Advertorial

Menkop Ferry Resmikan Torasera Kubu Raya, Targetkan Jadi Model Nasional untuk Kopdes Merah Putih

Kompas.com - 10/02/2026, 07:48 WIB

KOMPAS.com Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono meresmikan Toko Rakyat Serba Ada (Torasera) Pondok Pesantren Abdusalam di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (9/2/2026).

Torasera itu diproyeksikan sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok serta hub ekonomi rakyat berbasis Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih.

Ferry mengatakan, peresmian Torasera disebut merupakan langkah konkret pemerintah untuk memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, memotong rantai distribusi, serta mendorong penguatan usaha rakyat melalui koperasi.

Melalui skema tersebut, lanjutnya, koperasi pesantren berperan sebagai mitra serta kakak asuh bagi Kopdes Merah Putih, terutama dalam penguatan manajemen, model bisnis, dan operasional usaha.

Torasera juga bukan sekadar toko ritel, melainkan pusat distribusi, agregator, dan hub ekonomi rakyat.

“Lewat kolaborasi ini, kami ingin koperasi mampu membuka lapangan kerja, memperluas pasar produk lokal, memanfaatkan teknologi, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ferry dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin.

Model nasional koperasi berbasis distribusi

Ferry menjelaskan, pengembangan Torasera sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembalikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Pemerintah, imbuhnya, kini hadir lebih aktif dalam mengarahkan praktik ekonomi nasional dengan menempatkan koperasi sebagai instrumen utama ekonomi kerakyatan.

Sebagai bagian dari strategi nasional tersebut, pemerintah menargetkan pembentukan 83.000 Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia.

Namun, Ferry menilai, tantangan terbesar bukan hanya pada pembentukan koperasi, melainkan tahap operasionalisasi agar koperasi mampu berjalan sebagai entitas bisnis yang sehat dan menguntungkan.

Torasera di Kubu Raya pun diproyeksikan menjadi model nasional yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Torasera itu, kata Ferry, akan disusun sebagai model bisnis dan pedoman operasional yang bisa diterapkan di kabupaten dan kota lain.

“Fungsinya tidak hanya menjual kebutuhan pokok dan barang bersubsidi, tetapi juga menjadi off-taker produk petani, nelayan, dan UMKM serta menyalurkan program-program pemerintah agar lebih tepat sasaran,” ungkapnya.

Ia juga menekankan signifikansi keberpihakan pemerintah daerah (pemda) terhadap koperasi, termasuk melalui kebijakan tata kelola distribusi dan ritel. Dengan demikian, manfaat ekonomi koperasi benar-benar kembali ke masyarakat, bukan ke pemegang saham besar.

Dorong ekonomi desa dan cegah jeratan pinjaman ilegal

Ferry melanjutkan, koperasi desa dan Torasera diharapkan menjadi solusi atas berbagai persoalan ekonomi masyarakat desa, mulai dari harga kebutuhan pokok tinggi, rantai distribusi panjang, hingga maraknya pinjaman ilegal.

Melalui koperasi, masyarakat didorong menjadi pelaku ekonomi, bukan sekadar penerima manfaat.

“Kopdes Merah Putih adalah program strategis nasional. Kami ingin menciptakan perputaran uang di desa, menumbuhkan ekonomi lokal, dan pada akhirnya memperkuat perekonomian nasional,” tegasnya.

Ferry pun mengapresiasi Pondok Pesantren Abdusalam, koperasi pesantren, pemda, serta seluruh pihak yang terlibat dalam mewujudkan Torasera pertama tersebut.

Menurutnya, keberhasilan Torasera di Kubu Raya menjadi tonggak penting dalam sejarah baru ekonomi kerakyatan Indonesia.

“(Torasera) ini bukan hanya kebanggaan Kubu Raya dan Kalimantan Barat, melainkan kebanggaan gerakan koperasi nasional,” ujarnya.

Didukung pemda dan pelaku lokal

Pada kesempatan sama, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengapresiasi kehadiran Torasera.

Torasera ini menjadi bentuk eksistensi pengusaha dan pelaku ekonomi lokal di tengah ritel modern yang kian menjamur.

Ia pun berharap, Torasera dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan model serupa.

“Dengan kehadiran Torasera Abdusalam, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi untuk dikembangkan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia,” kata Ria Norsan.

Ketua Pengurus Torasera Abdusalam Anas Al Hifni mengatakan, sekitar 100 kepala desa bersama ketua koperasi desa hadir dalam peresmian tersebut untuk menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama distribusi barang melalui Torasera.

“Kami ingin Torasera menjadi pusat ekonomi bersama. Pesantren bisa menyuplai produk, koperasi desa berbelanja secara grosir, dan UMKM sekitar menjadi tenan,” ujar Anas.

Ia menjelaskan, Torasera Abdusalam tidak hanya berfungsi sebagai pusat belanja, tetapi juga dilengkapi fasilitas pendukung, seperti ATM perbankan, restoran dengan sistem pembayaran nontunai (cashless), hingga pujasera yang diisi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal tanpa dikenakan biaya sewa, listrik, ataupun air.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau