KOMPAS.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius di Indonesia. Setiap tahun, kasus DBD terus bermunculan, bahkan kerap meningkat hingga memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai daerah.
Pada 2025, data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 131.000 kasus DBD di Indonesia.
Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Anak usia di bawah 1 tahun atau 5-10 tahun menjadi kelompok paling rentan karena berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat.
Merespons fenomena tersebut, Baygon dan Autan menggelar serangkaian kegiatan edukatif serta aksi nyata bertajuk “Lawan Nyamuk Demam Berdarah: Edukasi dan Aksi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat” di berbagai wilayah.
Didukung oleh Kemenkes, kegiatan tersebut diadakan di wilayah Soreang, Sumedang, Tasikmalaya, Antapani, Ujung Berung, hingga puncaknya di Kota Bandung pada Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung dr. Ira Dewi Jani, MT, yang mewakili Wali Kota Bandung.
Dokter Ira Dewi Jani mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Baygon dan Autan yang telah berperan aktif dalam bentuk edukasi dan aksi nyata untuk mencegah DBD di wilayah Jawa Barat.
Lewat pendekatan yang dekat dengan keluarga dan anak, kegiatan edukasi dan aksi nyata tersebut bertujuan untuk mendorong terbentuknya budaya pencegahan DBD yang dimulai dari rumah tangga.
Pada kesempatan itu, Baygon dan Autan turut menghadirkan sesi edukasi serta demo produk bersama para ahli dan Shireen Sungkar untuk memberikan solusi proteksi yang praktis dan efektif.
Gejala awal dan fase kritis DBD
Kerentanan anak-anak terhadap serangan DBD merupakan isu kesehatan yang memerlukan perhatian serius.
Menurut dr Miza Dito Afrizal, SpA, sistem imunitas yang masih berkembang serta tingginya aktivitas di luar rumah meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk pada anak.
Kondisi tersebut membuat kalangan anak-anak lebih berisiko terkena DBD. Selain itu, gejala demam akibat flu dan DBD juga sering kali memiliki kemiripan sehingga orangtua perlu lebih waspada.
“Demam biasa karena flu sering disertai gejala pernapasan seperti batuk dan pilek. Suhu biasanya tidak setinggi DBD, dan umumnya akan membaik dalam beberapa hari. Sementara, DBD ditandai demam tinggi mendadak (bisa 40 derajat Celcius), nyeri hebat (di kepala, belakang mata, otot atau sendi), tanpa gejala flu, serta bisa muncul bintik merah dan mimisan atau gusi berdarah,” ujar dr Miza dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Dokter Miza juga menegaskan pentingnya kejujuran orangtua dalam menyampaikan riwayat demam anak.
Ia menekankan agar orangtua tidak mengira-ngira waktu awal demam, karena durasinya sangat menentukan diagnosis.
“Pada demam berdarah, tanda penghancuran sel darah umumnya baru muncul setelah 72 jam. Oleh karena itu, sebelum periode tersebut, kadar trombosit bisa saja masih normal sehingga diagnosis belum dapat dipastikan,” ujarnya.
Orangtua dapat memberikan pertolongan pertama DBD pada anak dengan memberikan banyak cairan air putih atau oralit, serta kompres air hangat atau dingin untuk menurunkan demam.
Langkah lain yang bisa dilakukan adalah memberikan parasetamol, memenuhi nutrisi anak, menghindari ibuprofen atau aspirin, dan memastikan anak istirahat cukup sembari memantau ketat tanda bahaya, seperti perdarahan, lemas, dan anak semakin rewel.
“Fase kritis DBD itu hari ke-3 hingga ke-5 yang ditandai risiko syok atau perdarahan meningkat. Di fase inilah orangtua perlu waspada. Karena banyak yang terkecoh mengira anak sudah sembuh padahal memasuki fase kritis,” tutur dr Miza.
Dokter Miza menganjurkan untuk segera membawa anak ke dokter jika curiga DBD, terutama saat demam turun setelah tiga hari. Tes darah trombosit dan hematokrit juga disarankan untuk mendapatkan diagnosis pasti.
Pasalnya, keterlambatan penanganan saat memasuki fase kritis atau saat demam turun dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti kebocoran plasma darah yang menyebabkan syok, daya tahan tubuh lemah, faktor usia, infeksi ulang virus, serta faktor lingkungan yang menjadi penyebab anak tidak tertolong.
Rebranding 3M Plus
DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mampu menggigit lebih dari satu orang dalam sehari sehingga meningkatkan risiko penularan.
Untuk menekan angka kasus DBD, Kemenkes menegaskan pentingnya rebranding Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus sebagai tiga langkah wajib yang harus dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga.
PSN 3M Plus tidak lagi dimaknai sekadar kerja bakti, tetapi juga sebagai upaya terstruktur untuk memutus siklus hidup nyamuk dari sumbernya.
Gerakan itu meliputi menguras dan menyikat penampungan air secara rutin, menutup rapat seluruh wadah air, serta langkah “Plus” yang wajib dilakukan.
Beberapa di antaranya termasuk mengeringkan genangan air, memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan pestisida, memasang kawat kasa dan kelambu, menanam tanaman pengusir nyamuk, menggunakan losion anti-nyamuk, serta menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) pada barang bekas yang berpotensi menampung air.
Menurut Ketua Tim Kerja Penyehatan Air, Sanitasi Dasar, Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kemenkes DR drh Sugiarto, MSi, rendahnya partisipasi masyarakat dalam PSN disebabkan oleh kesenjangan pemahaman terhadap pesan 3M Plus.
“Selama ini, PSN kerap dipahami sebatas kegiatan bersih-bersih lingkungan, tanpa fokus utama pada pemberantasan jentik. Padahal, unsur ‘Plus’ dalam 3M adalah keharusan, bukan pilihan,” ujarnya.
Selain faktor perilaku, perubahan iklim yang memicu suhu lebih hangat turut mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
Kondisi pun diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk di wilayah urban sehingga meningkatkan potensi penyebaran virus dengue.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat penerapan PSN 3M Plus secara berkelanjutan demi melindungi keluarga dari ancaman DBD.
Komitmen Baygon dan Autan lawan DBD
Baygon dan Autan merupakan brand andalan keluarga dalam perlindungan terhadap gigitan nyamuk dan serangga. Keduanya menjadi solusi untuk mencegah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan serangga seperti DBD.
Country Director SC Johnson Hasan Hamdan menegaskan komitmen Baygon dan Autan untuk terus melindungi keluarga Indonesia dari DBD. “Itu adalah komitmen kami untuk melindungi keluarga Indonesia dari DBD dengan produk-produk yang aman dan teruji dalam mencegah gigitan nyamuk yang berbahaya seperti Aedes aegypti,”ujar Country Director SC Johnson Hasan Hamdan.
Tak bisa dimungkiri, rumah tangga menjadi garda terdepan dalam pencegahan DBD. Pengalaman pernah terjangkit DBD membuat selebritas Shireen Sungkar yang hadir bersama suaminya, Teuku Wisnu, semakin waspada dalam melindungi keluarganya.
Tidak ingin kejadian serupa terulang pada buah hatinya, Shireen sangat memperhatikan kebersihan lingkungan rumah dan melindungi anak-anaknya dari gigitan nyamuk.
“Selain menerapkan praktik 3M, kami juga melindungi anak-anak dari gigitan nyamuk dengan losion anti nyamuk. Biasanya sebelum tidur saya oleskan Autan agar anak-anak nyaman dan terlindungi. Kami juga gunakan Autan Refresh Spritz karena praktis dan sejuk di kulit, apalagi salah satu anakku ada yang bersekolah di sekolah alam,” ucap Shireen.
Sebagai Brand Ambassador Autan, Shireen mengenal produk brand dengan baik. Baginya, Autan bisa dikatakan sebagai “senjata rahasia” dalam melindungi ketiga anaknya dari risiko DBD.
“Autan adalah langkah praktis namun krusial dalam memutus rantai penularan DBD di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Kegiatan senam bersama sebagai pembuka rangkaian acara ?Baygon & Autan Lawan Nyamuk Demam Berdarah, Edukasi dan Aksi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat?. Sebagai penutup rangkaian acara “Baygon & Autan Lawan Nyamuk Demam Berdarah, Edukasi dan Aksi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat”, serangkaian kegiatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung turut dihadirkan.
Beberapa kegiatan yang diadakan mencakup senam bersama, lomba mewarnai untuk anak-anak, layanan medical check-up (MCU) gratis, hingga aksi donor darah yang bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI).
Beragam kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana edukasi yang menyenangkan, tetapi juga merupakan wujud nyata kepedulian Baygon dan Autan terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.