KOMPAS.com – Bulan suci Ramadhan umumnya identik dengan tradisi spiritual, seperti tadarus Al Qur’an, penguatan ibadah, serta refleksi keagamaan.
Namun, Ramadhan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dimaknai secara berbeda. Di sana, bulan suci menjadi momentum refleksi intelektual dan konsolidasi keilmuan.
Melalui program Inovasi, Kajian, dan Riset Akademik Ramadhan (IKRAR) PTKI 2026, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama (Kemenag) RI menghadirkan sebuah ruang akademik nasional untuk mempertemukan gagasan, riset, serta inovasi yang lahir dari kampus-kampus Islam di Indonesia.
Diselenggarakan secara daring selama Ramadhan, program IKRAR sendiri merupakan hasil kolaborasi Diktis Kemenag dengan sejumlah forum akademik strategis di lingkungan PTKI.
Beberapa di antaranya adalah Forum Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit), Forum Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Forum Kepala Pusat Publikasi Ilmiah (PPI), serta Forum Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA).
Tak hanya menjadi mimbar intelektual yang mempertemukan riset, kebijakan, dan praktik akademik, agenda itu juga berperan sebagai ruang konsolidasi gagasan untuk memperkuat peran PTKI sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan keislaman dan multidisipliner.
“IKRAR dapat dipahami sebagai bentuk tadarus akademik. Jika masyarakat pada umumnya melakukan tadarus Al Qur’an selama Ramadhan, maka sivitas akademika PTKI melakukan tadarus gagasan, riset, dan pengalaman ilmiah,” ujar Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Dr Nur Kafid dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (11/3/2026).
Menurut Dr Nur, konsep “tadarus akademik” menjadi simbol penting bahwa Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi keilmuan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam terhadap masyarakat dan peradaban.
Dari diskursus kebijakan ke transformasi akar rumput
Pada 2026, cakupan pembahasan IKRAR mengalami perluasan yang cukup signifikan.
Jika sebelumnya forum tersebut lebih banyak membicarakan tentang kebijakan pendidikan tinggi pada tataran makro, kini pembahasan mulai menyoroti praktik-praktik konkret yang lahir dari riset, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi akademik di berbagai PTKI.
Dengan kata lain, IKRAR turut mengeksplorasi bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan dalam praktik sosial di tingkat akar rumput, alih-alih hanya membicarakan ide besar dan konsep akademik.
“IKRAR tahun ini tidak hanya membahas kajian teoretis, tetapi juga praktik nyata hasil penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk isu gender dan anak,” jelas Dr Nur.
Pendekatan tersebut dinilai sebagai pilar penting. Pasalnya, tantangan terbesar dunia akademik tak hanya terletak pada bagaimana pengetahuan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada kemampuan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Oleh karena itu, IKRAR menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga nasional, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Persatuan Robotika Seluruh Indonesia, serta AI Forum Indonesia.
Dengan demikian, keterlibatan berbagai lembaga tersebut mencerminkan penguatan upaya integrasi antara ilmu keislaman, sains, teknologi, serta kebijakan publik dalam ekosistem pendidikan tinggi Islam.
Paradigma baru pendidikan Islam
Agenda lain yang tak kalah penting dibahas pada IKRAR 2026 adalah mengenai Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)—paradigma pendidikan yang menjadi salah satu program prioritas Direktorat PTKI saat ini.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof Dr phil Sahiron menegaskan, IKRAR bukan sekadar forum diskusi akademik, melainkan ruang strategis untuk membedah dan memperkuat implementasi berbagai kebijakan transformasi pendidikan tinggi Islam.
“IKRAR menjadi wadah untuk mengkaji hasil penelitian yang menjadi ciri khas PTKI. Salah satu program unggulan yang kita dorong adalah Kurikulum Berbasis Cinta yang kini telah diterbitkan dalam bentuk buku ber-ISBN agar dapat segera dimanfaatkan dan diimplementasikan oleh seluruh PTKI,” paparnya.
Buku Materi KBC PTKI. Gagasan KBC sendiri lahir dari refleksi atas berbagai fenomena sosial kontemporer, seperti meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, serta menguatnya fragmentasi identitas dalam masyarakat.
Salah satu penulis utama buku KBC, Prof Abdul Mustaqim, mengatakan bahwa pendidikan tanpa fondasi cinta berisiko melahirkan karakter manusia yang kering secara moral dan emosional.
Senada, anggota tim penulis lainnya, yaitu Prof Muhammad Zainuddin, menjelaskan bahwa paradigma KBC dibangun di atas pendekatan teoantroposentris—keseimbangan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.
Dengan kata lain, paradigma pendidikan tersebut berupaya untuk mengintegrasikan nilai spiritual, kemanusiaan, serta tanggung jawab ekologis dalam dunia pendidikan sehingga dapat melahirkan generasi yang memiliki lima pilar cinta.
Pilar itu mencakup cinta kepada Tuhan, Rasul, sesama manusia, alam, dan tanah air.
Jika diimplementasikan secara konsisten, paradigma tersebut pun memungkinkan Indonesia untuk berkontribusi dalam wacana pendidikan global. Terlebih, di dunia pendidikan yang kini semakin menekankan dimensi humanistic education dan ethics-based learning.
Riset PTKI dan agenda krisis global
Dalam sesi bertajuk “Frontiers of Islamic Research: Inovasi Riset PTKI dalam Merespons Krisis Kemanusiaan, Lingkungan, dan Teknologi”, IKRAR juga menyoroti kontribusi riset lembaga dalam merespons berbagai tantangan global, mulai dari krisis kemanusiaan hingga perubahan iklim dan perkembangan teknologi.
Pada sesi tersebut, sejumlah peneliti mempresentasikan temuan riset inovatif yang menunjukkan kapasitas kampus Islam dalam menghasilkan pengetahuan baru.
Namun, salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah riset energi alternatif yang dikembangkan oleh tim peneliti UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Bermula dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan bencana iklim yang kerap melanda wilayah Aceh, Dr Abd Mujahid Hamdan mengembangkan komponen baterai kendaraan listrik berbasis bahan alami dari tumbuhan melalui skema pendanaan MoRA The AIR Funds.
Inovasi tersebut menunjukkan hasil yang mengejutkan lantaran prototipe baterai yang dikembangkan memiliki kapasitas 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan produk serupa yang tersedia di pasar.
Temuan itu pun membuktikan bahwa riset di lingkungan PTKI tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, riset yang dihasilkan memiliki potensi strategis bagi kemandirian teknologi nasional.
Pengetahuan lokal dan gerakan sosial
Diskursus berikutnya yang mendapat perhatian dalam IKRAR adalah mengenai praktik pengabdian kepada masyarakat yang berbasis pada pengetahuan lokal.
Pada salah satu sesi diskusi, Prof Dr Maghfur dari Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan memaparkan riset dengan topik tentang perempuan di wilayah pesisir yang mengembangkan strategi adaptasi terhadap kerusakan lingkungan melalui praktik kearifan lokal.
Dalam situasi krisis ekologis, perempuan sering kali menghadapi beban ganda, baik secara ekonomi maupun sosial. Namun, melalui praktik-praktik komunitas, kalangan perempuan pesisir justru menjadi aktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Prof Dr Maghfur juga menekankan bahwa nilai lokalitas bukan hambatan bagi kemajuan, melainkan mitra bagi pengetahuan modern dalam menjaga lingkungan.
Selain itu, pendekatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan modern tidak selalu harus menggantikan pengetahuan lokal, tetapi juga dapat berdialog dan saling melengkapi.
Membangun ekosistem publikasi dan kampus berdampak
Mengusung tema “Ekosistem Publikasi Berkelanjutan: Membangun Budaya Menulis, Sitasi, dan Knowledge Impact di PTKI” IKRAR juga mengangkat isu penting mengenai ekosistem publikasi ilmiah di lingkungan PTKI.
Salah satunya seputar peran penting pembangunan budaya akademik yang kuat agar PTKI mampu bersaing di tingkat global.
Meski jumlah publikasi ilmiah dari PTKI kian meningkat beberapa tahun terakhir, publikasi tersebut cenderung hanya berhenti pada angka indeksasi atau sitasi, alih-alih pada dampak nyata terhadap kebijakan publik dan transformasi sosial.
Oleh karena itu, IKRAR turut membahas mengenai hilirisasi riset PTKI sebagai upaya untuk mendorong hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, masyarakat, dunia usaha, ataupun industri.
Dengan begitu, riset tidak hanya menjadi konsumsi komunitas akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembangunan sosial dan ekonomi.
Penguatan posisi dalam peta ilmu pengetahuan global
Secara keseluruhan, penyelenggaraan IKRAR 2026 mencerminkan upaya serius Diktis Kemenag untuk memperkuat posisi PTKI dalam ekosistem ilmu pengetahuan nasional dan global.
Melalui sinergi dengan para peneliti, dosen, lembaga pemerintah, serta mitra industri, PTKI tidak hanya memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat produksi pengetahuan yang mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
Ke depan, program IKRAR diharapkan dapat memperkuat tradisi intelektual di lingkungan perguruan tinggi Islam serta memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang lahir dari kampus tidak terputus dari realitas sosial masyarakat.