KOMPAS.com – Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia menunjukkan akselerasi kuat dalam tiga tahun terakhir.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, distribusi EV dari pabrik ke dealer (wholesale) sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 103.931 unit. Angka ini melonjak dari 43.188 unit pada 2024.
Menariknya, kenaikan lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun tersebut terjadi di tengah kondisi industri otomotif yang dinilai mengalami perlambatan.
Sepanjang 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat 803.687 unit. Angka ini mengalami penurunan sekitar 7,2 persen jika dibandingkan 2024 yang mencapai 856.723 unit.
Penjualan dari dealer ke konsumen (retail sales) juga merosot 6,3 persen, dari 889.680 unit pada 2024 menjadi 833.712 unit pada 2025.
Dengan total penjualan 103.931 unit, pangsa EV terhadap total wholesales nasional pada 2025 mencapai sekitar 13 persen.
Bahkan di kuartal empat 2025, pangsa pasar EV meningkat sebesar 18-20%, artinya hampir 2 dari 10 mobil yang terjual adalah EV.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di tengah lesunya pasar kendaraan secara umum, EV bergerak ke arah progresif dan mampu menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan agresif.
Lonjakan 2 tahun terakhir
Jika menilik data Gaikindo terkait penjualan EV pada periode 2020–2025, lonjakan paling tajam terjadi dalam dua tahun terakhir.
Pada 2023, total penjualan EV tercatat 17.062 unit. Angka tersebut melonjak menjadi 43.188 unit pada 2024. Lalu, kembali melesat ke 103.931 unit pada 2025.
Akselerasi itu menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik di Indonesia tidak lagi bersifat gradual, tetapi sudah memasuki fase percepatan.
Lonjakan tersebut terjadi seiring berlakunya insentif fiskal kendaraan listrik berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Investasi Nomor 6/2023 jo Nomor 1/2024 serta peningkatan jumlah model EV yang masuk ke pasar Indonesia dalam dua tahun terakhir.
BYD tampil dominan
Dalam lanskap pertumbuhan EV tersebut, BYD Indonesia mencatat capaian signifikan.
Sepanjang Januari–Desember 2025, BYD membukukan penjualan lebih dari 54.100 unit. Jika dibandingkan dengan data Gaikindo terkait total penjualan BEV nasional yang mencapai 103.931 unit, angka tersebut merepresentasikan sekitar 52 persen pangsa pasar BEV pada 2025.
Perhitungan tersebut sejalan dengan klaim manajemen BYD bahwa perusahaan menguasai lebih dari separuh pasar kendaraan listrik nasional pada 2025.
Test drive BYD M6.Capaian itu terbilang cepat, mengingat BYD baru resmi memasuki pasar Indonesia pada awal 2024. Sejak kehadirannya, BYD tidak hanya menghadirkan satu model, tetapi langsung menempatkan produk di sejumlah segmen strategis.
Pada tahap awal, BYD memperkenalkan tiga lini kendaraan.
Seiring ekspansi, BYD terus memperluas portofolio kendaraannya di Indonesia dengan membawa sejumlah lini produk.
Dengan lini yang mencakup city car, hatchback, SUV, sedan, MPV keluarga, hingga MPV premium, BYD tidak hanya bergantung pada satu ceruk. Strategi ini memungkinkan perusahaan menangkap permintaan yang semakin terfragmentasi, mulai dari pengguna di perkotaan hingga keluarga.
Selain itu, salah satu faktor yang turut mendorong penerimaan pasar terhadap produk kendaraan listrik (EV) BYD adalah pertimbangan biaya kepemilikan.
Diberitakan Kompas.com, Senin (19/1/2026), berdasarkan data internal perusahaan, total biaya kepemilikan salah satu model entry-level, yakni BYD Atto 1, dapat 50–70 persen lebih rendah jika dibandingkan kendaraan konvensional dalam periode penggunaan tertentu.
Teknologi sebagai fondasi strategi
Di balik ekspansi produk tersebut, BYD menempatkan teknologi sebagai diferensiasi utama.
Salah satu pendekatan yang diusung adalah Cell-to-Body (CTB), yakni integrasi baterai sebagai bagian dari struktur kendaraan.
Dengan pendekatan itu, baterai tidak lagi sekadar ditempatkan di bawah lantai, tetapi menjadi elemen struktural yang meningkatkan rigiditas bodi dan efisiensi ruang.
BYD juga mengembangkan e-Platform 3.0 sebagai platform kendaraan listrik generasi baru yang dirancang khusus untuk mobil listrik, bukan adaptasi dari kendaraan berbahan bakar konvensional.
BYD mengembangkan e-Platform 3.0 sebagai platform kendaraan listrik generasi baru yang dirancang khusus untuk mobil listrik.BYD kemudian memadukan platform tersebut dengan konsep 8-in-1 powertrain, yakni integrasi motor listrik, inverter, dan sistem kontrol dalam satu unit yang lebih ringkas dan efisien.
Pendekatan integrasi tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi energi sekaligus memberikan fleksibilitas desain ruang kabin.
Di ranah pengisian daya, BYD juga mengembangkan teknologi pengisian supercepat bernama BYD Megawatt Charging. Inovasi ini terintegrasi dengan teknologi Super e-Platform milik BYD yang merupakan platform new energy vehicle (NEV).
Teknologi Super e-Platform itu menawarkan arsitektur kendaraan bertegangan tinggi hingga 1.000 volt. Platform ini memungkinkan mobil BYD memiliki pengisian daya super cepat hingga 1 megawatt (1.000 kW).
Gabungan inovasi tersebut diklaim BYD mampu menambah jarak tempuh sekitar 400 km hanya dengan pengisian daya sekitar 5 menit
Menuju fase konsolidasi
Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil nasional pada 2026 mencapai 850.000 unit, naik tipis dari realisasi 2025. Proyeksi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar masih bertahap.
Dalam konteks tersebut, pertumbuhan BEV akan sangat bergantung pada kesinambungan kebijakan, kesiapan infrastruktur pengisian daya, serta kemampuan produsen membangun nilai kepemilikan jangka panjang.
Capaian BYD sepanjang 2025 menjadi salah satu indikator bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia telah memasuki fase konsolidasi.
Kompetisi tidak lagi sekadar memperkenalkan model baru, tetapi membangun portofolio yang relevan, memperkuat fondasi teknologi, dan membuktikan kesiapan kendaraan listrik untuk penggunaan harian di pasar yang semakin matang.