KOMPAS.com – Awal tahun merupakan momentum tepat untuk melakukan refleksi keuangan, apalagi di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang masih bergerak moderat.
Diberitakan Kompas.com, Minggu (25/1/2026), Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen pada 2025 dan 5,1 persen pada 2026.
Angka tersebut masih sedikit di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 5,4 persen. Kendati demikian, pemerintah optimistis, target itu dapat dicapai lantaran punya fundamental ekonomi yang kuat.
Proyeksi dari IMF dan target dari pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia punya stabilitas dan ruang pertumbuhan. Hanya, perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga volatilitas pasar keuangan internasional.
Sejumlah analisis pun menilai bahwa tekanan pada kelas menengah masih terasa, sedangkan pemulihan pasar kerja belum merata, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2019-2024 menunjukkan, proporsi penduduk kelas menengah Indonesia menurun, yakni dari 21,45 persen pada 2019 menjadi 17,13 persen pada 2024.
Pada saat yang sama, konsumsi kelas menengah mencapai sekitar 40 persen dari total konsumsi penduduk Indonesia. Hal ini berarti, kelas menengah punya peran sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tren 2026: Fleksibilitas dan penghasilan yang bisa bertumbuh
Di tengah kondisi tersebut, muncul pula kesadaran baru di kalangan masyarakat Indonesia, yakni bergantung pada satu sumber penghasilan saja semakin berisiko.
Oleh karena itu, tren mencari penghasilan tambahan, pekerjaan fleksibel, hingga peluang usaha pribadi kembali menguat pada awal 2026. Banyak orang mulai mencari peluang yang bisa dimulai tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.
Selain fleksibel, masyarakat juga mencari pekerjaan sampingan dengan penghasilan yang berpotensi tumbuh seiring waktu, memberi kendali atas ritme kerja, serta berpeluang berkembang menjadi bisnis jangka panjang.
Tren itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi pola global. Sebab, masyarakat ingin memiliki lebih dari satu sumber pendapatan untuk memperkuat ketahanan finansial keluarga.
Salah satu peluang karier yang mulai diperbincangkan adalah profesi agen asuransi, khususnya di perusahaan yang memiliki ekosistem pengembangan agen matang, seperti Manulife Indonesia.
Apa itu “Home for Agency” Manulife Indonesia?
Untuk menjawab kebutuhan kalangan kelas masyarakat, Manulife Indonesia memperkenalkan “Home for Agency” sebagai konsep “rumah” bagi dua kebutuhan sekaligus, yaitu bagi pihak yang ingin mendapatkan proteksi bagi diri sendiri maupun keluarga serta bagi pihak yang ingin membangun karier sebagai agen Manulife.
Skema tersebut ditawarkan untuk mereka yang ingin bekerja mandiri ataupun tertarik membangun tim dan bisnis jangka panjang dengan dukungan pelatihan, sistem pendampingan, dan teknologi yang disediakan perusahaan.
Home for Agency juga mengakomodasi dua karakter dalam pengembangan karier. Pertama, bagi seseorang yang nyaman bekerja mandiri dan fokus pada aktivitas penjualan, Manulife menyiapkan fasilitas kantor, pelatihan, serta dukungan alat kerja digital agar aktivitas di lapangan dapat berjalan optimal.
Kedua, bagi individu yang memiliki minat membangun bisnis dan kepemimpinan, Manulife menghadirkan jalur team builder. Dengan demikian, agen dapat berperan sebagai pemimpin tim, mengembangkan anggota tim, dan melakukan pendampingan agar tim bertumbuh.
Selain itu, menjadi agen Manulife juga memiliki sejumlah keunggulan, seperti portofolio produk yang lengkap untuk berbagai kelompok usia (dari bayi hingga lansia), pemanfaatan alat bantu distribusi penjualan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk edukasi dan ilustrasi cepat, hingga klaim model bisnis yang dapat diwariskan hingga 10 generasi.
Saat ini juga menjadi momentum tepat untuk bergabung sebagai agen Manulife. Sebab, bisnis Manulife sedang bertumbuh, seiring dengan peningkatan kebutuhan akan proteksi perencanaan keuangan. Dengan demikian, dukungan kepada agen menjadi prioritas Manulife.
Keagenan Manulife juga memberikan fleksibilitas cara kerja. Agen dapat mengatur sendiri cara dan waktu bekerja sesuai keinginan. Di Manulife, juga terdapat komunitas seru. Hal ini bisa menambah semangat dalam bekerja.
Mengapa relevan untuk 2026?
Di tengah dinamika ekonomi, membangun “mesin penghasilan kedua” dapat menjadi strategi mitigasi risiko, bukan sekadar pilihan.
Manulife menghadirkan Home for Agency untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin mencari sumber penghasilan baru, fleksibilitas kerja yang dapat menyesuaikan ritme keluarga, meningkatkan keterampilan tanpa harus “mulai dari nol” lewat pendidikan formal, serta dapat membangun aset bisnis.
Maka tak heran, profesi agen modern semakin diminati oleh beragam kelompok, mulai dari fresh graduate, pekerja yang ingin beralih jalur karier di tengah perjalanan, hingga ibu rumah tangga yang ingin turut berkontribusi pada finansial keluarga.
Meski begitu, memiliki sumber penghasilan saja belum cukup. Pengelolaan keuangan tetap diperlukan, mulai dari mengatur arus kas, membangun dana darurat, menyiapkan perlindungan bagi diri dan keluarga, hingga memantapkan rencana jangka panjang.
Oleh karena itu, edukasi finansial dan pengembangan diri juga menjadi bagian dari program pengembangan agen Manulife Indonesia.
Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai peluang karier Home for Agency sebagai solusi berkelanjutan, silakan menyaksikan “Podcast BetterYou Project” bertajuk Better Start, Better Life! Strategi Buka Peluang Income Tanpa Batas di YouTube Manulife Indonesia.
Pelajari bagaimana peluang karier itu bisa menjadi langkah baru yang strategis di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Manulife Indonesia berizin dan diawasi oleh OJK.