KOMPAS.com - Sektor kakao Indonesia memperkuat eksistensinya di pasar global melalui partisipasi strategis dalam perhelatan Chocoa 2026 di Amsterdam, Belanda.
Langkah ini merupakan wujud nyata dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) untuk membawa anggotanya langsung ke jantung pasar Eropa.
Ajang tersebut turut dihadiri anggota Dekaindo, Mohammad Khodim. Ia hadir sebagai representasi petani lokal dalam eksibisi Chocoa 2026 dan membuka booth yang memperkenalkan Borneo Kakao.
Booth tersebut mendapat kunjungan dari Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Bupati Berau Kalimantan Timur, Executive Director International Cocoa Organization (ICCO), dan berbagai perwakilan dari perusahaan cokelat global.
Kehadiran Khodim menjadi langkah krusial bagi pelaku usaha tani untuk menjajaki akses pasar global secara langsung dan memperkenalkan kualitas biji kakao Indonesia kepada para pembeli internasional.
Selain mewakili negara, perwakilan Indonesia juga mengharumkan negara dalam “Cacao of Excellence 2025”. Dalam ajang tersebut, dua sampel biji kakao asal Indonesia sukses menyabet penghargaan dunia.
PT Kudeungoe Sugata (Aceh) berhasil meraih medali emas (gold) dan Minang Kakao (Sumatera Barat) membawa pulang medali perunggu (bronze).
Prestasi tersebut tidak terlepas dari peran Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) yang melakukan kurasi biji kakao dari berbagai daerah sebelum dikirim ke kompetisi tersebut.
Puslitkoka sendiri merupakan salah satu center of excellence yang dimiliki PT Riset Perkebunan Nusantara, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara III (Persero).
Ketua Dewan Kakao Indonesia Dr Soetanto Abdoellah memaparkan, partisipasi kakao Indonesia dalam Chocoa 2026 merupakan momentum penting untuk menunjukkan bahwa kakao Indonesia tidak hanya unggul dari sisi kualitas rasa, tetapi juga siap memenuhi standar keberlanjutan global.
“Penghargaan yang diraih menjadi bukti bahwa kerja keras petani dan seluruh rantai pasok telah menghasilkan produk yang mampu bersaing di tingkat dunia,” tutur Soetanto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Kakao Indonesia raih penghargaan bergengsi di Chocoa 2026.Ke depan, lanjut Soetanto, pihaknya berkomitmen memperkuat aspek ketertelusuran dan kepatuhan terhadap regulasi internasional, termasuk European Union Deforestation-free Regulation (EUDR). Dengan demikian, produk kakao Indonesia semakin dipercaya pasar Uni Eropa.
“Kami optimistis langkah strategis ini akan membuka peluang ekspor yang lebih luas serta meningkatkan nilai tambah bagi para petani di dalam negeri,” tambahnya.
Lebih dari sekadar seremoni, keikutsertaan delegasi Indonesia di Chocoa 2026 membawa misi besar BPDP dan Dekaindo untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah regulasi internasional yang kian ketat.
Misi strategis tersebut meliputi kepatuhan terhadap EUDR dengan memastikan kakao Indonesia memenuhi standar EUDR, yakni ketertelusuran (traceability), guna meningkatkan transparansi rantai pasok dari kebun hingga ke tangan konsumen global.
Selain itu, juga peningkatan ekspor dengan membuka jalur bagi produk kakao berkualitas untuk merambah pasar Uni Eropa secara lebih luas.
Dengan raihan prestasi dan kehadiran aktif petani di panggung internasional, kakao Indonesia dapat terus bersaing sebagai produk premium secara berkelanjutan.