JAKARTA, KOMPAS.com – Empat tahun terakhir menuju tenggat 2030 menjadi periode krusial bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) di Indonesia.
Dalam fase percepatan ini, pemerintah melakukan berbagai inisiatif mulai dari penguatan di tingkat daerah, kemitraan, hingga peningkatan kapasitas akan SDGs untuk pemimpin-pemimpin dari berbagai sektor.
Salah satunya, melalui platform SDG Academy Indonesia yang dibentuk pada 2019 hasil dari kolaborasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia, dan Tanoto Foundation.
SDG Academy Indonesia fokus pada pengembangan kapasitas individu dan pemimpin lokal melalui program edukasi, seperti SDG Leadership Program dan SDG Mobile Learning Program.
Setelah LIMA tahun perjalanannya, SDG Academy Indonesia pada 2026 memasuki babak baru, yaitu menjadi kepemilikan nasional di bawah Bappenas.
Peluncuran SDG Academy Indonesia di bawah naungan Kementerian Perencanaan PPN/Bappenas dilakukan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Acara tersebut dihadiri Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Plt. Kepala Sekretariat SDGs Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, Head of Policy and Advocacy Tanoto Foundation Eddy Hendry, Sekretaris Jenderal Indonesian Society of Sustainability Professionals Doty Damayanti, serta Chief Executive Officer (CEO) KG Media Andy Budiman.
Pungkas mengatakan, SDG Academy Indonesia pertama kali diluncurkan pada 2019 melalui kolaborasi antara Bappenas, Tanoto Foundation, dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia.
Sejak awal, lanjut dia, akademi tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas pemerintah dan nonpemerintah dalam melokalkan SDGs.
Namun sejak 2025, pengelolaan SDG Academy Indonesia resmi berada di bawah Bappenas dan pada 2026 diluncurkan kembali dengan kepemimpinan baru tersebut.
“Langkah ini menegaskan komitmen (kami dalam) memperluas jangkauan serta memastikan pengelolaan berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” ujar Pungkas, Rabu.
Adapun SDG Academy Indonesia diposisikan sebagai pusat pembelajaran SDGs nasional yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Fokusnya adalah memperkuat kapasitas pemerintah dan para pemangku kepentingan melalui pembelajaran berbasis pengetahuan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi strategis.
Terdapat tiga program utama yang dijalankan. Pertama, program sertifikasi kepemimpinan SDGs selama tiga bulan. Hingga kini, sekitar 250 pemimpin telah memperoleh sertifikat.
“Peserta (program akan) mendapat sertifikat kepemimpinan SDG. Nantinya, program dikembangkan untuk membuat pelatihan SDGs eksekutif tingkat internasional,” terang Pungkas.
Kedua, program pembelajaran daring (mobile learning program) yang dibuka sepanjang tahun dan dapat diikuti masyarakat luas. Program ini telah diikuti lebih dari 26.000 peserta dengan akses ke 15 modul pembelajaran SDGs.
Ketiga, platform berbagi pengetahuan SDGs yang menjadi wadah nasional untuk menghimpun praktik baik dan pertukaran pengalaman implementasi SDGs.
”SDG Academy belum banyak dilakukan di negara lain. Dengan membentuk SDG Academy Indonesia, ada misi internasional dan pelokalan untuk menjangkau berbagai pihak yang belum tahu SDGs,” ujarnya.
Head of Policy and Advocacy Tanoto Foundation Eddy Hendry.Kolaborasi jadi kunci percepatan
Pada kesempatan sama, Eddy menjelaskan, sejak didirikan pada 2019, SDG Academy Indonesia bukan sekadar menghadirkan platform pembelajaran, melainkan juga memperkuat fondasi pengetahuan, kapasitas, dan kolaborasi lintas sektor serta lintas generasi.
Menurutnya, pencapaian SDGs Indonesia sangat positif, yakni di atas rerata global dan Asia Pasifik.
“Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan menjadi bukti komitmen politik, penguatan regulasi, dan keberhasilan integrasi agenda pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan nasional,” kata Eddy.
Menurut Laporan SDGs 2025 yang dirilis PBB, dari 17 tujuan SDGs yang diluncurkan pada 2015, baru 18 persen yang dinilai berada di jalur yang tepat secara global. Sebagian besar target bergerak lambat, bahkan ada yang menunjukkan kemunduran.
Di sisi lain, Indonesia mencatatkan perkembangan yang cukup solid. Laporan Voluntary National Review (VNR) menunjukkan 62 persen target SDGs telah tercapai, atau sama dengan 152 indikator dari 244 indikator total telah terpenuhi.
Eddy menambahkan, pengelolaan SDG Academy Indonesia di bawah Bappenas bertujuan memastikan setiap program terukur dan memberikan dampak nyata.
Akademi ini diharapkan menjadi pusat pembelajaran strategis untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam perencanaan, penganggaran, serta implementasi kebijakan.
Talk show dipandu VP Sustainability KG Media Wisnu Nugroho menghadirkan, Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto, aktris sekaligus gender equality campaigner Hannah Al Rasyid, serta alumni SDG Academy Indonesia Akmal Budiman Maulana.“Target menuju pencapaian SDGs 2030 dipercepat sekaligus juga diselaraskan dengan visi Indonesia Emas 2045,” kata Eddy.
Sementara itu, Doty menilai bahwa pencapaian SDGs 2030 sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia.
Tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya kesenjangan pemahaman tentang keberlanjutan di berbagai sektor.
“Ada ambisi terkait SDGs 2030 yang sisa empat tahun lagi dan pembangunan jangka panjang 2045. Namun, pas bicara eksekusi, butuh peran sumber daya manusia (SDM). Di sini muncul masalah kesenjangan terkait keterampilan, pemahaman, sampai implementasi,” ujarnya.
Karena itu, SDG Academy Indonesia dinilai dapat menjadi sarana untuk mendorong perubahan pola pikir, sekaligus mendukung upskilling dan reskilling dalam rangka memperkuat ekonomi hijau.
Dalam sesi talk show yang dipandu VP Sustainability KG Media Wisnu Nugroho, aktris sekaligus gender equality campaigner Hannah Al Rasyid menyoroti peran perempuan di tingkat akar rumput dalam implementasi SDGs.
Menurutnya, banyak perempuan telah aktif menjalankan praktik keberlanjutan dan memiliki naluri untuk menyebarkan informasi.
“Para perempuan ini bisa menjadi aset dalam mendukung SDGs. Namun, mereka juga menjadi kelompok yang rentan untuk tertinggal karena masalah gender atau relasi kuasa,” kata Hannah.
Adapun alumni SDG Academy Indonesia, Akmal Budiman, mengaku memperoleh manfaat besar sebagai profesional di sektor keuangan setelah mengikuti pembelajaran di akademi tersebut.
Dalam satu angkatan, peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi dan kemudian bersepakat menjalankan proyek nyata penerapan SDGs.
“Kami membantu para kepala sekolah dan guru, waktu itu tergabung dalam Balai Guru Penggerak, di beberapa daerah. Kebanyakan dari mereka belum paham sustainability, tetapi sebenarnya secara praktik sudah melakukan di sekolah. Misal ada yang mewajibkan anak-anak bawa botol minum, cuma tidak tahu itu bagian dari sustainability,” kata Akmal.