KOMPAS.com - Warga Perumahan Gunung Anyar Harapan, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, Jawa Timur, mengeluhkan kondisi akses utama menuju permukiman mereka yang kian kumuh.
Di sepanjang jalan, terdapat gubuk darurat lengkap dengan kasur dan bantal, tumpukan rongsokan, serta sampah plastik yang dijemur di tepi jalan.
Kondisi tersebut mengganggu kenyamanan serta merusak estetika lingkungan. Apalagi, situasi itu terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri, saat aktivitas warga meningkat.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Laila Mufidah meninjau langsung lokasi pada Senin (23/2/2026).
Laila mengatakan, kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan memerlukan penanganan serius.
“Kasihan warga di Gunung Anyar Harapan. Ini akses utama mereka jadi kumuh, apalagi ini mau Lebaran,” ujar Laila dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (24/2/2026).
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mendesak agar pengembang ataupun Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera mencari solusi konkret. Menurutnya, persoalan lingkungan permukiman tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
“Akses menuju hunian warga terganggu. Harus dicarikan solusi bersama. Kalau memang ini tanggung jawab pengembang, jangan tutup mata. Kalau ini kewenangan Pemkot, ya, harus ditertibkan,” kata Laila.
Berdasarkan pantauan di lapangan, akses utama menuju Perumahan Gunung Anyar Harapan berada tidak jauh dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Rungkut Menanggal.
TPS tersebut berplakat Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, tetapi warga menyebut pengelolaannya dilakukan pihak ketiga.
Ketua RT 04/RW 05 Gunung Anyar Harapan Nendra Yuniar Putra menuturkan bahwa keberadaan TPS dan aktivitas pemilahan sampah di sekitar lokasi sangat mengganggu kenyamanan warga.
“Yang saya tahu, TPS itu tidak di bawah Pemkot, tetapi pihak ketiga. Bagi warga, mau dikelola siapa pun, yang penting jangan mengganggu kenyamanan,” imbuh Nendra.
Menurut Nendra, sampah plastik kerap menumpuk dan dijemur di tepi jalan. Bahkan, di beberapa titik terjadi penumpukan rongsok. Aktivitas pengangkutan sampah juga dinilai terlalu lambat.
“Biasanya sampah baru tuntas diangkut sekitar pukul 09.00. Padahal, sejak pagi warga sudah lalu-lalang berangkat sekolah dan kerja,” kata Nendra.
Warga pun meminta Pemkot Surabaya untuk segera turun tangan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertib, terutama menjelang Lebaran.
“Kami berharap, tepi jalan tidak lagi dijadikan tempat jemur atau tumpuk sampah plastik. Apalagi, ini mau Lebaran. Kami berharap Satpol PP bisa membantu penertiban,” tambahnya.
Menanggapi keluhan warga, Laila menyatakan akan segera berkoordinasi dengan dinas dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkot Surabaya.
Ia menekankan signifikansi langkah cepat agar warga dapat menyambut Lebaran dengan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman.
“Yang paling mendesak, warga harus nyaman menyambut Lebaran. Tidak ada lagi sampah dan rongsokan di tepi jalan, serta pengangkutan sampah harus lebih cepat dan rutin,” ujar Laila.
Ia juga menyoroti keberadaan puluhan gerobak sampah di area TPS yang kerap diletakkan di tepi jalan utama, sehingga memperparah kesan kumuh.
“Mari kita semua mencari solusi bersama. Jangan sampai akses utama permukiman warga tampak seperti kawasan kumuh, apalagi menjelang hari besar keagamaan,” tegasnya.