Advertorial

Progres Normalisasi Kali Bekasi Capai 10,45 Km, Kapasitas Sungai Naik hingga Q25

Kompas.com - 20/02/2026, 20:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Upaya pengendalian banjir di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) terus digenjot melalui program normalisasi kali dan sungai.

Salah satu fokus utama adalah Kali Bekasi. Selama ini, Kali Bekasi menjadi titik krusial limpasan air dari Sungai Cileungsi dan Cikeas sebelum mengalir ke wilayah hilir.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Dikky Achmad Sidik menjelaskan bahwa proyek pengendalian banjir Kali Bekasi terbagi dalam tujuh paket pekerjaan dengan total panjang sungai sekitar 34 kilometer (km).

Paket 1 menjadi tahap awal yang paling strategis karena mencakup segmen dari pertemuan Sungai Cileungsi–Cikeas hingga Bendung Kali Bekasi.

“Paket 1 dimulai dari pertemuan Sungai Cileungsi–Cikeas hingga segmen Bendung Kali Bekasi sepanjang kurang lebih 11,4 km. Pekerjaan ini terkontrak tahun jamak dari 21 Januari 2021 sampai 31 Desember 2024 dengan output terbangun sepanjang 10,45 kilometer,” ujar Dikky saat dihubungi Kompas.com, Jumat (20/2/2026).

Adapun proyek tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane.

Dengan capaian fisik lebih dari 10 kilometer, lanjut Dikky, normalisasi pada Paket 1 disebut telah menunjukkan progres signifikan meski masih menyisakan sejumlah segmen yang belum dapat dikerjakan akibat kendala pembebasan lahan.

Peningkatan daya tampung

Normalisasi Kali Bekasi dilakukan dengan tujuan meningkatkan kapasitas tampung sungai sehingga mampu mengurangi risiko banjir, terutama saat hujan ekstrem.

Menurut Dikky, dampak konkret dari pekerjaan yang sudah rampung mulai terlihat di sejumlah kawasan.

“Sudah terlihat dampak peningkatan kapasitas sungai dengan adanya pengurangan genangan banjir di daerah sepanjang Kali Bekasi yang sudah dinormalisasi, seperti daerah Kemang Pratama dan sekitarnya,” katanya.

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas tersebut membuat tinggi muka air saat banjir mengalami penurunan ketimbang kondisi sebelum dilakukan normalisasi. Selain itu, durasi genangan juga berkurang secara signifikan.

“Pengurangan genangan banjir terjadi karena kapasitas Kali Bekasi sudah ditingkatkan menjadi Q25 sehingga terjadi penurunan muka air banjir,” ujar Dikky.

Untuk diketahui, desain Q25 berarti sungai dirancang mampu menampung debit banjir dengan periode ulang 25 tahunan. Dengan kapasitas tersebut, risiko banjir pada curah hujan dengan intensitas tertentu dapat dikendalikan lebih baik.

Secara teknis, peningkatan daya tampung Kali Bekasi dapat dilihat dari perbandingan debit sebelum dan sesudah normalisasi.

Untuk segmen hulu, yakni dari pertemuan Sungai Cikeas–Cileungsi hingga Bendung Bekasi, debit banjir existing tercatat sebesar 548 meter kubik per detik. Setelah normalisasi, kapasitas desain Q25 meningkat menjadi 663 meter kubik per detik.

Sementara itu, pada segmen hilir dari Bendung Bekasi hingga pertemuan dengan CBL, peningkatan kapasitas bahkan lebih signifikan. Debit banjir existing sebesar 248 meter kubik per detik melonjak menjadi 747 meter kubik per detik pada desain Q25.

“Adanya peningkatan kapasitas Kali Bekasi tentu akan mengendalikan banjir untuk periode ulang Q25. Jika terjadi hujan di atas kapasitas desain, tetap terjadi pengurangan luasan genangan dengan durasi banjir yang cukup signifikan,” kata Dikky.

Dengan kapasitas yang lebih besar, aliran air dapat bergerak lebih lancar ke hilir sehingga tidak mudah meluap ke permukiman warga. Meski demikian, ia menegaskan bahwa jika curah hujan melampaui kapasitas desain, potensi genangan tetap ada, namun dengan luas dan durasi yang lebih terkendali.

Tantangan di tengah musim hujan

Di balik capaian tersebut, pelaksanaan normalisasi tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu hambatan utama adalah persoalan pembebasan lahan.

“Tantangan dalam pelaksanaan normalisasi Kali Bekasi yang pertama terkait dengan pembebasan lahan. Untuk Paket 1 masih ada segmen yang belum dikerjakan karena terkendala pembebasan lahan,” ungkap Dikky.

Ia menyebutkan, kebutuhan pembebasan lahan mencapai sekitar Rp 4,8 triliun dengan luas total 109,56 hektare. Sementara itu, biaya konstruksi diperkirakan sekitar Rp 4,9 triliun.

Di sisi lain, pekerjaan konstruksi di tengah musim hujan juga menjadi tantangan tersendiri. Tingginya debit air dapat memengaruhi progres pekerjaan, terutama dalam pembangunan tanggul dan perkuatan tebing sungai.

“Tantangan pelaksanaan konstruksi terutama pada musim hujan yaitu tingginya debit air sehingga dapat memengaruhi progres pekerjaan konstruksi,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi, kontraktor menerapkan metode pembuatan kistdam atau tanggul sementara untuk mencegah air masuk ke area kerja. Di sisi lain, aspek keselamatan kerja dan keamanan warga tetap menjadi perhatian utama.

“Dalam hal ini, Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan kerja, warga, dan kualitas konstruksi,” ujar Dikky.

Sebagai informasi, normalisasi Kali Bekasi merupakan bagian dari proyek strategis nasional pengendalian banjir yang juga mencakup Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi.

Oleh sebab itu, pemerintah pusat, provinsi, dan daerah secara konsisten berkoordinasi untuk mempercepat penyelesaian paket-paket yang tersisa.

Normalisasi Sungai Cikeas dan Cileungsi direncanakan mulai berjalan pada 2026 dan saat ini masih dalam proses tender. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian banjir di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor yang menjadi daerah hulu.

Selain pembangunan fisik, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas SDA juga menggandeng Tentanara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) untuk melakukan patroli sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi sejak 2025 hingga 2026.

Langkah tersebut ditujukan untuk mereduksi pelanggaran di sepanjang bantaran sungai, seperti bangunan liar dan aktivitas yang menghambat aliran air.

“Semoga dengan sinergi lintas lembaga dan percepatan penyelesaian paket pekerjaan, risiko banjir di kawasan Bodebek dapat ditekan secara bertahap. Normalisasi bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya dukung sungai terhadap perubahan iklim dan intensitas hujan yang kian ekstrem,” imbuh Dikky.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau