KOMPAS.com – Monash University Indonesia secara resmi menjadi universitas asing pertama di Indonesia yang ditunjuk sebagai mitra kampus dalam Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB)—program dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang akan diluncurkan pada Maret 2026.
Program tersebut memberikan akses kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan magister berkelas dunia tanpa perlu bepergian ke luar negeri. Selain memperkuat jaringan, program ini juga dinilai dapat meningkatkan ketersediaan peluang belajar berkualitas tinggi di Indonesia.
Digelar di kampus Monash University Indonesia dalam format bauran, peluncuran program dibuka dengan penandatanganan perjanjian oleh President and Pro Vice-Chancellor Monash University Indonesia Professor Matthew Nicholson dan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Keagamaan Dr Ruchman Basori.
Turut hadir pula jajaran Vice Presidents Monash University, Indonesia, bersama perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu, Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, serta Pusat Pembiayaan Pendidikan Keagamaan Kementerian Agama.
Usai penandatanganan, acara dilanjutkan dengan sosialisasi program BIB secara luring dan daring.
Melalui sesi itu, peserta dijelaskan mengenai tujuan beasiswa, program magister di Monash University, Indonesia, proses pendaftaran, hingga manfaat beasiswa penuh.
Peserta juga diberi kesempatan berdiskusi dengan tim Student Recruitment and Admissions di kampus Monash University Indonesia mengenai pilihan studi dan peluang pengembangan karier di lingkungan akademik dan profesional.
Dengan dimulainya program pada Maret 2026, Monash University Indonesia akan tercatat secara resmi di laman BIB sebagai kampus tujuan.
Adapun penerima beasiswa dapat memilih berbagai program magister di bidang bisnis, seni, teknologi informasi, desain, kesehatan, dan bidang interdisipliner.
Semua program tersebut dilaksanakan dengan standar akademik global. Namun, tetap berakar pada konteks lokal sehingga mampu mendukung aspirasi akademik dan profesional para peserta.
Kontribusi terhadap kemajuan pendidikan nasional
Sebelumnya, Monash University Australia terlibat dalam program BIB hanya sebagai tujuan studi luar negeri. Namun, dengan adanya kemitraan baru, standar internasional, keunggulan akademik, dan pengalaman belajar lintas budaya yang sama kini akan dihadirkan langsung kepada mahasiswa di Monash University Indonesia.
Pada tahap awal (pilot phase), program BIB di Monash University Indonesia akan mencakup seluruh program magister yang tersedia di kampus, dan terbuka bagi pegawai negeri sipil (PNS), akademisi, serta mahasiswa dari institusi berbasis keagamaan.
Inisiatif itu pun memperluas komitmen Monash dalam mengembangkan kapasitas sumber daya (SDM), tidak hanya di sektor publik, tetapi juga di institusi berbasis keagamaan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan pendidikan nasional.
Selama lebih dari empat tahun beroperasi, Monash University Indonesia telah menjadikan kemitraan dengan institusi pendidikan di Indonesia sebagai pilar utama misinya.
Pada 2024, Monash memulai kerja sama dengan sepuluh universitas swasta, lalu memperluasnya ke universitas negeri pada 2025.
Langkah terbaru tersebut diambil guna memastikan agar ribuan perguruan tinggi berbasis keagamaan di seluruh Indonesia terlibat secara strategis dalam jejaring kolaborasi yang menghubungkan keunggulan akademik global dengan prioritas nasional.
Professor Matthew Nicholson menilai, peran perguruan tinggi berbasis keagamaan di Indonesia sangat signifikan. Sejak sebelum kemerdekaan, institusi itu menjadi pilar pembentukan diskursus intelektual, kepemimpinan etis, serta penguatan komunitas.
“Kolaborasi ini adalah langkah penting bagi pembangunan nasional dan penciptaan ekosistem akademik yang inklusif. Kesehatan, lapangan kerja, dan pendidikan adalah kunci bagi komunitas yang sejahtera, dan Monash tidak dapat mewujudkannya sendiri. Kita perlu berkolaborasi. Kami berharap kerja sama ini berkembang hingga jenjang doktoral (PhD) di masa depan,” tutur Professor Matthew dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (2/3/2026).
Sejalan, Dr Ruchman Basori berharap kehadiran Monash University Indonesia dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan akses pendidikan berstandar internasional bagi komunitas akademik berbasis keagamaan tanpa harus ke luar negeri.
“Kementerian akan menyediakan beasiswa penuh untuk program magister, dan kami berharap kemitraan ini dapat berkembang ke jenjang sarjana dan doktor sehingga memberi manfaat bagi guru, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta komunitas kementerian secara luas,” imbuhnya.
Kerja sama dengan pemerintah Indonesia
Sebagai informasi, Monash University Indonesia dibentuk pada 2020 melalui kemitraan antara Monash University dan pemerintah Indonesia untuk mendukung pembangunan sosial, teknologi, serta ekonomi negara.
Monash pun memiliki sejarah panjang kerja sama di Indonesia, termasuk melalui Herb Feith Centre, program Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE), World Mosquito Program, dan Citarum Action Research Program (CARP).
Monash University Indonesia menawarkan program magister dan doktor, pendidikan eksekutif, serta mikro-kredensial yang didukung oleh jaringan kampus internasional Monash di Australia, Italia, Malaysia, China, dan India.
Mulai tahun ini, Monash University Indonesia akan memperluas penawaran pendidikannya ke jenjang sarjana yang dirancang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Dengan demikian, ekspansi diharapkan dapat mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan inovasi bagi bangsa.