KOMPAS.com – Memasuki usia keempat, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) yang berfokus pada bisnis data center, PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC Group), semakin memperkuat posisinya sebagai Digital Ecosystem Hub melalui akselerasi kolaborasi strategis serta peningkatan kapabilitas layanan sebagai AI enabler.
Langkah itu menjadi respons perusahaan terhadap lonjakan kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan artifisial (AI), serta memperkokoh fondasi kedaulatan data Indonesia di tengah kompetisi infrastruktur digital di kawasan yang semakin ketat.
Chief Executive Officer NeutraDC Group Andreuw ThAF mengatakan, penguatan posisi NeutraDC merupakan refleksi arah strategis perusahaan dalam menghadapi fase pertumbuhan digital berikutnya.
“Empat tahun ini bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum untuk mempertegas peran. Kami membangun infrastruktur yang tidak hanya andal dan aman, tetapi juga siap mendukung akselerasi AI,” ujar Andreuw dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Melalui kolaborasi lintas ekosistem, Andreuw menjelaskan bahwa pihaknya ingin memastikan Indonesia memiliki fondasi komputasi yang kompetitif di tingkat regional. Pasalnya, kebutuhan terhadap AI-ready infrastructure kini dinilai tidak hanya proyeksi jangka panjang, tetapi juga menjadi kebutuhan aktual.
Oleh karena itu, selain memperluas kapasitas, NeutraDC turut mengintegrasikan layanan Colocation, Connect, dan Compute untuk mendukung orkestrasi konektivitas dan komputasi dalam satu sistem terpadu.
“Secara operasional, strategi tersebut diwujudkan melalui integrasi Colocation, Connect, dan Compute dalam satu ekosistem modular yang dirancang adaptif terhadap dinamika teknologi, termasuk pertumbuhan AI, cloud, dan kebutuhan komputasi berkapasitas tinggi,” jelasnya.
Dengan integrasi itu, NeutraDC menempatkan diri bukan hanya sebagai penyedia fasilitas fisik, melainkan sebagai penggerak ekosistem digital yang menyatukan infrastruktur, konektivitas, dan layanan komputasi dalam satu kerangka strategis.
Strategi tersebut berjalan secara paralel dengan ekspansi fasilitas di Jakarta, pembangunan pusat data berskala besar di Batam, serta operasional di Singapura.
Keberadaan operasional di Singapura pun memiliki arti strategis. Pasalnya, negara itu merupakan salah satu hub interkoneksi dan lalu lintas data terbesar di Asia Pasifik.
Selain itu, titik operasional di Singapura juga memungkinkan NeutraDC untuk menghubungkan ekosistem domestik dengan jaringan global secara lebih efisien sekaligus menghadirkan opsi arsitektur hybrid dan disaster recovery lintas negara bagi pelanggan di Indonesia.
Sebagai informasi, NeutraDC Singapore telah memperoleh lisensi Services-Based Operator (SBO) yang memungkinkan perusahaan untuk melakukan resale layanan konektivitas secara resmi, memperkuat aspek kepatuhan regulasi perusahaan di tingkat regional, serta mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Keberadaan fasilitas NeutraDC di luar negeri juga menjadikan perusahaan sebagai operator data center asal Indonesia dengan jejak operasional internasional.
Model tersebut pun menghadirkan sejumlah implikasi strategis, mulai dari peningkatan keandalan melalui redundansi antarnegara, penguatan konektivitas regional, hingga fleksibilitas pengelolaan beban kerja domestik dan global secara bersamaan.
“Posisi ini memberikan nilai tambah berupa konektivitas regional yang lebih kuat, redundansi lintas negara, serta fleksibilitas arsitektur hybrid. Dengan model tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumsi data, tetapi juga bagian dari rantai nilai infrastruktur digital regional,” ucap Andreuw.
Bagi NeutraDC, ketersediaan kapasitas hyperscale dan AI-ready di dalam negeri tidak hanya berdampak pada percepatan transformasi industri, tetapi juga meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi berbasis teknologi.
Untuk itu, memasuki fase pertumbuhan berikutnya, NeutraDC berkomitmen untuk terus melakukan pengembangan infrastruktur secara terukur dan proaktif dengan memperluas jangkauan lintas wilayah serta memperdalam kapabilitas layanan.