpB(K) Onk di Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan bahwa biopsi payudara tidak selalu berarti kanker. Justru, dalam banyak kasus, hasil biopsi menunjukkan tumor jinak.
“Namun, biopsi tetap menjadi satu-satunya cara pasti untuk mendeteksi keganasan secara aman. Prosedur ini juga tidak menyebabkan penyebaran sel kanker, seperti yang sering dimitoskan,” ujar dr Bayu dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (1/2/2026).
Ia menambahkan, di Mayapada Hospital Jakarta Selatan yang telah terakreditasi Joint Commission International (JCI), tindakan Vacuum Assisted Breast Biopsy (VABB) telah menjadi salah satu standar prosedur untuk diagnosis tumor payudara.
Seiring kemajuan teknologi medis, biopsi payudara kini dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern melalui Biopsi Vakum Payudara atau Vacuum Assisted Breast Biopsy (VABB). Teknik ini bersifat minimal invasif dengan sayatan yang sangat kecil.
“Metode VABB memungkinkan pengambilan sampel jaringan secara presisi tanpa operasi besar. Dokter akan terlebih dahulu mengidentifikasi area tumor menggunakan alat radiologi, lalu mengambil sampel dengan alat vakum khusus,” jelas dr Bayu.
Teknologi VABB memiliki sejumlah keunggulan bagi pasien, di antaranya luka sayatan yang sangat minimal, nyeri yang sangat ringan bahkan hampir tidak terasa setelah tindakan, risiko infeksi yang lebih rendah, durasi prosedur yang lebih singkat, hasil diagnosis yang lebih akurat, serta pemulihan yang lebih cepat.
Manfaat VABB tidak hanya terbatas pada pengambilan sampel jaringan. dr. Dharmayanti Francisca Badudu, SpB(K) Onk di Mayapada Hospital Bandung menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu, VABB bahkan dapat digunakan untuk mengangkat tumor jinak secara keseluruhan.
“Pada kasus tumor jinak dengan ukuran yang sangat kecil dan kondisi tertentu, VABB dapat sekaligus mengangkat tumor. Dengan demikian, pasien tidak perlu menjalani operasi terbuka atau prosedur bedah yang lebih invasif,” ujar salah satu pionir dokter bedah onkologi perempuan di Indonesia itu.
Prosedur VABB termasuk tindakan lanjutan (advanced procedure) yang belum tersedia di semua rumah sakit.
Layanan tersebut dapat diakses di Oncology Center Mayapada Hospital yang menangani berbagai kasus kanker dengan standar internasional.
Oncology Center Mayapada Hospital didukung oleh tim dokter multidisiplin melalui Tumor Board untuk merancang perawatan kanker yang tepat, serta Patient Navigator berpengalaman yang mendampingi pasien di setiap tahap perawatan.
Sebagai bagian dari inovasi berkelanjutan, Mayapada Hospital Jakarta Selatan juga menghadirkan Mayapada Breast Clinic, layanan one-stop service untuk kesehatan payudara.
Layanan itu mencakup pencegahan, deteksi dini dengan teknologi canggih, seperti 3D mammogram, diagnosis, hingga pengobatan dan perawatan pascaoperasi.
Layanan Oncology Center Mayapada Hospital juga dapat diakses melalui aplikasi MyCare. Aplikasi ini memungkinkan pasien melakukan pemesanan layanan pemeriksaan hingga akses layanan gawat darurat.
Selain itu, MyCare dilengkapi fitur Health Articles & Tips yang berisi artikel kesehatan, serta fitur Personal Health yang terhubung dengan Health Access dan Google Fit untuk memantau jumlah langkah harian, kalori terbakar, detak jantung, hingga indeks massa tubuh (BMI).
Aplikasi MyCare dapat diunduh melalui Google Play Store dan App Store, serta menawarkan berbagai promo dan reward yang berlaku di seluruh unit Mayapada Hospital.