KOMPAS.com - Bagi banyak orang, matematika mungkin dianggap sebagai momok menakutkan. Namun, tidak bagi Michelle Angela Mulya.
Bagi Michelle, matematika adalah “bahasa” alam semesta yang mampu menjelaskan fenomena dunia fisik dengan kepastian yang indah.
Ketertarikan itu bukan sekadar kegemaran pada angka. Dari sanalah tumbuh rasa ingin tahu, disiplin, dan keberanian untuk menantang batas diri. Nilai-nilai itu kemudian mengantarkannya menembus bangku kuliah di University College London (UCL), Inggris. Pada tahun pertamanya, ia berhasil mendapatkan IPK 4.0.
Kini, pada tahun keduanya di jurusan Teknik Kimia UCL, Michelle tak hanya dikenal sebagai mahasiswa penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM).
Pada Jumat (27/2/2026), ia menerima penghargaan Class of 1981 Collaborative Prize 2024–2025 atas kepemimpinan dan kontribusinya di lingkungan kampus. Prestasi ini membuktikan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing, bahkan unggul, di panggung pendidikan dunia.
Michelle bercerita, ketertarikannya pada matematika bermula saat duduk di kelas 1 SD. Saat itu, ia sudah merasakan bahwa matematika memberinya rasa aman.
Di tengah dunia yang terasa penuh ketidakpastian bagi seorang anak kecil, matematika selalu menawarkan jawaban yang jelas. Dari sana, ketertarikannya pada Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) pun semakin menguat.
Sejak kelas 4 SD hingga kelas 3 SMA, hampir setiap liburan diisi dengan latihan dan karantina kompetisi. Salah satu momen yang paling membentuknya adalah saat meraih medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika di tingkat sekolah menengah pertama (SMP).
Usai ikut OSN tersebut, ia menyadari bahwa keberhasilan bukan hasil instan, melainkan buah dari disiplin jangka panjang. Sejak saat itu, ia terbiasa memberikan lebih dari yang diminta dalam setiap kesempatan.
Meski demikian, lanjutnya, kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk bisa berhasil. Di ruang kelas Teknik Kimia UCL yang sangat kompetitif, misalnya, hampir semua mahasiswa memiliki kemampuan teknis yang kuat. Pembeda di antara mereka adalah kemampuan soft skills.
“Di tingkat mana pun, kita tidak hanya harus unggul secara akademis, tetapi juga punya kemampuan komunikasi, kerja tim, dan kepemimpinan,” ujar Michelle.
Satu minggu yang menentukan
Michelle mengaku, mimpi kuliah ke luar negeri sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Namun, untuk bisa kuliah di universitas top dunia, nilai tinggi saja tidak cukup. Ia juga membutuhkan beasiswa.
Kesempatan itu datang secara tak terduga. Informasi pendaftaran Beasiswa Indonesia Maju (BIM) baru ia ketahui hanya sekitar satu minggu sebelum tenggat waktu.
Waktu tujuh hari itu menjadi salah satu periode paling menegangkan dalam hidupnya. Michelle harus mengumpulkan ratusan dokumen, merapikan portofolio prestasi, menyusun esai motivasi, serta memastikan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi dengan sempurna.
“Tekanannya besar sekali karena saya tahu pesaingnya juga luar biasa,” kenang Michelle.
Terkait seleksi, Michelle menceritakan bahwa proses tersebut berlangsung sekitar tiga bulan, mulai dari administrasi hingga wawancara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain aspek akademik, ia juga diuji dari aspek kesiapan mental untuk belajar dan beradaptasi di luar negeri.
Setelah lolos, Michelle mengikuti program persiapan selama satu tahun, termasuk pembekalan SAT dan IELTS serta pelaksanaan proyek sosial.
Untuk proyek sosial, ia bersama seorang dokter gigi mengadakan edukasi kesehatan gigi di panti asuhan dan sekolah luar biasa. Pengalaman ini memperluas makna kontribusi baginya.
Dengan disiplin yang sama seperti saat berlatih Olimpiade, ia meraih skor SAT 1500 dan IELTS 8,5 yang membawanya ke University College London.
“Saya percaya selalu ada lebih dari satu jalan menuju mimpi,” ujarnya.
Buah pengalaman organisasi
Sebagai mahasiswa teknik, Michelle tak hanya mengerjakan perhitungan dan analisis. Ia juga harus membuat presentasi profesional, menyusun poster ilmiah, hingga memproduksi video. Kemampuan menyampaikan ide dengan jelas dan menarik menjadi nilai tambah yang signifikan di dunia teknik.
Pengalaman organisasi sejak SMA, termasuk saat aktif di Youth in STEM Indonesia sebagai Head of Aesthetics, membentuk kemampuan desain visual dan kepemimpinannya.
Pada tahun pertama di UCL, ia dipercaya menjadi student representative yang bertugas menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan staf pengajar. Peran ini membuatnya aktif memperjuangkan kualitas pengalaman belajar teman-temannya.
Michelle Angela Mulya saat menerima penghargaan Class of 1981 Collaborative Prize 2024?2025.Sistem peer assessment di UCL, yakni setiap anggota tim saling menilai kontribusi dalam tugas kelompok, turut memperkuat reputasinya sebagai sosok kolaboratif dan berjiwa pemimpin.
Konsistensi kontribusinya ini pun mengantarkannya menerima penghargaan Class of 1981. Ia juga menjadi mahasiswa Indonesia pertama yang menerima penghargaan tersebut.
“Bagi saya, ini sinyal bahwa apa yang saya lakukan sudah berada di jalur yang tepat,” katanya.
Kontribusi untuk Indonesia
Selain aktif di kampus, Michelle juga memiliki pengalaman magang di salah satu perusahaan kimia terbesar di dunia, Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF). Di sana, ia melihat penerapan ilmu teknik kimia di industri dan bisnis global.
Pengalaman tersebut membuka perspektifnya bahwa teknik kimia bukan sekadar ilmu teknis, melainkan penggerak ekonomi dunia.
Sebagai penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk kembali berkontribusi bagi Tanah Air. Ia pun menaruh perhatian besar pada penguatan industri hilir Indonesia.
Menurutnya, hilirisasi memberi nilai tambah ekonomi yang lebih besar ketimbang menjual bahan mentah serta membuka lebih banyak lapangan kerja.
Ia mencontohkan produksi asam sulfat (H?SO?), komponen penting dalam industri pupuk, manufaktur kimia, hingga baterai. Saat ini, Indonesia masih mengimpor dalam jumlah besar. Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya untuk memproduksinya secara berkelanjutan.
“Kita punya sumber daya. Kuncinya adalah memberi ruang dan kepercayaan kepada generasi muda untuk berinovasi,” ujarnya.
Jangan takut gagal
Ia pun memberi pesan kepada generasi muda Indonesia yang ingin berkuliah ke luar negeri dari beasiswa negara.
Perjalanan menuju kampus impian memang tidak selalu mulus. Michelle sendiri mengaku sempat diliputi ketakutan saat mendaftar beasiswa.
Terlebih, persaingan untuk mendapatkan beasiswa penuh di universitas top luar negeri sangat ketat. Namun, ia selalu meyakini bahwa selalu ada lebih dari satu jalan menuju mimpi.
Ia juga memegang prinsip yang selalu ditanamkan sang ayah, yakni menikmati setiap proses, baik yang menyenangkan maupun penuh tantangan. Proses itulah yang membentuk karakter dan ketahanan seseorang untuk meraih mimpi.
“Jangan takut gagal, tetapi takutlah kehilangan kesempatan,” ungkap Michelle.
Kini, di semester empat perjalanannya di UCL, penghargaan yang ia terima di London bukanlah garis akhir. Ia melihatnya sebagai titik awal untuk terus berkembang.