Advertorial

Mengenal Endovascular Coiling, Metode Minim Sayatan Atasi Aneurisma Otak tanpa Bedah Terbuka

Kompas.com - 04/02/2026, 19:27 WIB

KOMPAS.com - Aneurisma otak sering kali dijuluki “bom waktu” kesehatan karena sifatnya yang sering muncul tanpa gejala, namun berisiko pecah kapan saja dan memicu stroke perdarahan yang fatal.

Kabar baiknya, kemajuan teknologi medis kini menawarkan solusi tanpa harus melalui operasi bedah terbuka yang besar.

Salah satu metode unggulan saat ini adalah Endovascular Coiling. Prosedur ini menjadi angin segar bagi pasien karena dilakukan dengan teknik minim sayatan, risiko infeksi lebih rendah, dan masa pemulihan jauh lebih cepat.

Aneurisma Otak sendiri merupakan satu kondisi medis yang terjadi ketika pembuluh darah di otak mengalami pelemahan dan membentuk tonjolan seperti buah beri yang menggantung.

Kondisi ini terjadi akibat penipisan dinding pembuluh darah arteri, terutama pada area pembuluh darah yang bercabang karena dindingnya cenderung lebih lemah, dan berpotensi pecah sewaktu-waktu, mengakibatkan Stroke perdarahan.

Aneurisma otak ini dapat semakin membesar dan berisiko pecah sewaktu-waktu, menimbulkan stroke perdarahan.

dr. Nia Yuliatri, SpBS, Mkes dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menerangkan, “Saat Aneurisma Otak pecah, penderitanya dapat mengalami gejala seperti sakit kepala yang hebat secara tiba-tiba, mual dan muntah, pandangan kabur atau penglihatan ganda, kejang, hingga penurunan kesadaran. Ini merupakan kondisi gawat darurat yang harus ditangani dengan cepat dan tepat.”

Mengenal Endovascular Coiling

Untuk menangani aneurisma otak dan mencegah risiko pecah, terdapat dua pilihan tindakan, pertama, melalui pembedahan terbuka yang dilakukan dengan prosedur clip, yakni dengan menjepit pangkal dari aneurisma dengan tujuan menghentikan aliran darah ke dalamnya. 

Kedua, tindakan intervensi endovascular dengan prosedur Endovascular Coiling yang dilakukan dengan teknik minimal invasif (minim sayatan) sehingga minim risiko infeksi serta proses pemulihan yang lebih cepat dibandingkan prosedur pembedahan terbuka.

“Endovascular Coiling dilakukan di laboratorium kateterisasi (Cath Lab) menggunakan kateter yang diarahkan langsung ke lokasi aneurisma. Selanjutnya, dokter akan memasukkan kawat coil melalui kateter hingga memenuhi kantong aneurisma sehingga darah tidak bisa mengalir masuk ke dalam lagi,” tambah dr. Nia.

Namun, perlu diketahui pula bahwa tindakan advanced Endovascular Coiling yang tepat sangat bergantung pada pengalaman tim dokter spesialis yang terampil dan terlatih seperti yang ada di Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital.

Layanan unggulan milik Mayapada Hospital ini memberikan layanan komprehensif dan berstandar internasional untuk menangani masalah saraf dan otak mulai dari deteksi dini, diagnosis, tindakan neuro intervensi dan bedah saraf, hingga neuro rehabilitasi, termasuk tindakan Endovascular Coiling untuk mengatasi Aneurisma Otak.

Deteksi Dini Kurangi Faktor Risiko

Sayangnya, kebanyakan kasus Aneurisma Otak tidak disadari oleh penderitanya, karena tidak menimbulkan gejala ketika masih berukuran kecil dan belum pecah.

“Apabila aneurisma membesar dan menekan jaringan sekitarnya, penderitanya dapat mengalami keluhan akibat penekanan tersebut. Keluhannya dapat berupa nyeri kepala, gangguan gerak bola mata, gangguan penglihatan dan lain lain,” demikian ungkap dr. Ingrid Ayke Widjaya, SpBS, dari Mayapada Hospital Kuningan.

Mengingat hal tersebut, dr. Ingrid menjabarkan beberapa faktor risiko Aneurisma Otak yang bisa disadari sejak dini.

“Faktor risiko ini seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), rentang usia 30-60 tahun, berjenis kelamin perempuan dan sudah menopause, riwayat cedera kepala, mengonsumsi alkohol berlebih, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga dengan aneurisma otak,” jelas dr. Ingrid.

Itulah mengapa baik deteksi dini sangat penting dilakukan, terutama jika seseorang memiliki faktor-faktor risiko tersebut.

“Deteksi dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan seperti MRI dan MRA untuk mendeteksi aneurisma otak yang belum pecah. Apabila dicurigai ada perdarahan otak, maka pemeriksaan CT scan merupakan pilihan pertama,” jelas dr. Ingrid.

Pemeriksaan pembuluh darah lanjutan, seperti CT Angiografi, MR Angiografi dan Digital Substraction Angiography (DSA) dilakukan untuk melihat gambaran lebih detail mengenai lokasi, bentuk, proyeksi, dan ukuran aneurisma,” tambahnya.

Stroke Emergency Mayapada Hospital

Pemeriksaan komprehensif untuk Aneurisma Otak juga dapat dilakukan di Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital yang memiliki kelengkapan fasilitas medis yang canggih. Pemeriksaan dilakukan oleh tim dokter multidisiplin yang ada di Tahir Neuroscience Center.

Setiap pasien dapat membuat jadwal pemeriksaan dengan mudah melalui aplikasi MyCare milik Mayapada dengan kemudahan transaksi layanan di berbagai kanal pembayaran yang terhubung dengan MyCare.

Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital juga dilengkapi dengan layanan Stroke Emergency yang siaga 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan stroke dengan cepat dan tepat dengan standar protokol internasional Door to Needle kurang dari 60 menit.

Stroke Emergency Mayapada Hospital juga dapat dijangkau dengan menghubungi kontak emergency 150990 atau menggunakan aplikasi MyCare dengan menekan tombol Emergency Call di MyCare.

Masih banyak informasi seputar kesehatan saraf dan otak serta keberhasilan tim dokter Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital yang dapat ditelusuri dalam fitur Health Articles & Tips di MyCare.

Aplikasi MyCare juga memiliki fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, jumlah langkah kaki, jumlah kalori terbakar, dan body mass index (BMI) dengan terhubung ke Google Fit dan Health Access.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau