Advertorial

Jadi Lentera Pemberdayaan, Transformasi 22,9 Juta Ibu Mekaar Picu Perubahan Sosial Global

Kompas.com - 12/03/2026, 14:57 WIB

KOMPAS.com - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) senantiasa melakukan pemberdayaan perempuan prasejahtera. Selain berdampak pada peningkatan ekonomi individu nasabah, inisiatif ini juga menciptakan perubahan sosial yang lebih luas di tingkat keluarga dan komunitas.

Pemberdayaan perempuan pada sektor ultramikro sejatinya adalah proses menyalakan lentera kecil di tengah masyarakat. Lentera tersebut menjadi simbol harapan sekaligus kekuatan bagi perempuan untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka.

Sejak berdiri pada 1999, PNM berkomitmen memberikan akses pembiayaan sekaligus pendampingan bagi pelaku usaha ultramikro, khususnya perempuan prasejahtera.

Melalui layanan PNM Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dan Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM), perusahaan tidak hanya menyalurkan modal usaha, tetapi juga memberikan pelatihan, pendampingan, serta pembinaan karakter usaha, seperti disiplin, kejujuran, dan kerja keras.

Hingga kini, program PNM Mekaar telah menjangkau lebih dari 22,9 juta nasabah yang tergabung dalam sekitar 909.000 kelompok perempuan di seluruh Indonesia.

Layanan tersebut hadir di 36 provinsi, 451 kabupaten/kota, dan 6.165 kecamatan. Sebaran ini sekaligus menjadikan PNM sebagai salah satu penggerak inklusi keuangan terbesar di segmen ultramikro.

Dalam agenda Iftar PNM Bersama Media: Lentera dalam Makna, Sekretaris Perusahaan PNM L Dodot Patria Ary memaparkan bahwa dampak pemberdayaan tidak semata diukur dari angka.

“Perempuan yang sebelumnya hanya berjuang untuk bertahan hidup kini mulai berperan sebagai penggerak ekonomi keluarga bahkan komunitasnya,” ungkap Dodot dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (12/3/2026).

Dalam proses pemberdayaan tersebut, PNM menyaksikan lahirnya kepemimpinan perempuan dari akar rumput. Di setiap kelompok Mekaar, terdapat ketua kelompok yang menjadi penggerak bagi anggota lainnya.

Mereka belajar mengorganisasi pertemuan, menjaga kedisiplinan kelompok, serta memastikan seluruh anggota dapat berkembang bersama.

Peran itu secara tidak langsung membentuk kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas. Selain penggerak usaha kecil, para ketua kelompok juga menjadi panutan yang menumbuhkan solidaritas, gotong royong, dan kemandirian ekonomi di lingkungan mereka.

Dampak pemberdayaan ini semakin kuat dengan hadirnya ekosistem Holding Ultra Mikro yang mengintegrasikan layanan PNM, BRI, dan Pegadaian. Melalui ekosistem ini, nasabah memiliki kesempatan untuk naik kelas dengan akses ke berbagai layanan keuangan yang lebih luas.

Dodot menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan memiliki efek berantai yang jauh melampaui peningkatan ekonomi individu.

Ketika seorang ibu mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan, ia tidak hanya mengembangkan usahanya, tetapi juga merubah kehidupan keluarga, pendidikan anak-anak, hingga dinamika ekonomi di lingkungannya.

“Inilah yang kami sebut sebagai multiplier effect dari pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Menurut Dodot, PNM meyakini bahwa perempuan merupakan salah satu kunci penting dalam pembangunan ekonomi akar rumput.

Ketika perempuan diberdayakan, mereka tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, tetapi juga menciptakan jaringan solidaritas sosial yang kuat di masyarakat.

“Karena itu, PNM tidak sekadar menyalurkan pembiayaan, tetapi membangun ekosistem pemberdayaan yang memungkinkan para ibu terus berkembang dan memberi dampak bagi sekitarnya,” tutur Dodot.

PNM percaya bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Seperti lentera yang mungkin tampak sederhana, cahaya tersebut mampu menerangi jalan yang panjang ketika dinyalakan bersama-sama,

Melalui jutaan perempuan nasabah Mekaar, lentera-lentera pemberdayaan itu kini terus menyala dari desa-desa di seluruh Indonesia guna membawa harapan baru bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau